
"Udah selesai, gue mau balik," kata Raymond pada Alisha. Raymond mengusap peluh di dahi dengan tangannya yang kotor. Alisha pun tertawa dibuatnya.
Lalu gadis itu mengambil tissu yang ada di dalam tasnya. Kemudian ia mengusapkan tissu itu pada dahi Raymond. Raymond tersentak kaget saat tangan Alisha menyentuh dahinya.
"Biar aku saja," ucap Raymond. Alisha menatap mata Rayamond tapi Raymond mengalihkan pandangannya saat mata mereka bertemu.
"Kamu harus pulang aku juga akan kembali ke kantor," Raymond memasuki mobil kemudian meninggalkan Alisha.
Gadis itu menghentakkan kakinya kesal setelah Raymond pergi meninggalkannya sendiri. "Dasar laki-laki breng*sek gak tahu terima kasih," umpatnya kesal.
...***...
Sesampainya di kantor DR Art tempatnya bekerja, Raymond hendak mampir ke toilet tapi seseorang memanggilnya.
"Raymond," panggil Raya. Raymond pun menoleh
"Ada apa Ray?" tanya Raymond yang melihat Raya berlari.
Raya mengatur napas lalu bicara pada Raymond. "Elo kemana aja sih? Handphone ditelepon kok gak aktif?" sungut Raya.
"Elo dalam masalah besar, dicariin Pak Leon tuh," kata Raya memberi tahu.
"Sorry, ban mobil gue kempes di jalan dan gue harus ganti sendiri, emangnya ada apa?"
"Masuk aja dulu, cepet sana!"
Raymond pun masuk ke dalam ruangan Leon. "Ada apa Pak?"
Leon menoleh. mengirim kembali berkas yang dikembalikan dari perusahaan Antoni. "Mengantarkan berkas begitu saja tidak becus," cibir Leon.
__ADS_1
Raymond berjongkok lalu mengambil berkas yang berserakan itu. "Saya tidak mengerti Pak," kata Raymond.
Brak
Leon menggebrak meja sehingga membuat raymond tersentak kaget. "Kamu tahu tidak itu merupakan dokumen penting dari perusahaan kita. Bagaimana ceritanya bisa tertukar?"
Raymond masih mencerna omongan Leon. "Saya hanya melakukan sesuai apa yang Anda perintahkan Pak," Raymond membela diri.
Leon mengepalkan tangan untuk menahan amarahnya. Rahangnya mengeras ketika mendengar ucapan Raymond. "Kamu masih tidak mau mengakui kesalahan kamu? sudahlah berhenti bekerja saja! Aku tidak mau mempekerjakan orang yang tidak becus dalam bekerja."
"Tunggu, Pak. Beri saya kesempatan untuk membuktikan kalau itu bukan kesalahan saya."
Leon menoleh. "Lakukan saja apa maumu! Aku tidak peduli."
Bahu Raymond meluruh. Ia mengepalkan tangan karena menahan emosi. "Aku tidak bisa tinggal diam aku harus membuktikan pada Leon kalau aku tidak bersalah," gumam Raymond.
Raymond pun mendatangi bagian keamanan perusahaan tersebut. "Pak bisakah saya melihat CCTV 2 jam yang lalu?" pinta Raymond.
"Maaf anda siapa? CCTV di sini tidak boleh sembarangan diperlihatkan pada seseorang," tolak bagian keamanan tersebut.
"Tapi saya membutuhkan rekaman CCTV tersebut karena saya ingin membuktikan kalau saya tidak bersalah. Ada kejadian penukaran dokumen yang saya bawa ketika saya berada di meja resepsionis, Pak. Tolong izinkan saya melihat CCTV itu." Raymond bersikeras.
"Tidak bisa, tanpa seizin dari atasan kami tidak bisa mengabulkan permintaan anda."
Lalu Antoni yang baru keluar dari gedung melihat keributan di luar sana dari kejauhan ketika ia akan memasuki mobilnya. Antoni berjalan mendekat ke arah keributan itu terjadi. "Ada apa ini?" Antoni menoleh pada Raymond. "Bukankah kamu pegawai dari perusahaan DR Art? Ada urusan apa lagi? Saya sudah mengembalikan dokumen yang kamu kirim tadi."
"Pak sebenarnya dokumen itu telah ditukar oleh seseorang tapi saya tidak tahu. Kejadiannya ketika saya berada di meja resepsionis."
"Bagaimana kamu bisa berspekulasi kalau kejadian itu terjadi di perusahaan saya?" tanya Antoni.
__ADS_1
"Karena saya hanya berhenti di meja resepsionis, Pak. tolong beri saya kesempatan untuk melihat rekaman CCTV 2 jam yang lalu. Saya janji setelah ini saya akan pergi." Raymond mengiba.
Antoni menghel napas panjang. "Baiklah, perlihatkan rekaman yang dia mau!" perintah Antoni pada bagian keamanan.
Lalu bagian keamanan mulai memutar rekaman yang Raymond inginkan. Mereka melihat seseorang menukar dokumen ketika Raymond sedang sibuk bermain dengan ponselnya.
"Saya mengakui kalau ada seseorang yang menukar dokumen kalian tapi itu juga bagian dari kesalahan kamu yang lalai." Antoni meninggalkan ruangan sempit tersebut.
Raymond menyadari kesalahannya tapi dia tetap ingin memperlihatkan rekaman tersebut pada Leon.
"Pak saya membawakan rekaman dari CCTV perusahaan Pak Antoni yang memperlihatkan seseorang telah menukar dokumen yang saya bawa." Raymond menyerahkan sebuah flashdisk pada Leon.
Leon memutar flash disk tersebut melalui laptopnya.
Brak
Leon kembali menggebrak meja. "Apa ini kamu tidak fokus dalam bekerja. Kamu sibuk dengan handphone-mu sendiri, pantas saja kamu tidak tahu kalau ada yang menukar dokumen penting itu."
"Maaf, Pak. Saya akui saya salah tapi beri saya kesempatan yang kedua, Pak. Saya janji akan menggunakan kesempatan yang Bapak berikan kepada saya saya mohon!" Raymond memelas.
"Kamu tidak usah menganggap diri kamu istimewa hanya karena kamu adalah kekasih adik saya. Saya akan tetap menghukum kamu karena saya tidak mau rugi. Mulai besok kamu hanya akan menjadi OB di perusahaan ini." Leon pergi setelah berkata panjang lebar pada Raymond.
Raymond tidak bisa menolak hukuman yang diberikan oleh Leon. Ia akan menjalani hukuman tersebut. Setidaknya Leon tidak menuntut dirinya ke pengadilan.
Leon keluar menemui sekretarisnya, Raya. "Mulai besok Raymond hanya akan menjadi OB di perusahaan ini. Bilang itu kebagian HRD," perintah Leon pada Raya.
"Baik, Pak." Raya mengangguk paham.
Leon memilih keluar untuk menenangkan pikirannya. Ia ingin mengajak kekasihnya makan di luar siang ini. Ia pun memasuki mobil kemudian melajukan mobil mewah yang ia kendarai dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1