
Hari ini Nuna akan mengirim banyak tanaman hias ke rumah sakit dimana Citra bekerja sesuai permintaannya kemaren.
Sebenarnya Nuna malas sekali menginjakkan kakinya di kota. Ia hanya takut bertemu dengan Leon. Ngomong-ngomong sudah seminggu Leon tidak mengganggunya. Ah kenapa dengan dirinya,apa yang diharapkan dari Leon."Ini gak bener," Nuna menggeleng cepat untuk mengusir pikirannya.
Tiba-tiba saat ia akan menemui Citra sahabatnya di rumah sakit tempatnya bekerja,Nuna tak sengaja berpapasan dengan Leon di parkiran mobil.
Nuna yang baru turun dari taxi tak sengaja bertemu pandang dengan Leon yang juga baru turun dari mobilnya. Tapi dengan cepat Leon mengalihkan pandangannya.Nuna mengerutkan keningnya. Ada apa dengan laki-laki itu? Padahal beberapa hari yang lalu ia masih mengejarnya.
Tak lama setelah Leon turun,Ariana juga ikut turun dari mobil. Apakah karena ada ibunya maka Leon bersikap acuh padanya? pikir Nuna.
Nuna pun kembali pada tujuannya untuk menemui Citra. Ia ingin memberikan laporan bahwa ia sudah mengirimkan pesanan yang ia minta.
"Syukur deh pesenan udah datang tepat waktu nanti biar diurus bagian pertamanan,"kata Citra.
"Thanks ya Cit buat kerjasamanya,"
__ADS_1
"Harusnya gue yang bilang kek gitu,oh ya lo buruan balik gih,gue gak mau lo ketemu Safira atau bokapnya," saran Citra pada sahabatnya.Nuna mengangguk.
Selanjutnya Nuna pun menunggu taxi agar dirinya bisa pulang ke tempat tinggalnya yang lumayan jauh dari tumah sakit tersebut.
Tanpa diduga mobil Leon lewat di depan matanya. Lagi-lagi Leon tak menyapanya."Hah,ada apa denganku kenapa aku mengharapkan Leon lagi,gak gak ini gak bener," Tak lama setelah ia sibuk dengan pikirannya,taxi yang ia pesan pun datang. Nuna kembali ke tempat tinggalnya yang sekarang.
Satu setengah jam perjalanan dia tempuh tanpa mengalami kemacetan karena ia pulang bukan di saat jam pulang kerja jadi jalanan masih lancar meskipun ramai.
Nuna mengambil map coklat yang diberikan oleh Safira kemaren."Apa yang harus aku lakukan dengan map ini?" pikiran Nuna sedang kalut antar menerima atau menolaknya.
Kalau dia menolak rugi sekali karena rumah dan toko itu adalah peninggalan orang tuanya. Kini menjadi miliknya kembali setelah berhasil dibeli oleh Leon.Namun kalau ia menerima tentu saja harga dirinya dipertaruhkan. Nuna tidak mau kalau Leon mengharapkan imbalan darinya.
Kemudian Nuna mengambil handphone miliknya dan menghubungi Leon. Ia ingin bertemu dengan Leon untuk memgucapkan terima kasih. Ya,hanya itu dan tidak lebih.
Sayangnya Leon tak mengangkat telepon dari Nuna. Wanita itu juga mengirimkan pesan singkat ke nomor Leon tapi Leon tak juga membacanya.
__ADS_1
"Ada apa dengannya kenapa dia tiba-tiba berubah?" gumam Nuna yang tak habis pikir dengan sikap acuh Leon pada dirinya.
Keesokan harinya Nuna sengaja mendatangi kantor Leon. Ia membawa makanan untuk Leon yang ia masak sendiri. Itu sebagai ucapan terima kasihnya pada laki-laki yang pernah menjadi kekasihnya itu. Meski tak seberapa setidaknya ada niat baik Nuna untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya.
"Bisa bertemu dengan pak Leon?" tanya Nuna pada resepsionis yang ada di lobi kantor milik Leon.
"Maaf dengan siapa? apa anda sudah bikin janji dengan direktur?" tanya resepsionis itu.Nuna menggeleng."Bilang saja Nuna ingin bertemu," kata Nuna
"Baik saya akan menyampaikan pada sekertaris beliau," jawab resepsionis itu.
Nuna masih menunggu kabar dari resepsionis yang sedang melakukan panggilan dengan Raya. Tiba-tiba suara deheman membuatnya menoleh.
Ehem
"Kamu sedang apa di sini?"
__ADS_1
...❤️❤️❤️...
Yuk ramaikan grub chat othor, kalian juga bisa sumbangin ide cerita kalian kalau mas ilham lagi ngambek.