
Zoya membawa adiknya masuk ke dalam rumah. Ia berjalan dengan mengendap-endap agar tidak ada yang melihat Alisha mabuk. Zoya tidak mau Leon murka sama seperti kejadian waktu itu.
Zoya membaringkan Alisha di tempat tidurnya. Ia melepas sepatu dan mengganti baju adiknya itu agar tidak bau alkohol.
Lalu Zoya menyelimuti tubuh Alisha. Setelah ia mematikan lampu, Zoya keluar dari kamar adiknya.
"Zoya darimana?" Tanya Leon yang sedang mengambil minum di dapur.
"Owh itu aku habis ngembaliin bukunya Alisha, Bang." Zoya berbohong.
"Ini kan sudah lewat tengah malam," kata Leon setelah mengecek jam dinding.
"Iya, aku habis pinjam novel dia karena aku nggak bisa tidur, tapi Alisha udah pesen sebelum minjemin aku tadi buat ngembaliin bukunya hari ini juga, soalnya buku itu mau dikembalikan ke perpustakaan kampus katanya." Zoya berharap alasannya itu tidak menimbulkan rasa penasaran Leon.
"Ya sudah kembalilah ke kamarmu! Ini sudah malam."
"Ya, Bang."
Zoya pun bisa bernapas lega setelah melewati pertanyaan abangnya. Gadis itu masuk ke dalam kamar dan naik ke ranjang untuk beristirahat.
Keesokan harinya Alisha terbangun saat sinar matahari yang masuk melalui sela-sela jendela kamarnya itu mengenai wajahnya. Ia menutup matanya yang silau dengan telapak tangannya.
Alisha merasakan pusing ketika ia mencoba bangun. Gadis itu mengingat-ingat kembali apa yang terjadi semalam.
Ia heran ketika melihat pakaiannya sudah terganti. Namun, ia sama sekali tidak ingat siapa yang mengganti pakaiannya.
Alisha menurunkan kakinya dari atas ranjang lalu ia menuju ke kamar mandi. Gadis itu merasa lebih segar setelah mengguyur kepalanya dengan air.
Sementara itu semua keluarga sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan. Kali ini Leon berangkat lebih siang dari biasanya.
__ADS_1
"Alisha semalam kamu pulang jam berapa?" Tanya Leon ketika adik bungsunya itu baru duduk di meja makan.
"A-aku tidak ingat kak." Alisha berkata jujur.
"Besok-besok jangan pulang terlalu malam, ingat bahaya selalu mengincar wanita." Leon menasehati.
"Bang, aku berangkat dulu ya," pamit Zoya. Ia bersalaman dengan papanya lalu pada Leon dan Nuna.
"Aku juga kak." Alihsa menyusul Zoya. Ia tak mau mendapat banyak pertanyaan dari Leon.
Alisha berjalan menyamai langkah kakaknya. "Kak apa semalam kakak yang mengganti bajuku?" Tanya Alisha sedikit ragu.
"Iya, untung saja nggak ketahuan abang," akunya.
Alisha merasa tersentuh. Kakaknya baik sekali meski dia selalu membantah omongannya. "Terima kasih," ucap Alisha dengan lirih. Zoya hanya membalas dengan senyuman tipis.
"Kakak nggak mau bareng aku?" Alish menawarkan tumpangan.
Alisha memang memiliki mobil hasil menodong kakaknya. Berbeda dengan Zoya. Meski Leon ingin membelikanya mobil sendiri tapi Zoya menolaknya dengan alasan dia akan membeli mobil dengan uang hasil jerih payahnya sendiri.
Alisha merasa tidak enak pada kakaknya. Ia sudah sering membencinya tapi Zoya seakan tidak pernah merasa tersakiti.
Alisha pun mengendarai mobilnya menuju ke kampus. Leon menyusul kemudian. "Hati-hati di jalan, Suamiku." Nuna mengantarkan suaminya sampai keluar.
Leon mengecup kening istrinya itu singkat lalu masuk ke dalam mobil. Setelah kepergian suaminya, Nuna ingin mengajak ayah mertuanya keluar.
"Pa, bagaimana kalau kita mengunjungi makam mama?" Nuna berpendapat.
"Baiklah, aku hampir melupakan dia." Nando bersiap-siap begitupun Nuna. Ia nerganti pakaian untuk pergi ke makam ibu mertuanya. Mereka berangkat menaiki taksi online.
__ADS_1
Sesampainya di area pemakaman, Nando langsung terduduk dan menangis di atas pusara istrinya.
Sudah sangat lama mereka tidak bertemu sejak keduanya bercerai. "Maafkan aku yang baru datang menjengukmu," ucap Nando dengan nada bergetar.
Nuna membiarkan ayah mertuanya itu. Ia tahu Nando begitu merindukan mantan istrinya.
"Kenapa kita harus bertemu saat kita sudah berpisah alam seperti ini?" Katanya di sela-sela tangisannya.
Nuna berjongkok menyamakan tingginya dengan tinggi Nando. "Pa sudah, Pa. Ikhlaskan mama!" Nuna memberi saran agar ayah mertuanya lebih tenang.
Nando mengusap air matanya. "Tenanglah disana! Aku janji akan menjaga anak-anak," ucaonya sebelum pergi meninggalkan makam mantan istrinya.
"Terima kasih audah mengajakku kesini." Nando berkata dengan tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Mari kita pulang!" Ajak Nuna. Mereka kembali ke rumah dengan menaiki taksi yang sudah Nuna pesan melalui aplikasi.
Namun, di tengah perjalanan Nuna bertanya pada Nando adakah tempat yang ingin dia kunjungi. Nando menjawab tidak ada.
...***...
Sementara itu di kantor Leon, keadaan kantor sedang tidak baik. Setelah dikumen penting dicuri, ide-ide mengenai iklan yang akan dibuat juga diretas oleh perusahaan lain. Para klien menjadi tidak percaya lagi pada perusahaan Leon.
Mereka membatalkan kontrak kerjasama secara sepihak. Perusahaan Leon diambang kebangkrutan.
"Arrgh... Bagaimana ini bisa terjadi? Raya cepat cari tahu penyebabnya!" Perintah Leon pada sekretarisnya.
"Baik, Pak."
"Kurang ajar, siapa yang berani mencuri ide-ide perusahaanku?" gumam Leon sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1