
"Ehem"
Suara deheman itu membuat Nuna menoleh.
"Kamu sedang apa?" tanya wanita paruh baya yang Nuna kenali.
"Saya hanya ingin memberikan makanan ini untuk Leon," jawab Nuna meskipun ragu ia hanya ingin jujur.
Ariana mengerutkan keningnya."Leon tidak butuh makanan kampung seperti itu," cibir Ariana.
"Lagipula untuk apa kamu cari perhatian dengan Leon,jangan bilang kamu ingin merebutnya dari Safira," tuduh Ariana.
Perkataan ibu-ibu itu memancing emosi Nuna."Nyonya sebenarnya apa anda sadar siapa yang merebut siapa?" kata Nuna tak mau kalah.
"Saya memang mengalah waktu itu,saya pikir dengan mengikhlaskan Leon bersanding dengan Safira laki-laki yang saya cintai akan bahagia apabila menuruti kemauan orang tuanya,karena saya yakin orang tua akan memikirkan hal terbaik untuk anaknya,ternyata saya salah,nyatanya apa? Leon tidak bahagia kan dengan pilihan anda?" Nuna berbalik memojokkan ibunda Leon.
__ADS_1
"Lancang kamu," Ariana melayangkan tangannya untuk memukul Nuna tapi gadis itu menepis tangan wanita tua itu.
"Kalau anda mengira saya ini wanita lemah anda salah, jangan melihat covernya saja, lihatlah isinya juga," Nuna pergi setelah berhasil membuat Ariana geram.
Leon diam-diam mengamati dari ruangannya melalui CCTV yang terhubung dengan laptopnya.Ia menarik ujung bibirnya saat melihat mantan kekasihnya itu berani melawan ibunya.
"Raya bisa ke ruangan kamu sebentar," Leon memanggil sekertarisnya melalui sambungan telepon intern.
Tak lama kemudian Raya masuk."Ada yang bisa saya kerjakan pak?" tanya Raya pada atasannya.
Pak Amir mendapatkan laporan dari bawahannya kalau sang menantu ingin makan siang dengannya hari ini.
"Kenapa dia tidak menghubungiku secara langsung," pak Amir sangat girang pasalnya Leon tidak pernah mengajaknya makan bersama selama ini. Apa dirinya ingin mengakrabkan diri dengan mertuanya? pikir pak Amir.
"Maaf menunggu lama," kata Leon yang baru saja sampai di restoran tempat mereka bertemu.
__ADS_1
"Tidak masalah,pesanlah apa saja yang ingin kau makan, aku yang traktir," kata Pak Amir sambil tersenyum.
"Saya hanya ingin memberikan ini," Leon menyodorkan sebuah amplop coklat.
"Apa ini?" tanya pak Amir yang penasaran dengan isinya. Ia pun membukanya tapi ia seperti mendapat sambaran petir di siang bolong saat melihat foto putrinya bersama pria lain.
"Inilah alasan saya ingi menceraikan Safira, dia tega berkhianat pada saya padahal selama ini saya sudah memenuhi kebutuhannya," Leon berakting layaknya korban.
Pak Amir menggebrak meja. Ia tak percaya dengan semua perkataan menantunya itu."Aku yakin ini hanya editan foto," elak pak Amir.Leon menarik ujung bibirnya.
Leon menggeleng lemah."Itu foto asli yang saya dapat dari informan terpercaya saya, jadi tolong kali ini biarkan saya berpisah dengan Safira.Saya akan menyerahkan putri bapak secara baik-baik," mohon Leon. Kali ini ia membujuk pak Amir agar ia menyetujui usulannya. Leon tidak mau bertindak kotor jadi ia menunggu waktu untuk melepaskan Safira dengan lasan yang tepat.
Wajah pak Amir memerah.Darahnya mendidih karena terbakar emosi. Ia tidak menyangka putinga bisa berbuat hina hingga mencemarkan nama baik keluarganya.
"Kau tak perlu menceraikan istrimu,aku sendiri yang akan menegurnya," kata pak Amir tegas.Ia pun berdiri laku meninggalkan Leon.
__ADS_1
Leon berhasil mengompori ayah mertuanya. Tapi ia masih belum berhasil membuat ayah mertuanya itu setuju untuk menceraikan istrinya."Aku tidak perlu menunggu sampai kau setuju tuan Amir, yang penting kau sudah tahu kelakuan bejat anakmu," Leon tersenyum sinis.