
Leon masih belum sadar walau dokter telah memindahkannya ke ruang perawatan. Dia belum bisa ditemui oleh siapa pun. Nuna hanya bisa melihat Leon dari luar.
"Nuna gimana keadaan Leon, sorry kita datang terlambat." Safira langsung memeluk Nuna setelah sampai. Di belakang mereka juga ada Citra dan Raya yang menyusul.
"Leon masih belum bisa ditemui dia belum sadar." terang Nuna.
Ketiga sahabat Nuna tidak mau berkata banyak karena mereka melihat Nuna yang masih shock dengan kejadian yang dialami.
"Duduk dulu yuk, lo udah makan Na?" tanya Raya.
Nuna menggeleng.
"Nih minum dulu gih biar lo tenang." Citra menyodorkan air minum kemasan kepada Nuna.
"Mending kita anter lo pulang dulu deh, lo juga butuh istirahat biar gak sakit, besok pagi lo bisa jenguk Leon lagi." Nuna mendengarkan omongan Safira. Akhirnya Nuna mengikuti ketiga sahabatnya itu untuk pulang.
****
Brak
Nuna menjatuhkan tasnya ke kursi,dia baru saja sampai di kelasnya. Hari ini dia tidak bersemangat seperti biasanya.
"Na gimana keadaan lo hari ini?" Raya melihat Nuna yang sedang lesu.
Nuna diam saja.
"Elo masih mikirin kejadian kemaren?" tanya Citra kepada Nuna.
Nuna hanya menganggguk.
"Lo mau cerita ke kita gak tentang kejadian kemaren" Raya mencoba bertanya kepada Nuna dengan lembut.
__ADS_1
"Kemaren gue ketemu ayah lo Ray, beliau menceritakan semua kejadian kecelakaan yang menyebabkan orang tua gue meninggal. Dari situ lah gue tau ternyata adek Leon yang udah menabrak mobil kami malam itu." terang Nuna dengan mata yang berkaca-kaca.
"Astaga ... gue gak nyangka Na," Raya merasa kaget dengan mulut menganga.
"Lalu gue menemui Leon minta penjelasan sama dia, kenapa dia gak jujur aja sam gue, pas gue mau balik ada mobil yang mau nabrak gue tapi Leon berhasil nyelametin gue." tunduk Nuna sambil menangis mengingat kejadian kemaren.
"Kayana Leon cinta mati deh Na sama elo, buktinya dia rela nyelametin elo dari tabrakan mobil." celoteh Citra.
"Huss jangan ngomongin mati, elo tu ya...temennya lagi sengsara malah di doain yang enggak-enggak." tangan Safira mencubit hidung Citra.
"Rencana lo apa sekarang Na?" tanya Raya penasaran.
"Hari ini gue mau balik ke rumah sakit." jawab Nuna
"Mau kita temenin?" kata Safira.
Nuna tersenyum " Gak usah makasih habis itu aku mampir ke florist."
****
"Hari ini dia sudah mulai membaik, kalo mau jenguk silahkan," dokter berkata dengan ramah
Ceklek
Nuna membuka pintu ruang inap Leon secara perlahan. Nuna duduk di samping Leon kemudian memegang salah satu tangannya.
"Leon kenapa kamu belum sadar? Aku sangat khawatir." Nuna berucap sambil menangis.Dia mengecup tangan Leon. Namun Leon tidak juga sadar.
Habis menjenguk Leon. Nuna menghampiri Alisha. Kebetulan rumah sakit yang dekat dengan kejadian kecelakaan saat itu adalah Rumah Sakit Cempaka Biru. Dia memberi tahu bahwa Leon kecelakaan.
"Alisha abang lo kecelakaan." kata Nuna.
__ADS_1
Tapi Alisha tidak merespon. Nuna pikir akan percuma saja menjelaskan panjang lebar kepada Alisha kemudian Nuna mendorong kursi roda Alisha ke ruangan Leon.
Alisha yang melihat Leon terbaring menunjukkan respon dengan menangis. "Abang"
"Abang lo kaya gini gara-gara nyelametin gue. Gue hutang nyawa sama abang lo." terang Nuna kepada Alisha
Nuna mengantar Alisha kembali ke ruangannya.
"Gue balik dulu ya." pamit Nuna kepada Alisha. Alisha menarik pergelangan tangan Nuna lalu Nuna menoleh. "Elo mau bantu jagain abang gue?" pinta Alisha kepada Nuna. Nuna mengangguk. Bagaimana pun Nuna merasa bertanggung jawab karena Leon mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Nuna dari bahaya waktu itu.
Nuna
Leon
Raya
Citra
Safira
__ADS_1
Alisha