Mencintai Mas Ganteng

Mencintai Mas Ganteng
Season 2 Niat keluar kota


__ADS_3

Malam itu hujan turun dengan derasnya Nuna berlari di tengah jalan sambil menangis meratapi nasibnya yang malang. Tiba-tiba seseorang membayakan payung untuknya.


"Kamu?" tunjuk Nuna pada seseorang yang ia kenal.


"Aku hanya kebetulan lewat di sini," kata Raymond.


"Ayo aku antar pulang, kebetulan hari ini aku membawa mobil," Raymond menawarkan tumpangan.


Nuna mengangguk. Ia sudah merasakan badannya kedinginan.Raymond yang menyadari akan hal itu kemudian meminta Nuna memegang payung lalu ia melepaskan jaketnya.


"Eh eh," Nuna kaget saat Raymond memakaikan jaket untuknya.


"Masuklah ke mobil," Raymond membuka pintu mobil untuk gadis pujaanya itu.


Di dalam mobil Nuna hanya diam. Raymond tahu kalau Nuna sedang sedih maka ia memilih diam saja. "Maaf telah merepotkanmu," ucap Nuna merasa tidak enak.


"Tidak apa," kini mobil Raymond telah sampai di kediaman Nuna.


"Mandilah air hangat lalu istirahat," pesan Raymond sebelum pergi.Nuna hanya mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


Wanita itu melangkahkan kakinya ke kamar. Ia mandi dengan air hangat lalu tidur. Tapi saat ia mencoba memejamkan mata Nuna tidak juga bisa tertidur.


Lalu ia berfikir untuk meninggalkan kota agar masa lalunya dengan Leon dapat ia hapus."Ya mungkin ini caraku melupakanmu,"


Keesokan harinya Nuna menjual rumah dan toko peninggalan orang tuanya. Ia membutuhkan banyak uang sedangkan tabungannya tidak cukup membeli rumah baru yang akan dia tinggali.


Namun menjual rumah dan toko tidaklah semudah yang dibayangkan. Ia pun memasukkan iklan di media sosialnya.


Saat itu Raya membaca iklan penjualan rumah sahabatnya itu. Ia tidak menyangka Nuna akan menjual warisan orang tuanya.


Lalu ia mencoba menghubungi nomor Nuna melalui ponselnya. "Nun lo gila ya mau jual rumah segala?" kesal Raya yang langsung to the point saat telpon mulai tersambung.


"Gue bisa bantu lo, lo butuh berapa?"


"Gak Ray makasih, gue tahu elo sahabat yang baik,"


"Iyalah gue mana mungkin nikung lo dari belakang," Raya sengaja mengeraskan suaranya saat melihat Safira lewat di depan mejanya.


Safira yang merasa tersindir langsung menggebrak meja Raya. "Kamu nyindir saya? ingat ya sekarang saya ini istri bos kamu, kapan saja saya bisa memecat kamu," bentak Safira.

__ADS_1


Leon yang mendengar kegaduhan di luar ruangannya memutuskan untuk keluar."Ada apa ini?" tanya Leon.


"Sayang," Safira bergelayut manja di tangan suaminya.


Raya yang melihat itu ingin sekali muntah dibuatnya. "Sahabatan empat tahun gue baru lihat aslinya kaya gini, nyese banget gue temenan sama dia dulu, dasar nenek lampir," umpat Raya dalam hati.


"Kamu tidak usah mengumpat saya," Safira menoleh sejenak sebelum ia masuk bersama suaminya.


"Lepaskan," Leon menghempaskan tangan istrinya.


"Sayang tidak bisakah kamu bersikap manis padaku?" pinta Safira dengan memasang muka melas.


"Sikapmu itu menjijikkan, besok-besok jangan datang lagi ke kantor," bentak Leon. Lalu membuang pandangannya.


"Apa katamu? Kenapa tidak boleh, kenapa istri pemilik perusahaan sepertiku tidak boleh mendatangi kantor suaminya?" tanya Safira dengan angkuh.


"Kau hanya istri di atas kertas, bagiku pernikahan ini bukan apa-apa, ingat kau yang menjebakku sehingga pernikahan ini sampai terjadi.


"Aku...," Safira tidak meneruskan kata-katanya karena apa yang dikatakan Leon memang benar. Wanita itu sengaja mengubah hari pertunangan mereka menjadi hari pernikahan. Leon terpaksa menikah dengan Safira karena ia tidak mau keluarganya dipermalukan di depan tamu undang mereka saat itu.

__ADS_1


"Baiklah jangan sebut namaku Safira kalau aku tidak bisa menaklukkan hatimu sayang," batin Safira lalu keluar dari kantor Leon.


__ADS_2