
Setelah semalam berpesta kini Nuna kembali beraktivitas seperti biasanya. Ia sudah berada di toko bunga peninggalan orang tuanya.
"Tolong ya bunga-bunga yang udah layu dibuang aja," perintah pegawainya pada salah seorang pekerjanya.
Sebuah mobil sport berwarna merah berhenti di depan tokonya.Nuna mengenali pemilik mobil tersebut.
"Mau makan siang bareng gak sama aku?" tanya Leon.
"Boleh," jawab Nuna sambil mengembangkan senyum manis di wajahnya yang cantik.
Leon mengulas senyumnya.Ia tidak menyangka Nuna akan menerima ajakan makan siangnya hari itu.
Nuna tidak mau menjadi wanita munafik.Ia akan merasa rugi apabila menolak ajakan Leon.Jujur Nuna masih menyimpan rasa di hatinya. Sekarang ia tak harus merasa tidak enak karena dekat dengan laki-laki yang ada di hadapannya itu.Toh mereka akan berpisah sebentar lagi. Surat perceraian sudah diajukan oleh Leon ke Kantor Pengadilan Agama.
"Yuk jalan sekarang," ajak Nuna pada leon yang dari tadi hanya terdiam di tempatnya.
Leon mengulurkan tangannya.Nuna menyambut uluran tangan laki-laki yang masih menempati hatinya itu.
Hati Leon sungguh berbunga-bunga.Hari ini sunggh sangat di luar perkiraannya.Ia bahkan seperti jatuh cinta lagi.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Leon dengan tulus.Nuna hanya membalasnya dengan senyuman.
Tempat makan mereka tak jauh dari toko bunga milik Nuna.Leon menarik kursi untuk Nuna.
Tidak ada yang menyangka mereka akan bertemu dengan ayah Safira di restoran itu saat akan keluar bersama rekan-rekan bisnisnya.
"Leon apa yang kamu lakukan di sini bersama wanita ini?" Amir bertanya pada Leon tapi memberikan tatapan tajamnya ke arah Nuna.
Sorot mata kemarahan terpancar dari wajah Amir saat ia memandang wanita yang ada di hadapannya.Laki-laki tua itu bahkan mengeraskan rahangnya.
"Kami sedang makan siang bersama tuan," sahut Nuna.
"Aku tidak bertanya padamu," sungut Amir.
"Asal anda tahu berkas perceraian saya sudah diuruas di pengadilan dan saya sudah mengucapakan kata talak pada putri anda jadi antara saya dan Safira bukan suami istri lagi," terang Leon.
Amir mengepalkan tangannya.Tega sekali Leon mencerai putri kesayangannya itu,pikirnya.Untuk menghindari pertengkaran yanga kan membuatnya malu di depan umum Amir memilih pergi dari tempat itu.
"Kamu gak papa?" tanya Leon seraya memegang kedua bahu Nuna.Nuna menggeleng.
__ADS_1
"Duduklah ayo kita lanjutkan makan siang kita," kata Leon.
Seusai makan siang Leon kembali mengantar Nuna ke toko bunganya. Sedangkan Leon kembali ke kantor.
Saat Nuna akan masuk ke dalam tokonya Safira sudah ada di depan tokonya bersama ibu-ibu yang sedang menggunjingnya.
"Ini nih bu selingkuhan suami saya, ibu lihat kan tadi dia turun dari mobil suami saya," Safira memprofokasi ibu-ibu yang lewat itu agar percaya pada omongannya.
"Dih cantik-cantik ko tukang tikung ya, padahal masih banyak lelaki bujang yang bisa dijadikan suami," cibir ibu-ibu itu.
Nuna menghentikan langkahnya. Tangannya mencengkeram tali tas yang ia pakai. Ia menghembuskan nafas seraya memejamkan mata agar dirinya tetap tenang.
"Maaf tidak adakah kegiatan lain selain menggunjing?" ejek Nuna secara halus.
"Mbak kamu jangan gitu dong, masa merebut suami mbak ini, ya kan bu?" salah satu dari mereka meminta dukungan teman-temannya.
Nuna mengerutkan dahi."Yang dibilang itu tidak benar, asal anda tahu bu, saya tidak ada hubungan dengan laki-laki itu, kami hanya berteman, lalu anda bilang siapa? suaminya?" Nuna pura-pura menanjamkan telinganya.
"Kenyataan yang sebenarnya adalah mereka bukan suami istri lagi," mendengar kata-kata Nuna, Safira mendadak geram.
__ADS_1
"Jaga bicara kamu," bentak Safira.
"STOP!" Seseorang menghentikan berdebatan mereka.