
Sedari tadi Nuna menopang dagunya di atas meja sambil melihat hp. "Kenapa Leon gak pernah ngasih kabar sih? Apa dia gak kangen sama aku??" Mulut Nuna mengerucut.
"Woi," Citra menepuk pundak Nuna pelan."Ngapain lo ?? Noh hp kenapa diliatin doang? lo nunggu telepon dari pacar sempurna lo itu??" Citra memutar matanya jengah.
"Huum.." Nuna tak bersemangat.
"Dears... kantin yuks," ajak Safira.
"Hayook...." Citra bersemangat.
Nuna mengangkat kepalanya mencari-cari Raya yang sedari tadi tidak nampak. "Raya mana?"
"Eh coba elo kirim pesan deh apa telepon gitu?" titah Safira.
"Gue gak punya pulsa," kata Citra santai.
"Etdah pelit amat nih cewek," celetuk Safira.
"biarin," Citra menjulurkan lidah.
"Ssstt... jangan berisik biar gue aja deh yang telepon?" kata Nuna melerai pertengkaran Citra dan Safira.
Tut tut tut...
"Gak aktip," kata Nuna.
"Eh beli minum yuks aus nih," Citra mengusap lehernya.
"Jalan dagh," Safira menarik tangan kedua temannya membawanya pergi ke kantin.
Sesampainya di kantin seorang mahasiswa berjalan terburu-buru sampai menabrak tubuh Citra dari belakang. "Ampun basah dah baju gue..."geram Citra. Minuman yang dibawa Citra jatuh menimpa bagian depan badannya.
"Sorry," kata mahasiswa yang memakai kacamata tebal dengan rambut klimis.
"Ucup elo lagi elo lagi" teriak Citra, sementara Nuna membantu mengelap badan Citra yang ketumpahan minuman. "Elo gak papa kan Cit?" tanya Nuna.
Ucup pergi begitu saja. Safira pun ikut mengomel. "Dasar tu bocul main pergi pergi aj"
"Bocul apaan fir?" tanya Nuna dan Citra serempak, keduanya saling melihat satu sama lain.
__ADS_1
"Ck bocah culun oneng" Safira memukul kepala Citra pakai kipas yang ada di tangannya.
"gue ke toilet dulu deh," Citra berjalan buru-buru.
"Na kita duduk sini aja nungguin si Citra," Safira menarik tangan Nuna untuk duduk.
"Lo kenapa si Na?" tanya Safira khawatir melihat wajah Nuna yang sendu.
"Gini ya rasanya kangen, berat berat," kata Nuna.
"elah baru juga ditinggal beberapa hari ini, video call aja keles..."
"Gue udah coba hubungin Leon berkali-kali tapi gak direspon, sedih gue,"
"Jangan-jangan Leon punya gebetan baru Na,"
"Mulut lo..." Nuna melempar tissu yang diremas-remas.
"Guys gue balik duluan ya bau nih badan gue risih." kata Citra yang baru kembali dari toilet saambil menciumi bau badannya.
"Salim dulu," Safira mengulurkan tangannya.
Citra menepuk tangan Safira keras. "Aw sakit tahu,"
"Rasain,"
***
"Duluan ya Na, bye," Safira melmbaikan tangan. Kini Nuna sendirian. Nuna clingak clinguk dilihat aplikasi ojek online di hpnya tapi sedari tadi ditunggu tidak sampai-sampai.
Tin tin
Mobil Raymond berhenti di depan Nuna "Hai kak," Raymond menyapa Nuna dari dalam mobil.
"Hai, Citra udah pulang dari tadi," kata Nuna
"Oh gitu, kak Nuna mau bareng?" Raymond menawarkan tumpangan.
"Gak usah Ray makasih." tolak Nuna dengan halus.
__ADS_1
"Ayolah gak ngrepotin ko," Raymond agak sedikit memaksa.
Mau tidak mau Nuna masuk ke mobil Raymond.
"Kita kemana kak?"
"Anter aku ke toko ya," kata Nuna
"Siip," Raymond menyalakan mesin mobil.
Sejak Nuna duduk di sampingnya Raymond terus melirik ke arah Nuna.
"Ko berhenti?" tiba-tiba Raymond menghentikan mobilnya.
"Ada yang jual gula kapas, kita beli yuk" Raymond mengajak Nuna turun.
"Pak gula kapas satu ya,"
Nuna menghampiri, "Ini kak buat kakak," Raymond menyerahkan gula kapas bentuk hati.
Alisha kebetulan melihat Nuna bersama Raymond dari dalam taxi.
Cekrek
Alisha mengirim gambar Nuna bersama Raymond ke hp Leon.
Drrrtt Drtttt
Nuna mengangkat telepon. "Hallo,"
"Sayang langsung pulang ya jangan mampir-mampir," sura itu terdengar dari balik telepon.
Nuna menengok ke arah teleponnya,"Apaan sih nelpon cuma bilang gitu doang" kesal Nuna.
Raymond
__ADS_1
Nuna