
..."Hidup adalah sepuluh persen apa yang terjadi padamu dan sembilan puluh persen bagaimana kamu menanggapinya."...
...***...
Nando mulai terbiasa saat Zoya merawatnya di rumah sakit. "Tolong kupaskan apel itu untukku!" pinta Nando dengan nada bicara yang lembut.
Ia menyadari kesalahannya pada Zoya yang sering berbuat kasar pada anak keduanya itu. Masalah yang menderanya membuat dirinya frustasi. Ia hanya bisa melampiaskannya dengan mabuk-mabukan hampir tiap hari.
Zoya begitu sabar merawat luka Nando."Apa papa sudah baikan?" Tanya Zoya pada ayahnya.
Nando merasa tersentuh. Ada rasa penyesalan karena selama ini ia tidak pernah memperlakukan Zoya dengan baik. Meskipun begitu Zoya tak pernah membalas perbuatannya.
"Maafkan papa nak," kata Nando yang merasa menyesal.
"Papa jangan begini, semua orang melakukan kesalahan," ucap Zoya dengan bijak.
"Yang terpenting papa sudah menyesal,aku mohon kembalilah seperti dulu menjadi papaku yang baik dan sabar," imbuhnya kemudian.
Nando menatap mata Zoya. Tatapan hangat yang penuh kasih sayang. Mengapa dia tidak bisa menjadi orang tua yang bijak, sesalnya.
"Maafkan papa karena telah terlalu larut dalam kesedihan, papa janji mulai sekarang papa akan berubah demi kamu," ucap Nando dengan tulus.
"Aku senang papa mau berjanji padaku. Aku harap papa tidak mengingkari janji papa, jangan menyerah pa kita berjuang sama-sama," ucap Zoya menyemangati papanya.
__ADS_1
...***...
Alisha mulai mendaftarkan diri di kampus baru. Saat ia akan melakukan pembayaran ia tidak bisa menggunakan tabungannya karena uangnya habis saat ditransfer ke rekening Zoya.
"Duh gimana nih kak Zoya belum mengembalikan uangku, ah aku minta kak Leon saja," gumam Alisha.
"Kak transfer uang untuk membayar kuliahku!" Pinta Alisha pada kakaknya saat sampai di rumah.
"Loh kakak kan sudah transfer uang ke rekening kamu," kata Leon.
"Emm masih kurang kak, kakak tahu kan biaya kuliah sekarang mahal," Alisha beralasan.
Ia sudah berjanji pada Zoya untuk tidak menceritakan apa pun pada Leon. Leon menaruh curiga pada adiknya.
"Baiklah aku akan serahkan buktinya besok," jawab Alisha.
"Bagaimana ini aku mana punya bukti," Alisha merasa risau.
Ia berpikir keras tapi tak juga menemukan solusi. Keesokan harinya Leon menagih bukti yang Alisha janjikan.
"Mana bukti pembayaran yang aku minta?" kata Leon sambil menengadahkan tangannya.
"Hilang, aku sudah mencarinya di seluruh kamarku tapi aku tdiak menemukannya," kata Alisha beralasan.
__ADS_1
Leon curiga tapi Leon tidak memiliki bukti untuk menyangkalnya. Oleh karena itu ia memberikan uang yang diminta adiknya untuk membayar kuliahnya.
Tak habis akal Leon menyuruh anak buahnya menyelidiki pengeluaran Alisha melalui banknya.
Setelah mendapatkan laporan ternyata uang tabungan Alisha ditransfer ke rekening Zoya. Leon berpikir keras. "Untuk apa Zoya membutuhkan uang sebanyak itu? Apa uang yang aku kirim masih kurang?" Tanya Leon pada dirinya sendiri.
"Ah sebaiknya aku tanya langsung ke Alisha."
Sesampainya di rumah Leon masuk ke kamar Alisha begitu saja. "Kakak gak sopan banget masuk kamar anak gadis gak ketuk pintu dulu," protes Alisha
"Sudah tapi kamu aja yang gak dengar," jawab Leon. Padahal dirinya memang tidak mengetuk pintu kamar adiknya itu.
"Kamu bisa jelasin gak kenapa kamu transfer uang tabungan kamu ke rekening Zoya?"
Deg
"Darimana kak Leon tahu?" batin Alisha.
"Kamu jangan coba-coba membohongi kakak ya dek."
Skack mat, Alisha mati kutu. Gadis itu dilema apakah ini saatnya berkata jujur pada Leon. Leon pasti akan marah besar karena dia telah membohonginya selama ini.
"Bicaralah dengan jujur aku janji tidak akan marah padamu," ucap Leon dengan lembut.
__ADS_1
"Kak Zoya..."