
Pagi hari, Zoya mengalami morning sickness atau lebih dikenal dengan ngidam. Ia memuntahkan isi perutnya di toilet. Suara itu terdengar sampai keluar. Nuna melihat keadaan Zoya. "Kamu tidak apa-apa?" Nuna memijit tengkuk leher adik iparnya itu.
Zoya menggeleng. "Apa orang hamil selalu begini?" Tanya Zoya tidak tahu.
"Yang aku tahu sih begitu, kamu harus memeriksakan kandunganmu Zoy, nanti aku temani, bilang saja pada abangmu kamu ingin jalan-jalan bersama denganku." Zoya mengangguk setuju.
Lalu Nuna meminta izin pada Leon ketika ia sedang sarapan bersama. Semua anggota berkumpul di meja makan untuk sarapan kecuali Alisha. Ia masih tidur dan akan bangun pada jam sepuluh pagi.
"Mas, aku ingin menemani Zoya membeli baju di mall," izin Nuna pada suaminya.
"Baiklah, kalian berangkatnya hati-hati minta saja ditemani supir." Nuna hanya mengangguk mendengar omongan suaminya.
Setelah itu Nuna dan Zoya pergi ke klinik kandungan tapi dengan menaiki taksi agar tidak ada orang lain yang curiga.
"Kapan terakhir kali anda menstruasi?" Tanya dokter tersebut.
"Saya tidak ingat dok. Karena siklus menstruasi saya tidak teratur jadi saya tidak pernah menghiraukannya," jawab Zoya dengan jujur.
"Baiklah silakan anda berbaring! Kita periksa dulu usia kandungan anda."
Dokter pun mengoleskan gel ke perut Zoya lalu menempelkan alat USG ke perutnya. "Perkiraan usia kandungan sudah tujuh minggu ya, Bu."
Zoya bangun lalu ia kembali duduk di kursi. "Apakah anda mengalami morning sickness, mual muntah di pagi hari?" Tanya dokter itu.
"Benar dok," jawab Zoya.
"Itu hal biasa ya, minum susu hamil akan mengurangi mual muntahnya. Jangan minum sembarang obat apabila sakit, saya akan memberi resep vitamin yang harus diminum setiap hari agar kandungan anda kuat."
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Dok." Keduanya menjabat tangan dokter kandungan itu kemudian pulang.
"Ingat kata dokter Zoy. Kamu harus menjaga kandunganmu, jangan stress kita hadapi kakakmu bersama-sama. Aku akan melindungimu sepenuhnya," kata Nuna memberi dukungan pada adik iparnya itu.
"Bagaimana kalau kita cari makanan dulu, bukankah ibu hamil biasanya suka ngemil?" Tanya Nuna.
"Baiklah aku ingin makan siomay, aku belum pernah memakannya, selama ini aku hanya tahu makanan barat saja," kata Zoya antusias.
"Baiklah, ayo pas sekali makan siang dengan siomay, kita cari tempat makan yang paling enak, oke?" Nuna memint dukungan.
"Oke."
Lalu mereka berdua mampir di sebuah warung tenda yang menjual siomay. "Katanya di sini enak Zoy. Ayo kita masuk," ajak Nuna.
Tapi Zoya menolak. "Aku tidak bisa makan di tempat seperti ini kak."
"Aku setuju," jawab Zoya sambil tersenyum.
Seharian ini dua wanita itu menghabiskan waktu mereka dengan jalan-jalan kemana mereka mau.
"Oh iya, bagaimana dengan Raymond apa dia mau bertanggung jawab?" Tanya Nuna sedikit khawatir.
"Mau kak, yang aku takutkan justru abang akan membunuhnya jika tahu aku hamil di luar nikah." Zoya berbicara sambil memakan siomay yang mereka beli tadi.
"Bicarakan baik-baik dengan abangmu, aku yakin dia akan setuju kalau kalian menikah."
...***...
__ADS_1
Alisha hari ini libur kuliah. Ia seharian hanya di kamar saja. Malas sekali bercengkerama dengan anggota keluarganya.
Ketika perutnya mulai lapar, Alisha turun dan mengambil makanan di dapur. Ia tak melihat kakak iparnya seperti biasa. Hanya ada papanya yang sedang menonton televisi.
Alisha tidak begitu akrab dengan papanya maka ia putuskan untuk bertanya pada asisten rumah tangganya.
"Kak Nuna kemana? Tumben sepi sekali." Tanya Alisha pada Bi Siti.
"Pergi sama mbak Zoya ke mall," jawabnya.
Karena bosan Alisha pun keluar untuk jalan-jalan bersama teman-temannya.
...***...
Di mall inilah Alisha dan ketiga temannya berbelanja baju. "Eh Al gue dengar kakak lo kaya raya, sekali-kali taktir kita dong," pinta teman Alisha.
"Oke belanja aja yang kalian mau, aku yang bayar," jawabnya sambil menyombongkan diri.
Teman-teman Alisha pun mulai memilih baju-baju incaran mereka. Alisha membayar semua tagihan belanja teman-temannya.
"Totalnya dua puluh lima juta kak," kata kasir outlet baju tersebut menyebutkan jumlah uang yang harus dibayarkan oleh Alisha.
Alisha terkejut. Kalau abangnya tahu ia berbelanja sebanyak itu ia akan diceramahi habis-habisan oleh kakaknya. Tapi Alisha tidak mungkin bisa mengelak karena gengsinya terhadap teman-temannya. Atau dirinya akan dihina oleh teman-teman sekampusnya itu.
Dengan berat hati, Alisha menyerahkan kartu kreditnya pada kasir. "Terima kasih ya Al, lain kali traktir kita lagi ya," kata salah satu temannya.
"I-iya," jawab Alisha dengan terbata.
__ADS_1
Alisha malas sekali pulang ke rumah. Hingga ia memutuskan untuk pulang saat semua orang tertidur.