
Pagi sekali sekitar pukul 6.00 WIB Leon memarkirkan mobil di depan rumah Nuna. Kebetulan rumahnya tidak memiliki pagar hanya pelataran luas yang terhubung dengan teras rumah.
Leon mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban dari empunya rumah. Kemudian Leon mencoba membuka pintu benar saja pintu rumah Nuna tidak terkunci.
Kemudian Leon masuk ke rumah Nuna tanpa izin. Cowok tampan itu melihat-lihat sekeliling ruangan yang dilewatinya tampak foto keluarga yang terdiri dari Nuna dan kedua orang tuanya semasa hidup. Suasana hati Leon tiba-tiba sedih kalo saja waktu itu Alisha tidak menabrak orang tuanya. Leon juga menemukan foto Nuna saat masih kecil. Leon pun tersenyum.
Lalu dia ingat kalo pagi ini dia harus segera ke bandara menuju ke Samarinda karena urusan bisnis.
Leon mencari kamar Nuna. Dari kejauhan terlihat kamar yang setengah terbuka. Leon mencoba masuk ke kamar itu ternyata Leon mendapati Nuna tidur di atas meja dengan laptop yang masih terbuka.
Leon tersenyum melihat Nuna. Disibak rambut Nuna yang menutupi sebagian wajahnya. Kemudian Leon menggendong Nuna dan di letakkannya di atas ranjang. Nuna belum juga terbangun. Leon menepuk sebelah pipi Nuna pelan.
"Sayang bangun sayang..." Leon berbisik-bisik.
Nuna perlahan membuka mata. Ternyata sudah ada kekasihnya di depan mata Nuna. Nuna kaget lalu mundur sampai bersandar di atas ranjang. Leon mendekati Nuna yang tampak gugup. Cowok itu mendekatkan wajahnya ke wajah Nuna. Leon menatap mata Nuna. Gadis itu merasakan jantungnya tidak sehat dia membayangkan akan diterkam oleh Leon.
"Sayang...."
Leon lalu tertawa terbahak-bahak. "Sayang aku tidak akan menerkammu."
Nuna bernafas lega. "Bagaimana kau bisa masuk kemari Leon?"
"Dasar cewek ceroboh pintu rumahmu tidak kau kunci sayang. Untung saja aku yang masuk bagaimana kalo ada maling?"
__ADS_1
"Lalu kenapa kau bisa sampai ke sini?"
"Aku ingin minta tolong kepadamu hari ini bisa kah kau menjaga adikku Alisha? Dia sedang sakit. Aku akan pergi perjalanan bisnis selama 2 hari."
"Iya aku bisa, hari ini aku akan izin kuliah." kata Nuna.
"Kalo gitu kamu siap-siap. Aku tunggu di bawah ya sayang." Leon mengecup kening Nuna dengan lembut. Lagi-lagi Nuna merasakan kehangatan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Leon memang bukan tipe cowok yang memiliki otak mesum. Dia berusaha menjaga kehormatan gadis yang dicintainya.
...***...
Leon sudah menunggu Nuna di bawah. Satu jam lagi pesawat Leon akan berangkat. Nuna segera turun. Leon terpesona dengan kecantikan Nuna, matanya sampai tidak berkedip.
"Ayo sayang kita ke rumahmu." kata Nuna yang berusaha membuyarkan lamunan kekasihnya itu.
Pipi gadis itu langsung memerah. Leon kemudian menarik tangan Nuna pelan membawanya ke mobil.
...*** ...
Ceklek
Nuna membuka pintu kamar Alisha pelan. "Dek kamu sakit ya?"
__ADS_1
Alisha yang saat itu masih terbaring lemah hanya mengangguk menjawab pertanyaan Nuna. Nuna kemudian memegang dahi Alisha, "masih demam kayanya, sudah minum obat?" tanya Alisha kepada Nuna.
Adik Leon itu menggeleng.
"Kita ke dokter ya." Nuna sedikit cemas.
"Iya."
Kemudian Nuna mengajak Alisha periksa ke dokter. Nuna begitu perhatian kepada Alisha meski dia bukan adik kandungnya. Nuna sudah berjanji pada Leon kekasihnya akan menjaga Alisha selama Leon pergi.
"Gimana masih pusing?" tanya Nuna setelah Alisha meminum obat. Sudah seharian Nuna menjaga adik Leon.
"Udah mendingan kak." jawab Alisha lirih.
"Kenapa kamu bisa sampai sakit?"
"Gak papa kak aku cuma kecapekan kemaren aku habis ikut extra kurikuler." terang Alisha.
"Ouh pas di sekolah udah berasa pusingnya?"
"Belum. Eh btw kemaren aku pulangnya di antar sama temennya abang. Ganteng" Alisha menerangkan dengan antusias.
"Siapa?" tanya Nuna penasaran.
__ADS_1
"Namanya emm Jon-Jonas kalo gk salah. Katanya rumah kita searah jadi dia nganterin aku sekalian."
"Jonas?" batin Nuna dalam hati.