Mencintai Mas Ganteng

Mencintai Mas Ganteng
Season 2 Pisah Kamar


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan dokter kandungan,Leon pulang ke rumahnya.Saat ia baru memasuki rumah Sang Ibu menyambutnya.


"Kenapa pulang larut sekali?" selidik Ariana.


"Leon sibuk ma,banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," katanya lalu naik ke atas.


Leon memutar gagang pintu kamarnya.Betapa terkejutnya dia saat mendapati Safira sedang duduk di depan cermin.


"Kamu kenapa bisa ada di kamarku?" bentak Leon.


Safira tak menoleh,ia menatap suaminya itu dari pantulan cermin."Tidak bisakah kamu sedikit saja bersikap lemah lembut padaku? Ingat Leon aku sedang hamil anak kamu," Safira berusaha tenang menanggapi kemarahan Leon.


Leon tersenyum sinis."Buktikan kalau itu anakku!" tantang Leon.Ia memutuskan untuk keluar dari kamar dari oada harus berderbat dengan wanita yang ia benci.


"Abang mau kemana?" tanya Alisha yang baru saja mengambil air untuk minum.


"Abang mau tidur di kamar tamu," jawabnya.

__ADS_1


"Gara-gara si nenek lampir ya?" tebak Alisha akhirnya Leon mengangguk.


"Apa mama yang memperbolehkannya tinggal di sini lagi?" Leon balik tanya pada adiknya.Alisha hanya mengangguk.


Setelah itu Leon melucuti pakaiannya dan membersihkan diri.Ia mengguyur kepalanya dengan air yang mengalir dari shower."Aku harus bersabar sampai tujuanku tercapai,ingat Safira aku akan menyingkirkanmu dari kehidupanku dan Nuna," gumam Leon di sela-sela ritual mandinya.


Tiga puluh menit cukup bagi Leon membersihkan diri.Ia keluar dengan handuk yang dililitkan di pinggang.Sedangkan dadanya telan*jang.


Ketika Leon sedang mengusap-usap rambutnya dengan handuk kering,ia melihat Safira sudah ada di kamarnya.


Safira mendekat ia mengelus dada Leon yang sedikit berbulu."Pintunya tidak dikunci sayang," ucap wanita itu dengan lembut.


Leon menghempaskan tangan Safira dengan kasar.Safira terlihat kecewa.Namun,ia tak henti-hentinya menggoda suami yang terus memaksanya bercerai.


"Jauhkan tangan kotormu itu dari tubuhku," ancam Leon sambil menatap tajam ke arah Safira.


"Kenapa kau selalu bersikap kasar padaku,padahal aku mencintaimu," protes Safira pada Leon.

__ADS_1


"Cih,kau wanita yang licik,kalau bukan karena rencana busukmu aku tidak akan menikah denganmu dan sudah pasti aku bahagia bersama Nuna,"Leon mengungkit masa lalu yang membuat Safira kesal.


"Kenapa alasanmu selalu sama, tidak bisakah kau belajar mencintaiku? Kenapa kamu selalu menyakiti aku?" Safira terisak.Namun,sedikitpun Leon tak berempati padanya.


"Kau tidak usah berpura-pura menjadi korban,andai saja kau tidak terlalu berambisi memilikiku mungkin keadaannya akan baik-baik saja," sanggah Leon.


"Ingat Safira sampai kapanpun aku tidak akan mencintai wanita licik sepertimu,"ancam Leon seraya mencengkeram dagu Safira.


Ia tidak peduli dengan Safira yang mengerang kesakitan.Safira bergidik ngeri melihat kemarahan Leon.Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari kamar itu.


"Aku harap kamu bisa berubah setelah ini,tolong perlakukan aku dengan baik mengingat aku sedang hamil," pinta Safira sebelum pergi.


Leon membanting pintu saat wanita itu sudah keluar.Safira sangat kaget.Ariana juga mendengar suara pintu yang dibanting malam-malam membuat dirinya tidak bisa tidur karena memikirkan apa yang sedang terjadi.


Akhirnya Ariana keluar kamar dan melihat ke sekeliling.Nampaknya semua orang sudah tertidur.Lalu ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.Perlahan ia melangkah dengan alat bantu jalan.


Ariana menjalani banyak terapi sehingga ia bisa sembuh dengan cepat.Kini ia tak lagi menggunakan kursi roda.Sejak Ariana sakit Leon memindahkan kamar Ariana di bawah sehingga tidak harus naik turun tangga mengingat dirinya yang kesulitan berjalan.

__ADS_1


__ADS_2