
"Leon, Leon," panggil Nuna beberapa kali.
Agh rupanya itu hanya mimpi. Sungguh mimpi yang sangat jelas hingga terasa seperti nyata. Nuna terbangun dari tidurnya. Rupanya matahari sudah tinggi. Ia bahkan melewatkan sholat subuhnya kali ini.
Nuna menoleh ke jam dinding yang ada di dalam kamarnya. "Haduh aku sudah telat," gumam Nuna kemudian bangun saat melihat waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia menyambar handuk yang ada di kursi.
Setengah jam kemudian ia sudah berpakaian rapi. Ia pun mengambil ponselnya untuk order ojek online langganannya.
"Hah ko gak ada yang ngambil sih orderan aku, pada kemana ini drivernya," gerutu Nuna.
Mau tak mau ia pun berjalan menuju keluar komplek agar mendapatkan taxi. Tiba-tiba saja suara klakson mengejutkan dirinya.
"Sayang mau bareng gak?" Leon menyapa Nuna dari dalam mobil.
Kebetulan Leon memang tinggal satu komplek dengan Nuna. Dulu ia memang sengaja membeli rumah yang sekomplek dengan Nuna agar Leon bisa mengawasi Nuna dari dekat.
"Ah kebetulan sekali," tak butuh waktu lama Nuna pun masuk ke dalam mobil.
"Kamu juga kesiangan?" tanya Nuna seraya memakai sabuk pengaman.
"Enggak, aku habis nganter Alisha sekolah terus aku balik lagi ke rumah," terang Leon.
"Oh,"
"Oh doang, udah sarapan belum kita mampir sarapan yuk!" ajak Leon.
"Emm aku beli sarapan deket toko aja nanti," tolak Nuna.
__ADS_1
"Ya sudah kalau gitu," Leon mengacak rambut Nuna sayang.
Sesampainya di depan toko Leon langsung pamit pulang. Ia janji akan ke mampir ke kantornya dulu untuk mengecek laporan bulanan.
"Nanti pulangnya aku jemput ya," pesan Leon sebelum benar-benar pergi. Nuna mengangguk.
"Hati-hati," Nuna melambaikan tangan pada kekasihnya.
Di dalam toko Safira sudah menunggu Nuna. Nuna tidak menyangka sahabatnya itu akan datang pagi-pagi sekali.
"Kamu gak ada kerjaan ya pagi-pagi sudah ngapel?" ledek Nuna.Ia baru saja meletakkan tasnya.
"Nun gimana dong nih ntar malam gue harus ketemu dia?" tanya Safira meminta pendapat Nuna.
"Maksudnya ketemu siapa?" tanya Nuna bingung.
"Ya ketemu aja dulu siapa tahu kalian cocok," kata Nuna memberi saran.
"Agh males banget mending nongkrong di salon temenin yuk," rengek Safira.
"Kamu gak lihat aku ini lagi kerja," Nuna menoleh pada sahabatnya yang dari tadi hanya menganggu pikirnya.
"Ya ampun bolos sehari doang, kan ada anak buah kamu," pintanya lagi.
"Mana boleh seperti itu, kalau aku gak kerja aku makan pakai apa, sedangkan kamu tahu sendiri aku hidup sebatang kara," terang Nuna menjelaskan panjang lebar semoga temannya itu mengerti.
"Baiklah aku pulang aja, sorry ya ganggu waktu kamu," Safira pun berdiri dan menenteng tas jinjingnya.
__ADS_1
"Kamu pulangnya naik apa?" tanya Nuna.
"Aku naik taxi, udah dulu ya gue balik," Safira keluar dari toko bunga milik Nuna. Nuna hanya menggeleng.
Flashback on
"Kamu harus mau menerima perjodohan ini, tidak ada penolakan," tegas ayah Safira.
"Tapi yah, Safira gak mau dijodohkan sama laki-laki yang gak Fira kenal sebelumnya," bantah Safira.
"Kata siapa kalian tidak saling mengenal, kamu bahkan satu kampus dengannya dulu," kata Ayah Safira.
"Hah apa? siapa?" selidik Safira.
"Kamu akan tahu saat makan malam nanti,"
Falshback off
Ketika di kantor Leon mendapatkan pesan dari ibunya untuk menghadiri makan malam dengan kolega ayahnya.
Saat itu Leon belum tahu kalau akan ada maksud lain dalam acara makan malam tersebut.
Leon diminta menemui koleganya itu di restoran XX yang tak jauh dari kantornya berada sekitar jam 7.
...❤️❤️❤️...
Sambil nunggu up kalian bisa baca juga novel tamat aku 👇
__ADS_1