
Lelah, kini yang dirasakan oleh Zoya setelah seharian membereskan rumah yang akan ia tinggali bersama suaminya. Raymond bahkan tidak membantunya sama sekali. Laki-laki itu lebih sibuk memainkan ponselnya ketimbang membantu istrinya beberes.
"Zoya, aku lapar, apa kau tidak masak hari ini?" Tanya Raymond saat Zoya baru saja merebahkan tubuhnya.
Mau tak mau wanita itu pun bangun padahal belum lima menit ia merebahkan diri. "Sebentar," jawab Zoya.
Ia menuju ke dapur lalu membuka kulkas. "Apa yang mau dimasak kalau baan makanan saja tidak ada," gumam Zoya.
"Raymond aku ke minimarket dulu untuk membeli bahan makanan," pamit Zoya.
Zoya merasa aneh kenapa suaminya tidak menawarkan uang belanja padanya saat ia bilang akan pergi berbelanja bahan makanan. Zoya sedikit kecewa dengan sikap suaminya saat ini. Baru hari pertama ia tinggal bersama Raymond, rasanya sudah berat bagaimana dia akan melalui hari-harinya nanti.
Zoya merasa kelelahan meski jarak minimarket dengan rumahnya tidak terlalu jauh. Maklumlah dia sudah hamil besar bahkan sebentar lagi akan melahirkan jadi wajar kalau gampang lelah.
Zoya pun duduk sebentar untuk meluruskan kakinya. "Ah panas sekali hari ini," keluh Zoya sambil mengipas-ngipas wajahnya yang kepanasan dengan tangannya.
Tak lama kemudian Zoya melanjutkan langkahnya menuju ke mini market terdekat. Di sana ia merasa nyaman karena ada AC yang membuatnya terasa nyaman.
__ADS_1
Zoya pun mulai memilih bahan makanan yang ingin ia beli. Setelah selesai ia membayar ke kasir. "Totalnya dua ratus lima belas ribu rupiah," kasir tersebut menyebut jumlah uang yang harus dibayar oleh Zoya.
Zoya membuka dompetnya. Ia hanya memiliki uang dua ratus ribu. Lalu ia putuskan untuk mengurangi barang belanjaannya. Seusai membayar ia sedikit kuwalahan membawanya hingga sesorang membantu Zoya memungut barangnya yang berantakan karena sempat terjatuh.
"Terima kasih banyak." Zoya mendongak karena laki-laki itu terlalu tinggi jika dibandingkan dengan dirinya.
"Sama-sama," ucap laki-laki itu sambil tersenyum.
Zoya berjalan tergopoh-gopoh untuk sampai ke rumahnya. Ingin sekali dia menangis. Raymond sungguh keterlaluan ia bahkan tdiak menawarkan bantuan untuk sekedar mengantarnya ke mini market menggunakan motornya.
Zoya duduk di depan rumahnya sambil mengusap peluh yang banyak menetes dari dahinya. "Kenapa tadi tidak mau minta aku antar?" Tanya Raymond dengan santainya.
"Terlambat, sudahlah bawa masuk semua belanjaan itu!" Perintah Zoya pada suaminya. Ia kesal sekesal-kesalnya pada Raymond. Sudah tidak memberinya uang, Raymond juga membiarkan istrinya yang hamil itu berjalan menuju ke mini market karena di perumahan itu memang jauh dari jalan raya jadi para penghuni perumahan tersebut kebanyakan memiliki kendaraan pribadi meski itu hanya sebuah motor.
Meski menggerutu kesal Zoya menunggu Raymond membawa bahan makanan yang ia beli tadi. Ia akan memasak untuk suaminya. Lelah? Jangan ditanya. Tentu saja punggungnya terasa ingin terlepas apalagi ia membawa beban berat di perutnya itu.
"Aku masakin seadanya ya, aku tidak berbelanja sayur karena jauh sekali dari pasar jadi aku hanya bisa memasak makanan cepat saji," kata Zoya pada suaminya.
__ADS_1
"Teraerah kamu, aku sudah lama menunggumu," jawab Raymond cuek. Zoya hanya bisa mengelus dada.
"Kamu yang sabar ya sayang, mungkin ada masalah yang disembunyikan ayahmu sehingga dia berubah seperti itu," kata Zoya pada anak di dalam perutnya.
Zoya memasak mi instan yang ditambahkan dengan telur dan sosis di dalamnya. "Sudah siap," kata Zoya sambil menyodorkan semangkuk mi instan buatannya.
"Kelihatannya enak," kata Raymond. Wajahnya terlihat berbinar ketika menyantap makanan di depannya.
"Bagaimana enak tidak?" Tanya Zoya.
"Tentu saja enak, ini kan bumbunya tinggal tuang." Raymond benar-benar menyebalkan bisa-bisanya dia tidak menghargai usaha Zoya.
Zoya mendengus kesal. "Aku tidak tahu kenapa hari ini kamu begitu menyebalkan," ucapnya lalu ia memilih naik ke kamarnya.
Raymond menatap kepergian istrinya tapi setelah itu ia meneruskan acara makannya.
"Dasar laki-laki breng*sek, duku saja waktu masih pacaran kamu begitu manis di hadapanku. Sekarang ketahuan aslinya setelah menikah. Nyesel aku harus hamil duluan," Zoya mengumpat sambil terisak.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, ia lupa mengunci kamarnya tadi. Zoya mengusap air matanya kasar lalu berpura-pura tidur. Ia masih sangat kesal dengan sikap Raymond seharian ini.
Hari pertama saja berat bagaimana dengan hari-hari berikutnya. Zoya tidak mau menbayangkan hal-hal negatif. Ia tak mau membuat anak di dalam kandungannya itu stress.