Mencintai Mas Ganteng

Mencintai Mas Ganteng
MA Season 3 #131


__ADS_3

"Baiklah, buktikan kalau kamu benar akan bertanggung jawab. Nikahi Zoya seminggu lagi." Ucapan Nando menbuat Raymond terkejut. Bagitu pula dengan keluarga Citra.


...***...


Keadaan Leon belum ada perubahan sama sekali. Hari ini Zoya dan Raymond akan menikah secara sederhana di rumah Leon.


Raymond yang berpakaian rapi menjabat tangan Nando sebagai wali nikah Zoya. "Saya terima nikahnya Zoya Anastasya binti Nando Surya Dilaraga dengan mas kawin sepuluh gram emas dibayar tunai."


"Bagaimana saksi?" Nando menoleh kepada dua orang saksi di sampingnya.


"Sah."


"Alhamdulillah." Semua orang berucap syukur setelah pernikahan anaknya.


"Selamat kalian sudah menjadi suami istri," kata penghulu.


Zoya menitikkan air mata karena terharu. Nuna dan Alisha ikut bahagia. Tiba-tiba ada seseorang yang datang ke pernikahan mereka.


"Apa saya sudah telat?" Semua orang menoleh ke sumber suara.


Raymond membelalakkan matanya ketika melihat Hendra di ambang pintu rumah mertuanya. Ia berdiri dan berlari memeluk orang tuanya.


"Ayah datang," kata Hendra saat Raymond memeluknya.


Raymond mengurai pelukannya. "Terima kasih, Ayah," kata Raymond sambil meneteskan air mata kebahagiaan.


"Apa kau tidak ingin mempertemukan aku dengan menantuku?" Tanya Hendra.

__ADS_1


Zoya mendekat setelah namanya dipanggil. Wanita yang baru beberapa waktu lalu sah menjadi istri Raymond tersebut meraih tangan Hendra dan mnciumnya dengan takjim. "Apa kabar, Ayah?" Tanya Zoya.


Hendra memeluk Zoya. "Jadilah istri yang baik, aku doakan pernikahan kalian selalu langgeng," kata Hendra pada menantunya. Zoya membalas dengan senyum.


...***...


Beberapa hari kemudian Leon dinyatakan sadar setelah koma selama hampir enam bulan lamanya. Semua keluarganya berkumpul di rumah sakit.


Leon mengerjapkan matanya perlahan. Matanya masih menyipit saat terkena cahaya. "Aku dimana?" Tanyanya lirih.


"Kamu sudah sadar, Mas." Nuna menangis di hadapan suaminya.


"Kamu di rumah sakit Leon. Sudah enam bulan kamu koma di rumah sakit," jawab Nando.


Lalu Leon melihat ke arah Raymond. Ia mengerutkan keningnya. "Kenapa dia ada di sini?" Tanya Leon yang sepertinya tidak menyukai keberadaan Raymond.


Leon menarik ujung bibirnya. "Rupanya kalian menikah tanpa meminta restu dariku?" Leon merasa dirinya tidak dianggap.


"Maafkan kami, Bang," ucao Zoya merasa bersalah.


"Sudahlah aku ingin sendiri." Leon memalingkan wajahnya. Nuna memberi kode agar semua orang keluar terlebih dulu.


"Mas, kamu jangan begitu. Mereka saling mencintai. Apa kamu tidak kasihan sama Zoya jika kamu memisahkan dia dengan Raymond. Aku sudah pernah merasakannya, Mas. Kekasih yang kita cintai tidak bisa kita miliki itu sakitnya di sini, Mas." Nuna menunjuk ke bagian hatinya. Ia mengingatkan Leon akan kejadian di masa lampau agar Leon tidak bersikap angkuh.


Perlahan emosi Leon mulai mereda. "Maafkan aku sayang! Aku akan mencoba menerima dia sebagai iparku."


"Lalu selain Zoya yang menikah diam-diam apalagi yang terjadi ketika aku koma?" Tanya Leon penasaran.

__ADS_1


"Papa menggantikau sementara di perusahaan, Mas. Kalau bukan karena beliau kita tidak bisa membayar uang perawatanmu di rumah sakit. Papa membuat perusahaan yang kami miliki menjadi maju, Mas," ungkap Nuna.


"Benarkah? Aku tidak menyangka di usianya yang sudah tua papa masih saja hebat dlaam mengelola bisnis," puji Leon oada orang tuanya


...***...


Beberapa hari kemudian Leon diperbolehkan pualng ke rumah. "Dimana semua orang kenapa sepi?" Tanya Leon ketika baru sampai.


Di rumahnya hanya terdapat asisten rumah tangga saja. "Papa ke kantor, Alisha pasti sednag ada di kampus lalu Zoya sekarang tinggal bersama suaminya," terang Nuna.


Ia membantu Leon duduk perlahan. "Aku ambilkan teh hangat dulu ya," katanya sebelum melangkah ke dapur.


"Berapa usia kandungan Zoya?" Tanya Leon penasaran. Pasalnya hanya dalam waktu enak bulan saja perutnya sudah sangat besar.


"Delapan bulan," jawab Nuna jujur. Leon terkejut saat mendengar jawaban istrinya.


"Jadi dia menikah karena hamil duluan, kurang ajar." Leon mengepalkan tangannya karena kesal. Ia merasa dibohingi oleh semua orang di rumahnya.


"Kenapa kamu baru jujur padaku?" Leon menatap Nuna dengan tatapan tajam.


"Karena nasi sudah menjadi bubur, kita tidak bisa menghalangi pernikahan mereka. Mas mau Zoya punya anak tapi tanpa suami?" Nuna selalu bisa menjawab omongan Leon. Ia juga tidak mau kalah jika berbicara dengan suaminya agar laki-laki itu tidak merasa angkuh di depan siapapun.


Nuna mengambil teh hangat agar Leon lebih tenang. "Minum dulu, Mas! Biar tenang." Wanita itu selalu terlihat tenang menghadapi siapapun.


"Mas, kadang kita tidak bisa menentukan takdir orang lain, semua sudah digariskan oleh Yang Diatas. Jadi kalau mereka disatukan dengan cara begitu ya kita mau apa?"


"Kita hanya bisa menerima takdir dan menjalankannya dengan baik. Menolak tidak akan membuahkan hasil apa-apa," ucap Nuna dengan bijak.

__ADS_1


__ADS_2