
Raymond terpaksa menghubungi sepupunya Citra. Ia ingin meminjam uang untuk biaya hidupnya selama beberapa hari ke depan.
"Gue boleh pinjem uang lo dulu nggak?" tanya Raymond sedikit sungkan.
"Butuh berapa emangnya?" tanya Citra balik.
"5 juta. Gue nggak punya uang sama sekali buat biaya hidup, setelah ini gue janji akan cari pekerjaan buat ngelunasi hutang-hutang gue ke lo," Raymond mengiba.
"Oke gue pinjamin tapi janji ya balikin," kata Citra.
"Iya. By the way elo ada informasi lowongan pekerjaan nggak?"
"Di tempat kerja gue sih belum ada, nanti gue tanya Raya barangkali di kantornya ada lowongan pekerjaan."
"Kantornya Leon?" Citra mengangguk.
"Nggak deh selain di tempat itu," tolak Raymond.
"Ya udah nanti kalau ada lowongan gue kabarin lagi," kata Citra.
"Sekarang lo tinggal di mana?"
"Habis ini gue mau cari kos-kosan yang harganya murah."
"Kok elo bisa nekat ninggalin paman sih Raymond, gak kasian sama bokap lo," Citra tidak mengerti dengan sikap Raymond yang mendadak jadi anak yang tidak penurut.
"Gue nggak bisa jelasin alasannya sekarang, kalau gitu kita ketemu lagi lain kali, gue harus cari tempat tinggal." Raymond mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Hati-hati ya!" ucap Citra dengan wajah sendu melihat sepupunya.
__ADS_1
Raymond pun mencari kos-kosan yang harganya murah. Uang yang ditransfer Citra ke rekeningnya harus bisa dia hemat selama belum mendapatkan pekerjaan.
Setelah cukup lama mencari Raymond menemukan tempat kos yang lumayan untuk ditinggali. "Setidaknya aku tidak tidur di jalanan," gumam Raymond.
Raymond pun memejamkan matanya. Ia sudah lelah seharian terlunta-lunta. Harusnya dia tak perlu melawan ayahnya. Tidak, dia ingin mengejar cintanya. Apakah salah ia menemui wanita yang ia cintai.
...***...
Di tempat lain, Zoya merasa cemas dengan keadaan Raymond. Sampai ia pulang ke rumah, Raymond belum juga mengabarinya.
Lalu Zoya pun memutuskan untuk menelepon kekasihnya itu terlebih dulu. "Kok nggak aktif," Zoya menengok ke layar ponselnya yang menghitam.
"Semoga kamu menemukan tempat tinggal," Zoya harap-harap cemas memikirkan nasib kekasihnya.
Alisha menepuk bahu kakaknya. "Kak, kakak ko melamun sih?"
"Emangnya ada apa di langit?" tanya Alisha penasaran. Ia pun melirik ke jendela.
"Besok mau ikut antarin mama ke rumah sakit nggak, periksa rutin," kata Alisha.
"Kayaknya gak bisa dek soalnya besok ada kuliah pagi mulai jam tujuh," tolaknya.
"Ya udah deh kalau gitu minta tolong kak Nuna aja, aku keluar dulu ya," kata Alisha.
...***...
Keesokan harinya Nuna mengantar Ariana ke rumah sakit atas permintaan kekasihnya. "Maaf harus merepotkanmu sayang," kata Leon.
"Tidak apa, aku senang bisa membantu," jawab Nuna dengan tulus.
__ADS_1
Setelah itu Leon mengantarkan Nuna dan ibunya ke rumah sakit. Nuna dengan sabar mendorong kursi roda yang ditumpangi oleh calon ibu mertuanya itu. Ariana memang tidak kuat berjalan jauh sehingga memilih untuk mendorongnya dengan menggunakan kursi roda.
Ketika ia mengedarkan pandangannya ke sekitar rumah sakit ia melihat seseorang yang ia kenal. Nuna mengerutkan matanya agar bisa melihat dengan jelas. "Raymond," ucap Nuna dengan lirih.
"Siapa nak?"tanya Ariana yang samar-samar mendengar Nuna menyebut nama seseorang.
"Ah bukan siapa-siapa ma, ayo kita masuk," ajaknya ke dalam ruangan dokter.
Sementara itu Raymond baru saja menemui Citra. Sepupunya itu bilang kalau di rumah sakit tempat ia bekerja membutuhkan supir ambulans. Menurut Citra Raymond cocok untuk mengisi lowongan kerja tersebut.
"Makasih banyak mbak, jadi kapan aku bisa mulai kerja?" tanya Raymond antusias.
"Besok kamu bisa mulai kerja," kata Citra. Ia memang sudah menghubungi bagian HRD sebelumnya agar lowongan tersebut diberikan pada saudara yang tak lain adalah Raymond.
Raymond memberikan kabar pada Zoya bahwa dirinya sudah mendapatkan pekerjaan. Mereka pun janjian di sebuah kafe untuk ketemuan.
"Selamat ya sayang, kamu audah daloat pekerjaan aku jadi lega mendengarnya," kata Zoya dengan wajah yang terlihat ceria.
"Iya berkat sepupu aku," kata Raymond sambil menyeruput jus yang ia pesan.
"Maaf semalam aku ketiduran. Aku baru buka pesanmu pagi ini," kata Raymond seraya menggengam tangan kekasihnya.
Wajah Zoya jadi memerah. "Iya gak apa-apa, yang penting kamu audah dapat tempat tinggal sama pekerjaan aja aku udah seneng kok," Zoya balas memegang tangan Raymond.
"Aku mencintaimu," ucap Raymond sambil mengecup punggung tangan Zoya.
Zoya mengulas senyum di wajahnya yang memerah. "Aku juga mencintaimu," balas Zoya.
Tanpa sadar seseorang melihat interaksi mereka dari luar kafe yang berkaca transparan itu.
__ADS_1