
Hari ini Nuna memberanikan diri untuk mengatakan kejujuran pada Leon, suaminya. "Leon, aku ingin mengatakan sesuatu padamu, aku harap kamu tidak terkejut dengan yang akan aku katakan," seru Nuna.
"Apa itu sayang?" Tanya Leon seraya memasukkan makanan ke dalam mulut.
"Aku tidak bisa punya anak."
Klontang
Leon menjatuhkan sendok yang ia pegang saking terkejutnya. "Apa maksud kamu?" Tanya Leon dengan nada bergetar.
"Beberapa waktu lalu aku memeriksakan kandunganku, aku curiga kenapa aku tidak kunjung hamil, kata dokter aku menderita radang panggul dan saat kamu masih koma aku menjalani operasi, kemungkinan untukku hamil sangatlah kecil," terang Nuna panjang lebar.
Leon memejamkan matanya sejenak. Ia sangat terpukul mendengar berita yang disampaikan oleh istrinya. Bagaimanapun ia laki-laki normal yang ingin sekali bisa memiliki keturunan.
Leon menatap istrinya dengan wajah sendu. Sejak tadi Nuna menunduk. Ia tahu kalau istrinya itu pasti sudah mengumpulkan keberanian untuk mengatakan hal ini padanya.
Leon menggenggam tangan Nuna. "Sayang, aku memang menginginkan anak, tapi aku tidak bisa memaksa takdir, apapun keadaanmu akan kuterima."
Mata Nuna berkaca-kaca mendengar pengakuan Leon. "Benarkah Leon?" Leon mengangguk pasti.
"Bagaimana pun kita memiliki kekurangan. Kamu telah menerima aku yang sudah pernah menikah, aku juga menerima kamu walau akhirnya kita tidak bisa memiliki keturunan, karena kamu pilihanku. Aku tidak akan menyesal dengan pilihanku. Lagipula kalau masalah anak kita bisa mengadopsinya." Leon memberikan solusi.
Nuna menggengam tangan suaminya. "Terima kasih banyak," ucapnya sambil menitikkan air mata. Leon mengusap air mata istrinya dengan lembut.
...***...
Raymond yang baru keluar dari dalam kamar melihat istrinya tergeletak di lantai. Raymond segera membopong tubuh Zoya lalu membawanya keluar. Ia memanggil taksi.
Raymond panik sepanik paniknya. Bagaimana tidak Zoya sudah mengeluarkan darah melalui selangkangannya. Raymond sangat menyesal telah mengabaikan panggilan istrinya tadi.
"Kumohon bertahanlah!" Ucap Raymond seraya memangku kepala Zoya.
Sesampainya di rumah sakit, ia menidurkan istrinya di atas brankar. "Tolong selamatkan istri saya," kata Raymond.
Laki-laki itu menjambak rambutnya frustasi. Lalu ia menghubungi Alisha.
__ADS_1
"Apa? Kak Zoya masuk rumah sakit?" Tanya Alisha melalui sambungan telepon.
"Tolong cepatlah kesini, kabari kakakmu juga!" Perintah Raymond.
...***...
"Pa, kak Zoya masuk rumah sakit, ayo kita susul ke sana!" Ajak Alisha.
"Kabari kakakmu Leon!" Perintah Nando.
Alisha pun menulis pesan singkat ke nomor kakaknya. Saat itu Leon masih makan siang bersama istrinya.
"Ada apa Leon?" Tanya Nuna yang melihat ekspresi wajah Leon yang berubah sendu ketika membuka pesan yang baru ia buka di ponselnya.
"Kita ke rumah sakit sekarang, Zoya dalam keadaan kritis di rumah sakit," kata Leon. Nuna menutup mulutnya karena kaget. Ia pun menyambar tasnya lalu mengikuti langkah sang suami.
...***...
"Apa anda suaminya?" Tanya dokter yang memeriksa.
"Benar dok."
"Lakukan yang terbaik, Dok." Leon menyahut. Ia baru saja datang bersama istrinya. "Saya yang akan menanggung biayanya."
"Baik, silakan urusi ke bagian administrasi!" Leon mengngguk.
"Kamu benar-benar mengecewakan, seandainya saja waktu itu aku tidak koma, aku tidak akan merestui hubunganmu dengan Zoya, kalau pada akhirnya seperti ini." Leon sangat kesal. Ingin sekali ia meninju wajah adik iparnya itu.
Nuna mengusap lengan Leon. "Sabar! Sebaiknya kita berdoa agar Zoya selamat."
Alisha dan Nando datang. "Bagaimana keadaan putriku?" Tanya Nando pada Raymond.
"Masih ditangani oleh dokter," jawab Raymond. Ia tampak berantakan karena memikirkan nasib Zoya. "Maafkan aku," ucapnya lirih sambil memandang pintu ruang ICU.
Tak lama kemudian para perawat membawa Zoya ke ruang operasi. Ia harus segera disesar. Semua orang melihatnya dibawa masuk.
__ADS_1
Semua anggota keluarga menunggu dengan perasaan cemas tak terkecuali Raymond. Sikap dinginnya semenjak menikah dengan Zoya dikarenakan ia takut jika tidak bisa membahagiakan Zoya dan terbukti sekarang Zoya masuk rumah sakit karena dia. Seandaianya saja waktu itu Raymond mendengar panggilan istrinya, mungkin Zoya tidak akan mengalami pendarahan.
Satu jam lebih mereka menunggu, akhirnya dokter keluar. "Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" Tanya Nando.
"Kami ingin menyampaikan berita baik dan berita buruk, berita baiknya anaknya laki-laki lahir dengan selamat."
"Lalu apa berita buruknya, Dok?" Tanya Raymond dengan nada bergetar.
"Istri anda tidak terselamatkan, dia mengalami shok berat akibat pendarahan yang dialami karena tekanan darahnya tinggi," terang dokter panjang lebar.
Tangis Nuna dan Alisha pecah seketika. Keduanya saling berpelukan. Leon mengusap mukanya kasar. Nando pun menangisi kepergian putrinya yang banyak berkorban selama ini.
Lalu bagaimana dengan Raymond? Laki-laki itu memilih untuk melihat anaknya. Tapi di dalam hatinya ia menangis. Perawat membawa anaknya setelah dibersihkan.
"Silakan adzani dulu, Pak," kata perawat itu. Ia memberikan bayi laki-laki yang tampan kepada Raymond. Raymond mulai mengadzani anaknya.
Nuna mendekat ke arah Raymond. "Raymond, bolehkah aku yang merawat anakmu?" Raymond membelalak.
Bagaimana bisa Nuna tega memisahkan dia dengan anaknya yang baru lahir. Meski ia tidak bisa menyusuinya tapi bayi itu adalah kenang-kenangan terindah dari istrinya.
"Aku tidak berniat memisahkan kamu dengan anak kamu, sebagai seorang wanita aku tidaklah beruntung, dokter memfonisku tidak bisa memiliki keturunan."
Raymond terkejut mendengar pengakun Nuna. "Kau tidak bisa hamil?" Tanyanya lagi. Nuna mengangguk.
"Aku janji aku akan merawat anakmu dengan baik seperti anakku sendiri jika kau perbolehkan. Tentu saja aku tidak akan melarangmu menemuinya kapan pun kau mau. Aku juga akan bilang kalau kau adalah orang tua kandungannya jika dia sudah mengerti."
Raymond berpikir sejenak. "Tolong rawat anakku dengan baik! Aku tahu aku tidak akan bisa merawatnya sendirian." Raymond menyerahkan anak itu pada Nuna meski berderai air mata. Ia tidak bisa membendung lagi air matanya yang tertahan.
Raymond mengecup kening anaknya lama. "Ayah tidak meninggalkanmu, tapi ayah ingin kau mendapatkan yang terbaik," pesannya pada sang putra.
"Terima kasih," kata Leon pada adik iparnya.
Leon tidak bisa menyalahkan kepergian Zoya pada Raymond, suaminya. Karena sejatinya nyawa bukanlah dia yang menentukan melainkan Tuhan YME.
...🌼🌼🌼...
__ADS_1
..."Setiap akhir sebuah cerita, akan selalu menciptakan awal cerita baru, begitu juga dengan perpisahan."...
...TAMAT...