Mencintai Mas Ganteng

Mencintai Mas Ganteng
MA Season 3


__ADS_3

Hari ini Zoya mulai masuk kuliah di kampus barunya. Dia berangkat naik ojek online karena sopir diminta untuk mengantarkan Alisha ke kampusnya.


Tanpa diduga terjadi demonstrasi di depan gedung balai kota. saat itu jalanan begitu macet. "Pak apa kita bisa menerobos sekumpulan orang itu? Hari ini pertama kalinya saya masuk kampus," kata Zoya sedikit khawatir.


"Saya rasa sulit,apa ada mau turun di sini?" tanya driver ojol tersebut.


"Tapi Pak jarak dari sini ke kampus saya masih cukup jauh," protes Zoya pada driver tersebut.


"Maaf tapi saya tidak mau ambil resiko," tolak driver ojol tersebut. Lalu driver ojol tersebut pergi begitu saja meninggalkan Zoya. Zoya merasa risau. karena dia tidak ingin telat terpaksa menerobos kumpulan demonstrasi tersebut.


Ketika dia berjalan di tengah-tengah orang-orang itu kepala Zoya tak sengaja mendapatkan lemparan botol dari arah lain. Ia meringis kesakitan. Zoya pun sampai terduduk di tanah.


Lalu seseorang mengeluarkan tangan ke arah Zoya. Gadis itu mendongak. Ia sangat terkejut saat melihat wajah yang ia kenali. "Raymond," Zoya menyebut nama tersebut.


Raymond mengajar Zoya menjauh dari kerumunan masa. Setelah dirasa aman Raymond menanyakan keadaan gadis itu.


"Apa kamu baik-baik saja? Bagaimana kalau kita ke rumah sakit, kepalamu berdarah," ucap Raymond dengan posesif.


Zoya memeluk laki-laki yang sedang berdiri di hadapannya itu. Ia menangis di pelukan Raymond. Raymond mengusap punggung Zoya dengan lembut.


"Aku kira aku tidak akan bertemu denganmu lagi," ucap Zoya di sela-sela tangisannya.


Raymond mengurai pelukannya dan tersenyum pada Zoya. "Jangan menangis aku sudah kembali untukmu," ucapa pemuda itu.

__ADS_1


...Flashback on...


Setelah keberangkatan Zoya ke Indonesia, Raymond pun memutuskan untuk kembali lagi ke negara asalnya.


"Jangan gila kamu Raymond, hanya karena ingin mengikuti anak pemabuk itu kamu rela meninggalkan kuliahmu," geram Hendra pada anaknya.


"Yah jaga bicara ayah, yang pemabuk itu ayahnya kenapa harus bawa-bawa Zoya," protes Raymond yang tak terima Zoya dihina.


"Raymond," teriak Hendra.


"Yah dari awal aku memang tidak ingin ikut dengan papa pindah ke sini, tapi takdir membawaku pada Zoya, ayah tidak perlu khawatir aku tidak akan merepotkan ayah setelah ini," kata Raymond.


"Kalau kau sampai berani melangkahkan kakimu keluar aku tidak akan lagi mganggapmu anak," ancam Hendra pada putra satu-satunya itu.


"Baiklah, kalau ayah siap kehilangan keturunanmu satu-satunya," gumam Raymond dengan tatapan sinis pada ayahnya.


...Flashback off...


...***...


...Ketika kamu menemukan cinta sejati , jangan berniat untuk menemukannya lagi. Peluk dan genggamlah ia selama kamu masih memilikinya....


"Aku tidak mau melepaskan kamu lagi," ucap Raymond pada Zoya.

__ADS_1


"Kalau begitu halangilah sekuat tenagamu jika aku berusaha menjauh darimu," balas Zoya seraya mendongak menatap wajah Raymond.


Mereka pun saling menautkan bibir. Sayangnya seorang yang lewat menegurnya."Heh kalian ini tidak tahu tempat, anak zaman sekarang memang pikirannya mesum semua," gerutu orang asing itu sambil berlalu setelah mengomentari kelakuan sepasang muda-mudi itu.


Raymond dan Zoya pun merasa canggung. "Bisakah kamu mengantarku ke kampus, ini hari pertamaku kuliah di sana," kata Zoya seraya melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Tentu saja, aku akan mengantarmu dengan selamat," jawab Raymond.


Para masa demonstran sudah dibubarkan oleh polisi. Kini Raymond dan Zoya bisa melewati jalan dengan aman.


"Terima kasih sudah mengantarkan aku, sampai bertemu besok," pamit Zoya sambil melambaikan tangan ke arah Raymond.


Raymond membalasnya. "Aku harap aku tidak akan menyesal mengambil keputusan ini," gumam Raymond sambil melihat kepergian Zoya.


Kemudian Raymond pun memutuskan untuk menghubungi saudara sepupunya.


"Tumben elo nelepon ada apa nih?" tanya Cjtra yang tiba-tiba mendapat panggilan telepon dari sepupunya.


"Gue butuh tumpangan," kata Raymond singkat.


"Apa? Sorry gue gak denger ini lagi di jalan kebetulan jalanan ramai, nanti gue telepon lagi ya," Citra mematikan sambungan teleponnya dengan Raymond secara sepihak.


Raymond menghela nafasnya berat. "Aku harus tinggal dimana sekarang?" gumam Raymond yang bingung.

__ADS_1


Ia tak mungkin pulang ke rumah lamanya sebab rumah itu sudah dijual. Hendra memang sengaja mengajak Raymond tinggal di luar negeri karena ia tidak bisa pisah dengan anak semata wayangnya itu.


Tapi takdir berkata lain. Hendra malah mendapatkan kenyataan pahit. Raymond, putra satu-satunya itu rela meninggalkan dirinya demi mengejar cinta anak seorang pemabuk.


__ADS_2