
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Alisha pada Raymond. Gadis itu membantu Raymond berdiri. Kemudian mereka duduk di sebuah kursi yang ada di dekatnya.
"Terima kasih," ucap Raymond sambil menahan nyeri di wajahnya.
"Ayo aku antar pulang," Alisha menawarkan bantuan tapi Raymond menolaknya.
"Tidak usah terima kasih aku bisa pulang sendiri," tolaknya.
Alisha tidak bisa berbuat apa-apa. Ia akan terlihat mencurigakan apabila memaksa mengantar Raymond pulang. "Baiklah, hati-hati," kata Alisha.
Raymond pun pulang dengan menaiki ojek online yang telah ia pesan. Alisha hanya bisa melihat kepergian Raymond.
"Aku akqn bersabar untuk sementara waktu, perlahan aku akan menaklukkan hatimu Raymond," gumamnya.
...***...
Sesampainya di tempat kos Raymond mengambil kotak obat untuk mengobati wajahnya yang lebam akibat pukulan yang dilayangkan Leon.
"Aaarrgh, kenapa jadi begini," ia kesal saat mengingat kejadian hari ini.
Nafasnya naik turun karena merasa geram. "Zoya suatu saat cinta kita pasti akan bersatu," gumam Raymond.
Sementara itu di rumah Leon Zoya terus saja menangis. Ia tidak menyangka Leon sangat menentang hubungannya dengan Raymond.
"Apa salahnya kalau aku mencintai Raymond, dia sudah melupakan kak Nuna, yang ada di dalam hatinya hanya aku kak," kata Zoya do sela-sela tangisannya.
Dia berharap kakaknya bisa memahami perasaanya. "Apa yang kamu harapkan dari laku-laki yang tidak jelas masa depannya itu?" bentak Leon.
"Bang, jangan memandang seseorang hanya dari materi, hari ini mungkin dia miskin tapi roda kehidupan itu berputar siapa tahu nanti dia juga bisa sesukses Abang," Zoya mencoba memberi Leon pengertian.
__ADS_1
"Hmfh kamu yakin dia bisa membahagiakan kamu, kamu juga yakin cintanya padamu itu bukan karena ingin balas dendam padaku?" Leon tersenyum sinis.
Zoya tidak menjawab ia memilih berlari ke dalam kamar. "Tuhan apa yang harus aku lakukan?" Air matanya terus mengalir seperti aliran sungai.
...***...
Di lain hari Nuna menjenguk calon ibu mertuanya. "Alisha aku bawakan makanan untukmu, dimana Zoya? Kenapa aku tidak melihatnya?" tanya Nuna.
"Dia dihukum oleh kak Leon."
"Apa salahnya?" tanya Nuna penasaran. Alisha menggedikkan bahu. Lalu Nuna menelepon Leon.
"Sayang bisa kita bicara?" tanya Nuna oada Leon melalui sambungan telepon.
"Bicaralah!" jawab Leon.
...***...
"Sayang," Leon melambaikan tangan saat melihat Nuna sudah duduk di meja restoran.
"Sudah lama nunggunya? Maaf aku tidak bisa menjemputmu," kata Leon tidak enak.
"Iya tidak apa-apa," balsa Nuna.
Setelah itu mereka memesan makanan. "Sayang, apa kamu kemaren kesal itu ada hubungannya sama Zoya?" tanya Nuna sedikit ragu.
"Iya." Leon menaruh sendoknya.
"Apa yang membuat kamu kesal padanya? Kalau ada masalah bicarakanlah baik-baik," saran Nuna sambil mengelus tangan calon suaminya itu.
__ADS_1
Leon menghela nafasnya panjang. "Dia berhubungan dengan Raymond," ungkap Leon. Nuna menutup mulutnya tidak percaya.
"Sejak kapan mereka saling kenal?" tanya Nuna penasaran.
"Sejak Raymond pindah ke Paris. Mereka bertetangga." Leon semakin tidak bernaf*su unyuk menghabiskan makanannya.
"Apa mereka saling mencintai?" tanya Nuna.
"Aku tidak akan merestui mereka," sungut Leon.
"Jangan berkata seperti itu,ini bukan dirimu Leon. Apa karena Raymond pernah tertarik padaku lalu kau takut dia kembali mengejarku?" tanya Nuna.
"Aku lebih khawatir lagi kalau dia balas dendam padaku dengan memanfaatkan kebaikan Zoya," tuduh Leon pada Raymond.
"Tidak Leon, selama aku mengenal Raymond dia adalah pemuda yang baik, dia juga tidak breng*sek seperti kebanyakan laki-laki," kata Nuna membela Raymond.
"Jadi maksudmu aku lebih breng*sek karena pernah menikahi sahabatmu?" teriak Leon.
Laki-laki itu pun pergi meninggalkan Nuna. Muna tak kuasa menahan air matanya. Tak mau orang lain melihatnya, ia menyeka air mata yang jatuh di pipi dengan kasar.
"Kenapa kamu berubah sekasar ini Leon?" gumam Nuna dengan lirih.
Kemudian Nuna membayar makanan tersebut lalu pergi. Ia menaiki taksi untuk sampai kw rumahnya.
Pada saat di jalan, Nuna berpikir untuk membantu Zoya dan Raymond. "Mereka berhak bahagia," gumam Nuna.
Ia pun tak jadi pulang ke rumahnya tapi ia mampir di sebuah tempat. Nuna menelepon Raymond. Ternyata nomor ponselnya masih aktif.
"Hallo bisa bertemu sekarang?" tanya Nuna oada Raymond melalui sambungan teleponnya.
__ADS_1