
Pagi ini Leon mendapatkan telepon dari ibunya."Leon apa kamu sudah bertemu dengan calon tunanganmu?" tanya ibunda Leon dari ujung telepon.
"Apa? siapa?" tanya Leon tidak mengerti.
"Apa kau tidak bertemu dengannya semalam, anak tuan Amir," tanya Ariana.
"Ma, aku tidak mau dijodohkan dengan siapapun," tolak Leon.
"Mama tidak suka dibantah, kamu harus mendapatkan pasangan yang sederajat dengan kita," kata-kata Ariana membuat Leon muak.
"Ma Leon sudah dewasa dan untuk masalah jodoh Leon sudah punya wanita yang Leon cintai," terang Leon berusaha tidak emosi.
"Putuskan dia, mama akan berikan dia uang berapapun yang dia mau,"
Tut tut tut
Ariana memutus panggilan sepihak. Perjodohan? **** ternyata tebakan Alisha semalam benar. Bodohnya Leon tidak curiga sama sekali.
"Assial," Leon mengacak rambutnya frustasi.
Tok tok tok
"Masuk,"
__ADS_1
"Pak saya hanya mau nyerahin berkas yang harus bapak tanda tangani," kata Raya sambil meletakkan beberapa map di atas meja atasannya.
"Dia kenapa? sepertinya sedang ada masalah," tebak Raya tentu saja hanya berani membatin.
"Taruh saja di situ," kata Leon dengan ekspresi wajah datar.
"Baik pak, saya permisi," pamit Raya.
Setelah keluar Raya mengeluarkan onsel dari saku rokny dan mengirim chat kepada sahabatnya.
Raya : Nun cowok lo lagi ada masalah ya, gue lihat dia gusar banget
Nuna : Gak tahu gue, terakhir gue ketemu dia kemaren pagi pas nganterin gue ke toko setelah itu kita belum ketemuan.
"Ada apa ya dengan Leon? kalau ada masalah kenapa tidak cerita sama aku," batin Nuna.
"Silahkan kak, mampir ke toko bunga kami," kata Nuna pada salah seorang yang lewat sambil memberikan selebaran.
"Mau aku bantu?" suara bariton itu membuat Nuna menoleh.
"Ah Raymond, tidak perlu nanti kamu capek," canda Nuna.
"Udah sini biar aku bantuin supaya cepet selesai, habis itu kita makan siang bareng ya," Raymond mengambil selebaran yang ada di tangan Nuna.
__ADS_1
Nuna hanya bisa pasrah. Ia melihat Raymond rajin sekali membagikan selebaran promoai tokonya. Ia jadi merasa senang.
Terima kasih banyak ya, kamu udah bantu aku," kata Nuna dengan tulus.
"Gak masalah aku ngebantu kakak biar kakak mau makan siang bareng aku," Nuna tersenyum. Ia tahu Raymond hanya becanda.
"Ya sudah ayo, kita makan deket sini aja ya," ajak Nuna ke sebuah warteg dekat tokonya.
Nuna dan Raymond pun berjalan bersama. "Maaf hanya bisa traktir kamu di warteg," kata Nuna yang merasa tidak enak.
"Di sini malah enak tahu menunya, harganya murah udah dapat sepiring, coba kalau makan di restoran bawa uang lima puluh ribu aja kurang," kelakar Raymond yang membuat Nuna tertawa.
"Kamu gak kuliah?" tanya Nuna pada pemuda yang sedang makan bersamanya.
"Hari ini dosennya izin, jadi gak ada mata kuliah sama sekali," bohong Raymond.
"Oh ya, enak dong kamu bisa main," kata Nuna.
"Kak maaf," Raymond mengusap bibir Nuna yang belepotan.
Ia sedikit kaget saat tangan Raymond mengelap bibirnya. Jantung Nuna berdebar saat Raymond menyentuh bibirnya dengan lembut.
Di seberang jalan seseorang sedang mengawasi keduanya sambil mengambil gambar dari dalam mobil. Ia tersenyum menyeringai.
__ADS_1
...❤️❤️❤️...
KLIK 💙 kalau kalian mau lanjut ceritanya besok. Poinnya yang kenceng ya dears.