
"Raymond ada apa dengan mukamu?" tanya Zoya seraya memegang wajah Raymond yang terlihat lebam.
"Aku tidak apa-apa, masuklah!" ajaknya.
Zoya memasuki rumah kontrakan Raymond. Bersih itu kesan pertama saat melihat rumah kontrakan seorang lajang.
"Apa lukamu sudah diobati?" Tanya Zoya kembali mengkhawatirkan Raymond.
"Sudah, ada apa kamu datang kemari?" tanya Raymond pada Zoya.
"Aku hanya ingin berterimakasih padamu karena telah menolongku semalam," kata Zoya dengan tulus.
"Tidak masalah kebetulan aku sedang bekerja di bar itu menggantikan temanku yang izin," ungkap Raymond.
"Tapi apa semalam kamu bertemu dengan Bang Leon?" tanya Zoya dengan hati-hati.
"Baru tadi pagi aku bertemu dengannya lalu dipukuli," Raymond tersenyum kecut.
Zoya menggelengkan kepalanya tidak percaya bahwa Leon nekat menghajar Raymond karena telah menolongnya semalam.
"Abang pasti salah paham denganmu,, aku harus bicara dengannya." Zoya berniat bangun tapi Raymond mencekal tangannya.
"Tidak usah Zoy, Leon akan semakin membenciku kalau kamu melakukan hal itu, dia pasti akan berpikir kalau aku mengadu padamu."
Zoya pun kembali duduk. "Aku minta maaf atas nama Bang Leon, Entah mengapa dia belum bisa menerimamu saat ini," kata Zoya dengan wajah sendu.
Raymond mendekat lalu menggengam tangan gadis yang duduk di depannya itu. "Zoy, apa kamu masih mencintaiku?" Zoya mengangguk. Matanya berkaca-kaca.
"Aku sangat mencintai kamu, aku kesini diam-diam tanpa sepengetahuan Abangku. Aku harap suatu hari nanti kita bisa bersama."
Raymond menatap ke dalam mata Zoya. "Terima kasih memberiku kepercayaan, aku akan buktikan pada kakakmu kalau aku juga bisa membahagiakan adiknya." Mereka pun berpelukan untuk saling menguatkan satu sama lainnya.
"Zoy, ada yang ingin aku katakan padamu," perkataan Raymond membuat Zoya penasaran.
"Katakan saja!"
__ADS_1
"Aku bertemu papamu di pemakaman ibumu."
Mata Zoya membelalak ketika mendengar itu dari mulut Raymond. "Apa kamu serius? Mana mungkin dia kesini? Lalu tinggal dimana dia sekarang?" cecar Zoya dengan nada bergetar. Ia tidak bisa menahan tangisannya.
Antara bahagia karena mendengar papanya masih hidup tapi juga sedih karena dia tidak tahu keberadaan papanya.
"Aku tidak tahu, aku hanya diminta untuk tidak bicara denganmu kalau waktu itu aku bertemu dengannya."
...***...
Di tempat lain Citra mendatangi toko bunga milik Nuna sepulang kerja. "Eh Cit ada apaan? Tumben kemari."
"Nun gue lihat Leon habis mukulin Raymond saat mereka di rumah sakit," kata Citra.
"Ah yang bener?" Nuna sedikit terkejut dengan apa yang diomongkan oleh sahabatnya itu.
"Ada masalah apa?" tanya Nuna yang penasaran.
"Gue gak tahu tapi yang jelas Leon nyebut nama Zoya waktu itu." Citra berusaha mengingat-ingat.
"Gue gak tahu tapi gue lihat lukanya sudah diobati, tadi dia izin pulang duluan," terang Citra.
"Semoga dia tidak mengalami luka yang serius," kata Nuna.
"Ya udah gue balik ya Nun, gue cuma khawatir aja Leon berbuat nekat pada Raymond," pamit Citra
...***...
Malam ini Nuna datang ke rumah Leon. "Eh kak Nuna ada apa?" tanya Alisha.
"Kakakmu ada?" Nuna menjawab pertanyaan Alisha dengan pertanyaan.
"Aku panggilin dulu ya, kakak silakan duduk dulu aku juga akan buatin kakak teh hangat."
"Gak usah Alisha kakak hanya sebentar," tolaknya.
__ADS_1
"Baik kak." Lalu Alisha berteriak memanggil nama Leon sampai seisi rumah mendengarnya.
"Alisha jangan berteriak, hampiri dan katakan aku mencarinya." Nuna memberi saran. Alisha mengangguk patuh.
Tak lama kemudian Zoya keluar dari kamarnya. "Eh kak Nuna, udah lama nunggunya?" tanya calon adik iparnya itu.
"Barusan," jawab Nuna singkat.
"Ya sudah aku tinggal dulu ke belakang ya kak?" pamit Zoya. Zoya berpapasan dengan Alisha yang membawakan nampan berisi dua cangkir teh untuk Nuna dan Leon tentunya.
"Diminum kak," perintah Alisha lalu pergi.
"Sayang," panggil Leon. Ia menghampiri Nuna. "Kok nggak ngasih kabar dulu sebelum ke sini?" tanya Leon.
"Leon, bilang jujur sama aku! Kamu mukulin Raymond ya?" Tanya Nuna memberanikan diri.
"Iya, kenapa dia ngadu sama kamu? Dasar laki-laki breng*sek," umpat Leon.
"Benar kata Raymond, apa yang akan aku lakukan kemaren sama seperti kak Nuna, abang menuduh Raymond mengadu padanya" batin Zoya. Ia menguping di balik ruang dapur.
"Tidak, tapi semua orang yang ada di rumah sakit tahu jika kamu menghajar dia habis-habisan," jawaban Nuna membuat Leon mematung.
Leon mengepalkan tangan dan mengeraskan rahangnya karena menahan marah. "Dia mengajak Zoya mabuk-mabukan, apa aku salah kalau menghajarnya?" Leon menoleh ke arah Zoya.
"Tidak, itu tidak benar, aku dicekoki minuman oleh teman kampusku, Raymond yang menolongku," sahut Zoya yang tidak terima dengan tuduhan kakaknya terhadap Raymond.
Nuna mengusap lengan Leon agar dia sedikit tenang. "Leon kamu jangan terus-terusan seperti ini, berilah kesempatan pada Raymond untuk membuktikan bahwa dia bisa membahagiakan Zoya."
Leon menoleh ke arah Nuna. Nuna mengangguk memberikan kode supaya ia menuruti perkataannya.
"Baiklah, kali ini aku mengaku salah," ucap Leon dengan tenang.
"Maukah kamu meminta maaf pada Raymond?" pinta Nuna dengan lembut. Leon hanya menyeringai.
...***...
__ADS_1
Kira-kira dia mau minta maaf apa gak ya sama Raymond? Apa Leon lebih mementingkan gengsimya?