
"Raymond kirimkan berkas ini ke alamat ini, jangan sampai ada yang tahu karena itu dokumen yang sangat penting," kata Leon memperingatkan.
"Isinya apa ini Pak?" tanya Raymond penasaran.
"Kamu tidak perlu tahu, tugasmu hanya mengantar dokumen itu ke alamat yang sudah kuberitahukan." Raymond mengangguk paham.
Lalu ia pun keluar dari ruangan Leon. "Heh elo dikasih tugas apa hari ini sama Pak Leon?" tanya Raya penasaran.
"Disuruh nganter dokumen ke alamat ini," jawab Raymond sambil menunjukkan dokumen yang ia pegang.
"Hati-hati jangan sampai hilang, itu dokumen penting." Kini Raya yang mengingatkan.
"Iya ya bawel," gerutu Raymond.
"Yee dibilangin juga," protes Raya yang kesal.
Raymond pun menuju ke alamat yang dituju di sebuah kantor yang tak kalah besarnya dengan perusahaan milik Leon.
Raymond berhenti di meja resepsionis. "Permisi saya ingin menyampaikan dokumen ini pada Pak Antoni," kata Raymond pada resepsionis tersebut.
"Bisa saya lihat dulu apa isi dokumennya?" tanyanya.
"Maaf sesuai dengan perintah bos saya, saya tidak boleh memperlihatkan dokumen ini pada siapapun, ini dokumen rahasia." Tegas Raymond dia tak mau ambil resiko maka dia yang akan mengantarnya sendiri pada Antoni.
"Baiklah saya akan hubungi sekertarisnya dulu," kata resepsionis tersebut. Dia kemudian menelepon bagian sekertaris untuk memyampaikan bahwa seseorang ingin menemui atasannya.
Raymond merogoh ponselnya untuk mengecek pesan yang masuk. Kala ia sedang sibuk bermain dengan ponselnya seseorang menukar dokumen yang dibawa oleh Raymond.
"Pak, anda bisa menemui Pak Antoni di ruangannya," kata pegawai tersebut. Lalu Satpam mengantarkan Raymond ke ruangan Antoni.
__ADS_1
"Selamat pagi, Pak. Saya dari DR Art ingin menyampaikan dokumen ini pada Bapak."
"Owh kamu utusannya Tuan Nando Surya?" tanya Antoni.
"Bukan, Pak. Perusahaan telah beralih atas nama anaknya Leon Dilaraga. Saya diutus beliau untuk datang kemari." Ucapan Raymond yang tegas membuat Antoni tertarik padanya.
"Baiklah taruh saja dokumennya di situ, akan kukabari setelah kuperiksa nanti," kata Antoni.
"Saya permisi."
"Tunggu, siapa namamu?" tanya Antoni.
"Saya Raymond, Pak."
Setelah itu Raymond yang sejak tadi menahan napas saat bertemu Antoni kini bisa merasa lega. "Semoga tidak ada masalah apapun ke depannya."
Raymond kembali ke kantornya sendiri. Namun, saat ia berada di lampu merah tiba-tiba ban mobilnya kempes. "Assial, tidak ada tambal ban lagi di sekitar sini," gerutu Raymond.
"Raymond," panggil Alisha yang baru turun dari mobilnya. Ia mengendarai mobil sendiri.
"Kamu sekarang bekerja dimana?" Mata Alisha memindai penampilan Raymond yang berbeda daei biasanya.
"Aku..." Raymond ragu untuk menjawab. Ia lalu mengalihkan pembicaraan. "Kamu punya tukang bengkel langganan tidak, ban mobilku kempes."
"Tidak tapi aku bisa tanya kak Leon."
"Oh jangan, sebaiknya aku perbaiki sendiri," kata Raymond.
Ia pun melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya sampai siku. Di mata Alisha Raymond begitu keren.
__ADS_1
"Oh aku tidak ingin melakukan ini lagi selagi aku memakai jas." Raymond merasa tidak leluasa bergerak saat ia memakai setelan kantor makanya ia menggerutu.
...***...
Di tempat lain Leon merasa resah karena Raymond tak juga kembali. Ia pun keluar ruangan dan menanyakannya pada Raya.
"Saya tidak tahu, Pak."
"Kemana dia sebenarnya?"
Tak lama kemudian telepon di meja Raya berbunyi. Ia pun mengangkatnya. "Hallo."
(.....)
"Baik, Pak. Maaf atas kelalaian pegawai kami." Raya menutup teleponnya.
"Ada apa Ray, seperti sangat serius."
"Pak perusaah Pak Antoni protes tentang konsep iklan yang kita buat tidak sesuai dengan keinginan mereka," terang Raya menyampaikan keluhan kliennya.
"Apa? Tidak mungkin, aku sudah lihat hasil kerja bagian periklanan, mereka membuatnya sesuai keinginan perusahaan Pak Antoni."
"Raymond, sebenarnya apa yang ia perbuat." Leon mengepalkan tangannya karena menahan amarah.
"Suruh dia menghadap kalau sudah datang." Leon berkata dengan tatapan dinginny.
Raya pun bergidik ngeri melihat sikap atasannya itu. Kamudian ia mengubungi ponsel Raymond. "Ck, kenapa juga nomornya gak aktif di saat seperti ini," gerutu Raya.
Raya masih mencobanya sampai dia putus asa. Lalu ia putuskan menghubungi Zoya.
__ADS_1
"Raymond nggak sama aku kak," jawab Zoya melalui sambungan telepon. Raya pun menutup teleponnya. "Fix elo dalam masalah besar Raymond."