
Leon mengendarai mobil dengan kencang.Sesampainya di halaman rumah ia segera memasuki rumahnya dengan langkah setengah berlari.
Safira mengikuti mobil suaminya hingga sampai di rumah. Ia meninggalkan Jonas begitu saja tanpa menghiraukan panggilannya. Yang terpenting bagi Safira sekarang adalah meyakinkan suaminya agar tidak berujung dengan perceraian.Meski Leon memperlakukannya dengan buruk tapi Safira tak mau kehillangan aset kekayaannya.
"Leon tunggu," teriak Safira yang baru saja menutup pintu mobilnya dengan kasar.
Ia mencoba menyamai langkah sang suami. Safira pun berusaha meraih pergelangan tangan Leon. Namun Leon menghempaskan tangan istrinya dengan kasar.
"Leon dengerin penjelasan aku," mohon Safira dengan berderai air mata.
Ariana yang mendengar kegaduhan di rumahnya langsung keluar dari kamar. Begitupun dengan Alisha.
"Ada apa ini?" tanya Ariana.
"Aku mau cerai dari Safira," Leon memberanikan diri untuk mengatakan keinginannya pada sang ibu.
"Ada masalah apa sampai kamu menceraikan istrimu?" sentak Ariana.
__ADS_1
Alisha yang sadar akan situasinya lalu memilih untuk kembali masuk ke dalam kamar. Ia tak mau mencampuri urusan orang dewasa yang menurutnya ribet.
"Mama lihat ini," Leon mengeluarkan ponselnya yang ia simpan di saku celananya.
Namun saat tangan Ariana hendak meraihnya Safira lebih dulu menjatuhkan ponsel milik Leon hingga layar ponsel tersebut pecah karena terbentur begitu keras dengan lantai.
"Safira," sungut Leon.
"Kenapa kamu membuang ponsel Leon?" tanya Ariana.
"Bukti apa?"
"Bukti perselingkuhannya ma," sahut Leon.
"Apa?" (zoom in, zoom out)
"Apa yang dikatakan oleh Leon itu tidak benar ma, dia hanya mengarang cerita agar dia bisa berpisah dariku," kata Safira dengan tatapan mengiba.
__ADS_1
Ariana yang melihat menantunya menangis jadi tidak tega.Ia berfikir mana mungkin wanita di hadapannya itu berselingkuh secara dia selalu bersikap baik di matanya.
"Sudahlah Leon maafkan istrimu," merasa dibela oleh ibu mertuanya Safira pun tersenyum dalam hati.
"Mungkin kamu salah sangka dengan Safira, bukankah dia sangat mencintaimu iya kan sayang?" Ariana meminta dukungan Safira.Safira mengangguk membenarkan omongan Ariana.
"Terserah mama, aku tetap pada pendirianku," Leon masuk ke dalam kamar seraya membanting pintu. Suara keras tersebut membuat wanita beda generasi itu tersentak kaget.
"Sudahlah biarkan dulu dia sendiri, besok kalau sudah tenang kau dekati lagi suamimu, minta maaf dan rebut kembali hatinya," saran Ariana untuk menantunya.Safira mengangguk pelan. Ia merasa menang karena ibu mertuanya itu ada di pihaknya.
Sementara itu Leon melepas kaos yang ia kenakan. Ia memasuki kamar mandi dengan dada telan jang. Di dalam kamar mandi yang lengkap dengan fasilitas yang terbilang cukup mewah itu, ia menyalakan keran shower.
Leon berdiri di bawah guyuran air yang mengalir ke bawah.Matanya terpejam. Ia berharap dengan mendinginkan kepala dan badannya ia bisa menghilangkan emosi yang meluap-luap.
Ibunya itu sangat menyebalkan menurutnya. Bisa-bisanya membela wanita culas seperti Safira. Bahkan omongan Leon tak dihiraukannya. Leon menghembuskan nafasnya kasar. Ia meraup mukanya yang basah agar air tak masuk ke hidung.
Sekilas bayangan Nuna mampir dalam pikrannya. Ia membuka mata. "Nuna aku mohon tunggulah sebentar lagi, aku akan mempersatukan cinta kita seperti dulu," gumam Leon dalam ritual mandinya.
__ADS_1