
Selepas melepas Riko, Dita yang ingin masuk ke dalam kantor melihat refleksi mobil Mas Ryan yang terparkir dari pintu kaca kantornya. Dipalingkannya wajah nya, ternyata memang benar mobil Mas Ryan.
Ia sedikit membuka pintu kantornya kemudian memberitahu front officernya bahwa ia akan pulang, kemudian langsung bergegas menuju mobil karena takut terlambat menjemput Xander.
Dita masuk ke dalam mobil dengan senyum manis untuk suaminya. "Kamu sudah lama menunggu Mas? Kenapa tidak menelepon?" tanya Dita.
"Aku takut mengganggu, sepertinya tadi kamu lagi sibuk" jawab Mas Ryan dengan muka datar.
Dita merasa ada yang aneh dengan suaminya. Tidak biasanya Mas Ryan meresponnya dengan datar dan dingin seperti ini.
Dita memegang pundak Mas Ryan yang sedang menyetir, "Ada apa Mas?" tanyanya lembut.
__ADS_1
"Aku ada salah? Kok kamu jadi aneh begitu sikapnya?" lanjutnya berhati-hati.
Mas Ryan menghela nafas. Di satu sisi ia tak ingin bersikap seperti ini pada Dita. Namun ia tidak bisa menahan rasa tidak nyaman dihatinya setelah melihat istrinya bersikap seramah itu pada laki-laki lain. Apalagi laki-laki itu terlihat tampan dan jauh lebih muda dibanding dirinya.
Mas Ryan tidak menjawab pertanyaan Dita dan terus fokus menyetir. Dita yang semakin heran pun kembali menodongkan pertanyaan. "Mas, kenapa tadi tidak memberi tahu kalau sudah sampai? Apa kamu menunggu terlalu lama terus kesal?" tanyanya menyelidik.
"Sepertinya tadi kamu lagi sibuk dengan customer sampai-sampai harus mengantarkannya sampai ke parkiran. Apa pelayanan untuk customer sekarang sudah berubah?" ucap Mas Ryan tanpa memalingkan pandangannya dari jalanan.
Dita langsung paham ternyata suaminya itu sedang cemburu. Padahal tadi ia merasa melakukan hal yang wajar, tidak ada yang berlebihan. Tapi mungkin di mata orang yang sedang cemburu, semuanya tampak salah dan berlebihan.
"Maas" ucap Dita dengan berhati-hati.
__ADS_1
"Itu tadi teman kuliahku dulu, namanya Riko. Tadi kebetulan dia datang karena tertarik sama unit rumah, terus langsung dilayani sama karyawan, kebetulan ketemu aku. Karena kenal, makanya aku sekalian antar ke depan sambil ngobrol, cuma itu Mas, tidak ada yang lebih" jelas Dita sambil melihat wajah Mas Ryan yang masih fokus menyetir.
"Aku minta maaf ya kalau sikapku terhadap temanku berlebihan, aku sama sekali tidak ada maksud untuk buat kamu marah" lanjutnya lagi.
Karena dilihatnya tidak ada respon sama sekali, Dita mulai kesal kemudian memalingkan wajahnya ke jendela disampingnya. Suasana di dalam mobil menjadi panas. Mereka saling terdiam dengan pikiran masing-masing.
Sesampainya di sekolah Xander, terlihat masih sepi. Hanya terlihat kendaraan para orang tua yang ingin menjemput anaknya. Mas Ryan memarkirkan mobil di sela-sela kendaraan lain.
Mereka masih belum bersuara. Dita masih diam menatap ke jendela. Mas Ryan masih betah dengan diamnya.
Selama menunggu Xander pulang sekolah, suasana di dalam mobil sepi seperti tak ada penghuninya.
__ADS_1
Tiba-tiba Mas Ryan meraih tangan Dita. Di letakkannya di dadanya. Namun masih diam seribu bahasa. Dita menoleh ke arah suaminya dengan ekspresi kesal.
"Maaf ya, aku berlebihan" ucap Mas Ryan sambil menarik Dita ke pelukannya.