
Pagi itu mobil Mas Ryan memasuki halaman rumah, Dita hanya mengintip sekilas kemudian membukakan pintu.
Melihat Dita yang membukakan pintu untuknya, ia pun cepat-cepat turun dan menghampiri. Namun baru saja Mas Ryan ingin mengecup kening Dita, tiba-tiba Xander datang berlari menghambur ke dalam pelukan papanya. Dita yang geli melihat Mas Ryan yang gagal menciumnya hanya terkikik.
"Ayo kita lihat-lihat sekolah buat Xander ya nak" ucap Mas Ryan sambil meggendong anaknya masuk ke dalam rumah.
Dita yang sudah bersiap segera menyambar tasnya, kemudian memperbaiki baju Xander yang terlihat awut-awutan karena tidak berhenti bermain.
Terlihat Mas Ryan masuk ke kamarnya, seperti sedang mencari sesuatu di dalam laci. Tak lama kemudian terdengar suaranya memanggil Dita yang masih sibuk dengan Xander.
Dengan tergopoh-gopoh Dita pun datang menghampiri. Mas Ryan masih sibuk membolak-balikkan berkas, "Sini berkas kamu, biar sekalian ditaruh di sini" ucapnya sambil menyodorkan sebuah map plastik bening.
"Berkas apa Mas?" tanya Dita bingung.
"Berkas untuk pernikahan kita lah sayang" jawabnya.
__ADS_1
Mas Ryan memang selalu mengurus semua sendiri, padahal ia bisa saja menyuruh orang untuk menguruskan berkas pernikahannya atau bisa juga menggunakan jasa calo agar ia terima beres. Namun Mas Ryan jarang sekali seperti itu, selama ia bisa mengerjakannya sendiri pasti akan ia urus sendiri. Sangat jarang baginya menunjukkan kekuasaannya, makanya ia dikenal low profile oleh rekan-rekannya.
"Langsung di urus hari ini Mas?" tanya Dita heran. Padahal baru tadi malam ia mengiyakan ajakan menikah dari Mas Ryan.
"Iya, kalau perlu hari ini juga kita menikah" ucapnya sambil tersenyum jahil.
Dita terbahak melihat Mas Ryan yang sudah tidak sabaran untuk segera menikah.
"Kamu kira enak aku tidur sendirian di apartement, sepi, sunyi, kalau di sini kan enak, ada kamu" ucapnya sambil mengalungkan tangan di pinggang Dita.
Namun Dita segera menarik dirinya, kemudian mencubit pinggang Mas Ryan, "Sabaar".
Kini tinggallah Mas Ryan yang sedang kepalang tanggung. Makin menjadi-jadi hasratnya untuk segera menikah. Makin dekat dengan Dita makin sulit baginya untuk mengontrol diri.
Tiba-tiba Dita masuk lagi ke kamar Mas Ryan, ia langsung tersenyum senang. Dikiranya Dita akan melanjutkan yang terputus tadi, tapi ternyata Dita datang untuk mengambil map yang diberikan Mas Ryan tadi.
__ADS_1
"Mas" panggil Dita sambil meraih map bening yang tertinggal di kamar Mas Ryan.
"Iyaa, kenapa?" jawab Mas Ryan kemudian.
"Acaranya hanya keluarga saja ya, aku maunya hanya sederhana saja, yang penting sakral dan lancar" pintanya pada Mas Ryan.
"Tapi inikan yang pertama bagimu, apa kamu tidak mau yang lebih berkesan?" tanya Mas Ryan sambil duduk di atas tempat tidurnya.
"Tidak apa-apa Mas, sekarang sudah ada Xander, aku tidak perlu yang begitu lagi, kalau untuk sekedar foto nanti kapan-kapan kita bisa foto," jawabnya dengan santai.
Mas Ryan tersenyum dan mengangguk setuju, "Terus acaranya kapan?".
"Minggu depan" ucap Dita mantap.
Mas Ryan tersenyum puas mendengar jawaban Dita. Kini pikirannya dipenuhi oleh rasa tidak sabar untuk segera menjadi suami dan istri yang sah dengan Dita, dan berharap mereka dapat menua bersama.
__ADS_1