
Dirabanya saku celananya, di carinya nomor kontak Dimas. Mas Ryan menelepon Dimas untuk meminta alamat Sherly, sahabat Dimas dan Dita.
Sepertinya ini satu-satunya harapan saat ini, yaitu bertanya pada Sherly. Sherly pasti tahu Dita pindah kemana.
Tak lama kemudian masuklah pesan dari Dimas yang berisi alamat Sherly. Segera di mintanya supir untuk mengantarkannya ke sana.
Saat itu Sherly sedang membuka kunci kamarnya. Ia baru saja pulang bekerja ketika tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara seorang lelaki yang memanggilnya.
"Sherly" ucap Mas Ryan.
Sherly pun menoleh ke arah suara dan sangat terkejut begitu melihat Mas Ryanlah yang memanggilnya.
Namun panik tak akan menyelesaikan masalah, mau tak mau ia harus menghadapi Mas Ryan dan sudah bisa menebak akan maksud Mas Ryan menemui dirinya.
Setelah kurang lebih satu jam bernegosiasi alot, akhirnya ia terpaksa memberi tahu Mas Ryan tentang alamat Dita. Ia kini sudah tidak bisa mengelak. Mungkin sampai di sinilah usahanya untuk menutupi tentang sahabatnya itu. Ia berharap Dita bisa memaafkannya, karena ia tidak punya pilihan lain selain memberi tahu Mas Ryan.
__ADS_1
Atau mungkin sudah saatnya Dita untuk berdamai dengan masa lalunya. Memaafkan dirinya sendiri hingga mengalah pada takdir.
***
"Nak, simpan dulu bolanya ya. Kita kan mau pergi" ucap Dita pada anaknya yang masih asyik memainkan sebuah bola berwarna biru muda. Tampak Dita sedang memoleskan lipstik berwarna nude pada bibirnya.
Sambil mengecek make upnya di kaca, kemudian Dita meraih tas dan ponselnya yang sudah ia persiapkan. Ia dan Xander akan pergi makan di luar karena Xander yang baru saja sembuh dari sakitnya itu terus merengek untuk makan di restoran yakiniku kesukaannya. Akhirnya malam ini Dita mengabulkan permintaan anaknya itu.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 20.00. Mereka harus segera berangkat agar tidak kemalaman. Di liriknya ke sekitar, ternyata Xander tidak ada, padahal tadi masih memainkan bolanya di dekat Dita.
Dita seketika panik takut Xander pergi entah kemana karena pintu flat yang terbuka. Ia takut Xander menuju tangga yang bisa membahayakan dirinya. Buru-buru ia keluar untuk mencari keberadaan anaknya.
Dipanggilnya anaknya dengan cemas sambil berlari menuju pintu, "Xander, naaak, Xandeeer".
Tiba-tiba lidahnya tercekat, bibirnya kelu, pita suaranya seakan tak mampu bekerja. Pandangannya tertuju pada seseorang yang sedang memberikan bola pada Xander.
__ADS_1
Ia belum lupa dengan orang itu, masih sangat kental dalam ingatannya meski telah bertahun-tahun lamanya. Orang yang masih memiliki ruang di hatinya hingga kini. Orang yang dulu mampu menaklukannya dengan segala pesonanya.
Seketika cairan panas mendesak keluar dari ujung matanya, mendobrak pertahanan Dita yang tak dapat ia bendung.
Ada rasa rindu yang kini kembali hadir setelah sekian lama ia kubur. Mungkin kini adalah saat dimana takdir menjawab segala teka-tekinya, takdir yang mempertemukan mereka.
Mas Ryan yang menunduk sedang memberikan bola pada Xander kemudian mengangkat kepalanya. Ia melihat wanita yang selama ini ia cari kini ada dihadapannya, sedang mematung membeku tanpa kata.
Kemudian ia melirik ke arah anak kecil yang ada di dekatnya. Dilihatnya wajah anak itu kemudian kembali melihat Dita yang masih terdiam. Dita seakan tahu maksud dari lirikan itu kemudian mengangguk sambil terisak.
Mas Ryan spontan memeluk Xander yang ada di dekatnya. Tangisnya pecah tak dapat tertahankan. Tangis yang terdengar kian lirih dan menyayat hati. Pertemuan antara ayah dan anak yang penuh dengan keharuan. Semua yang tertahankan kini ia tumpahkan.
Xander terlihat bingung karena Mas Ryan yang tiba-tiba memeluknya kemudian menangis. Di liriknya ibunya yang juga sedang terisak. Usianya belum mampu mencerna apa yang sedang terjadi saat ini, kini ia hanya terdiam tak berani bergerak karena Mas Ryan memeluknya dengan erat.
Setelah dibiarkannya Mas Ryan menumpahkan rasa sesak dihatinya, akhirnya Dita berjalan menghampiri Mas Ryan. Di elusnya pundak lelaki itu, "Mas, kita masuk dulu" ucapnya sambil menarik lengan Mas Ryan yang basah karena air mata. Di gandengnya tangan Xander, kemudian mereka masuk ke dalam.
__ADS_1