Mencintai Suami Wanita Lain

Mencintai Suami Wanita Lain
BAB 61


__ADS_3

Dita hari ini berniat untuk ke bank. Guna untuk membuat rekening baru dan menutup rekening lamanya. Ia tidak ingin lagi Mas Ryan mentransfer uang padanya. Ia bisa menghidupi dirinya sendiri dan anak yang ada dalam kandungannya.


Kalaupun anaknya nanti harus bertemu Mas Ryan, biarlah takdir yang membawa mereka bertemu. Tapi Dita tidak berniat lagi untuk pulang dan menemui Mas Ryan walaupun ia sudah melahirkan nanti. Dan biarkan juga takdirlah yang akan mempertemukan dirinya dan Mas Ryan. Ia tidak mau anaknya dan dirinya hanya menjadi aib untuk Mas Ryan dan keluarganya. Cukup Dita saja yang mendapat hinaan dari keluarga Mas Ryan, anaknya jangan. Anaknya harus hidup bahagia walaupun tanpa ayahnya. Ia yakin bisa membahagiakan anaknya seorang diri.


Hari itu cukup terik bagi Dita, dengan langkah sedikit berlari ia masuk ke dalam bank. Kemudian mengambil nomor antrian dan menunggu gilirannya.


Hanya dalam waktu setengah jam kini rekening barunya sudah jadi. Kini ia tak perlu khawatir lagi. Kini ia sudah merasa benar-benar menghilang dari kehidupan Mas Ryan dan pulang ke rumah dengan perasaan lega.


Tadi ketika di bank, ketika mengisi bagian email yang harus ia cantumkan untuk mendaftar internet bankingnya ia baru ingat bahwa ia masih saja menggunakan email lamanya yang bisa saja terlacak lokasinya. Ia harus segera membuat email baru dan menonaktifkan email lamanya.

__ADS_1


Terlihat Dita yang masih serius di depan laptopnya, ia sibuk menghapus segala jejak digital yang berkaitan dengan dirinya. Sepertinya ia benar-benar sangat berniat untuk pergi dari kehidupan Mas Ryan yang dulu sempat ia rasakan manisnya. Mengingat hal itu selalu saja membuat darahnya berdesir. Segala hal tentang Mas Ryan selalu saja berhasil membuatnya terbuai. Tak disangkal ia pun sangat merindukan lelaki itu. Tapi rindu tinggallah rindu, memperbaiki harga dirinya kini tetaplah nomor satu. Ia sudah tidak ingin lagi tenggelam dalam dosa manis yang dulu mereka lakukan. Tanpa memandang norma mereka mengagungkan cinta yang kini membuat keduanya sengsara. Namun menyesali diri kini tidaklah cukup. Menjadi lebih baik adalah yang terpenting baginya.


Dita tersenyum puas tatkala menyelesaikan pembuatan akun baru pada emailnya. Kini ia hanya tinggal menonaktifkan yang lama.


Ketika dibukanya email lamanya, ia melihat puluhan bahkan mungkin ratusan email dari Mas Ryan yang kesulitan menghubungi dirinya. Di scrollnya terus tanpa berniat membukanya. Membukanya hanya membuat hatinya goyah, apalagi membalasnya. Walaupun ada desir-desir yang melewati dadanya, dan degub yang tak beraturan karena melihat banyaknya email dari Mas Ryan namun satu persatu di lewatinya dengan berhasil tanpa membukanya, sepertinya logikanya memenangkan perlombaan yang sedang berlangsung dengan hatinya.


Tiba-tiba tangannya berhenti men-scroll dan matanya tertuju pada satu email. Tertera di situ ASEAN Foundation Research Scholarship. Dibukanya dan dibacanya dengan seksama.


Dear Ms. Hanindita Amilia,

__ADS_1


Congratulations, we are delighted to offer you a full time graduate place to study in university you have choosen with full scholarship from ASEAN Foundation Research Scholarship.


Membaca sampai disitu saja membuat jantungnya hampir copot. Bahkan ia sudah hampir lupa bahwa tahun lalu sempat mengikuti serangkaian test untuk mendapatkan beasiswa S2. Namun karena pengumuman tak kunjung ia dapatkan, ia pun melupakannya. Kini kesempatan itu datang, hasil dari perjuangannya dulu kini menghampirinya.


Jika Dimas tahu dirinya mendapatkan beasiswa ini pastilah ia akan senang. Karena pada saat itu Dimaslah yang mengantarnya test, menunggunya sampai terkantuk-kantuk dan kelelahan seharian. Bahkan Dimas sampai membolos dari kantornya karena mensupport Dita hari itu.


Diliriknya perutnya yang kian membesar, di elusnya dengan penuh kasih sayang. Kenapa kesempatan itu datang di saat seperti ini. Ketika ia mulai membangun usahanya, ketika ia mulai menikmati hobby yang kini menjadi pekerjaan barunya, dan ketika dirinya tengah berbadan dua.


Seketika ia terdiam masih sambil memandangi perutnya.

__ADS_1


Tapi bukankah kesempatan ini adalah sesuatu yang ia dambakan sejak dulu, melanjutkan pendidikannya, mengejar impian dan cita-citanya.


__ADS_2