
Jam sudah menunjukkan pukul 08.30, tapi Mas Ryan terlihat masih dengan santainya menikmati nasi goreng buatan Dita. Hari ini ia akan ke kantor agak siang karena akan menemani Dita ke dokter kandungan. Sebenarnya pagi itu Dita sudah merasa jauh lebih baik, namun Mas Ryan tetap memaksa untuk ke ke dokter. Dita pun hanya bisa menurut. Selepas sarapan, Mas Ryan pun bergegas mandi dan bersiap.
Ketika keluar dari kamar mandi dilihatnya Dita yang masih saja sedang mematut dirinya di cermin, "Ya ampun sayang, dari aku sebelum mandi sampai sudah selesai mandi kamu masih berdiri di depan cermin?".
"Eh iya Mas, aku sebenarnya dari tadi mau dandan, tapi rasanya malas sekali. Aku keliatan jelek tidak Mas kalau tidak pakai make up?" tanya Dita.
"Oalah cuma perkara itu kamu sampai duduk di meja rias hampir setengah jam?" tanya Mas Ryan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dita terlihat cemberut.
Mas Ryan meraih pundak Dita, "Aku lebih suka kamu tanpa make up, terlihat natural dan cantik alami. Jadi tidak apa-apa kalau kamu malas berdandan", jawab Mas Ryan.
Jawaban Mas Ryan membuat pipi Dita bersemu merah.
Sebenarnya itu adalah jawaban jujur dari Mas Ryan. Ia lebih suka Dita dengan wajah alaminya, terlebih sejak hamil, kecantikan Dita kian terpancar. Ditambah pipinya yang terlihat semakin chubby membuat ia semakin manis dan menarik perhatian siapapun yang melihatnya.
***
Mas Ryan memarkirkan mobilnya di basement Rumah Sakit. Kemudian segera merangkul Dita untuk berjalan masuk dan menuju poli kandungan. Mas Ryan terlihat sangat bersemangat kali ini, beda seperti sebelumnya. Ia tidak sabar ingin melihat anaknya dari USG.
__ADS_1
Akhirnya tiba giliran Dita untuk masuk ke ruangan dokter. Setelah dokter menyapa mereka dan memberi kode pada Dita untuk berbaring di ranjang untuk di USG, Dita pun terlihat dibantu seorang perawat untuk berbaring di ranjang. Tak lama kemudian dokter mengarahkan alat di perut Dita. Mas Ryan berdiri di sisi kiri sambil membelai kepala Dita.
Tak lama kemudian terlihat bulatan yang masih lumayan kecil di layar.
"Perkiraan usianya sekitar 5 sampai 6 minggu ya Bu" ujar dokter yang masih fokus dengan alat USGnya.
Kemudian terdengar suara 'dug dug dug dug' sekilas seperti bergemuruh.
"Ini suara detak jantungnya Pak, Bu, terdengar normal dan sehat sekali" ujar dokter.
Seketika hati Mas Ryan langsung meleleh dan terenyuh, ia masih tidak menyangka akan segera menjadi seorang ayah. Matanya terlihat berkaca-kaca. Moment ini benar-benar menyentil sisi melankolisnya.
Dipandangnya wajah Dita. Terasa makin mendalam rasa sayangnya pada wanita yang sedang mengandung anaknya tersebut.
Hari itu ia sedang dalam suasana hati yang baik karena Dita tidak apa apa, dokter mengatakan kram perut yang dirasakan Dita cukup wajar pada usia kehamilan saat ini. Nanti akan hilang dengan sendirinya dan muncul lagi di masa menjelang akhir kehamilannya.
Setelah administrasinya selesai, Mas Ryan langsung menggandeng Dita untuk segera menuju mobil.
"Sayang, kamu ikut aku ke kantor ya" pinta Mas Ryan.
__ADS_1
"Memangnya kenapa Mas?" tanya Dita balik.
"Nanti malam kan aku menginap di rumah, besok pagi orang tuaku akan tiba, jadi aku ingin dekat denganmu sebelum aku pulang ke rumah", jawab Mas Ryan sambil mengecup puncak kepala Dita.
Dita hanya mengalungkan tangannya pada pinggang Mas Ryan pertanda setuju.
Sesampainya di kantor Mas Ryan, sekretarisnya langsung masuk ruangan Mas Ryan dengan setumpuk berkas. Kemudian menjelaskan satu persatu tentang berkas tersebut pada Mas Ryan.
Sekitar setengah jam sekretaris Mas Ryan berada di sana kemudian keluar. Mas Ryan segera memberi kode pada Dita untuk mendekat dan duduk di pangkuannya.
Dita pun mendekat namun hanya berdiri sambil berkata, "Mas, lihat nih berkasnya setinggi ini, ayo cepat kerjakan dulu. Mesra-mesraannya nanti saja."
Tanpa menunggu persetujuan Dita, Mas Ryan pun menarik tubuh Dita ke pangkuannya.
"Mas, nanti kalau ada yang masuk bagaimana?" tanya Dita khawatir.
"Kalau ada yang masuk pasti mengetuk pintu dulu," jawab Mas Ryan.
Tanpa basa basi diraihnya dagu Dita, kemudian bibir mereka pun saling bertaut mesra. Tak puas sampai disitu, tangan Mas Ryan pun turun merogoh sesuatu yang kenyal di balik baju Dita. Dita segera menepisnya dan menggenggam tangan Mas Ryan agar tidak merajalela. Terdengar suara berdecap dan nafas yang menggebu memenuhi ruangan.
__ADS_1
Tiba-tiba seseorang membuka pintu ruangan Mas Ryan, terlihat dua orang wanita sedang berdiri disana.
Mereka dengan terkejut langsung melepaskan diri satu sama lain.