Mencintai Suami Wanita Lain

Mencintai Suami Wanita Lain
BAB 117


__ADS_3

Dengan buru-buru Dita menuju ruangan Mas Ryan. Namun ternyata ruangannya kosong. Ia langsung keluar dan bertanya pada sekretaris suaminya.


"Bapak kemana ya? Saya mau mengantar berkas bapak yang ketinggalan di rumah" ucap Dita dengan sopan.


"Oh iya Bu, maaf saya lupa. Tadi bapak berpesan kalau bapak minta berkasnya diantarkan ke ruang meeting di lantai 5. Biar saya saja bu yang mengantarkan, ibu silahkan tunggu di ruangan saja" jawab sekretaris Mas Ryan.


"Oh begitu, baik, ini berkasnya. Saya langsung pergi saja, terima kasih ya" ucap Dita sambil menyerahkan map berwarna biru pada sekretaris suaminya itu kemudian pergi.


Dita segera meninggalkan kantor Mas Ryan dan menuju ke kantornya. Dilihatnya jam tangannya, ternyata sudah menunjukkan pukul 10.00. Sudah sangat kesiangan ia berangkat ke kantor. Namun tidak apa-apa, tidak ada yang perlu di selesaikannya dengan segera pagi ini.


Dita buru-buru masuk ke dalam mobil dan segera mengemudikan mobilnya. Ia meraba pipinya yang masih terasa perih. Diliriknya wajahnya dari kaca yang ada di samping kemudi, pipi kirinya terlihat merah dan ada noda darah di sudut bibirnya. Sepertinya bibirnya tergigit karena kerasnya tamparan Wina tadi.

__ADS_1


Pantas saja sekretaris Mas Ryan tadi memandangnya dengan heran. Karena saking terburu-burunya ia sampai tak sempat mengecek keadaan wajahnya sebelum naik ke ruangan suaminya.


Tapi ia cukup puas karena telah membalas tamparan Wina. Ia yakin wajah Wina juga mengalami kondisi yang sama dengan dirinya.


Dita menghentikan laju mobilnya begitu melihat lampu lalu lintas berubah menjadi berwarna merah. Tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk, kemudian dilihatnya Mas Ryanlah yang sedang meneleponnya.


Mungkin Mas Ryan baru selesai meeting. Lalu segera dijawabnya mumpung mobilnya sedang berhenti.


"Sudah sayang, terima kasih ya. Kamu dimana sekarang?" tanya Mas Ryan balik.


"Aku belum jauh dari kantor kamu kok Mas, kamu kok cepat sekali meetingnya?" tanya Dita lagi.

__ADS_1


"Aku belum selesai, ini lagi istirahat sebentar karena masih menunggu beberapa file yang sedang di print" jawab Mas Ryan.


Dita melirik ke arah spion mobilnya. Dilihatnya sebuah mobil berwarna merah maroon berkecepatan tinggi sedang melaju kencang. Darah Dita tersirap, ia yakin mobil itu akan menabraknya, karena tidak mungkin mobil itu akan berhasil berhenti tanpa menabraknya dengan kecepatan tinggi seperti itu.


Diliriknya kiri dan kanan, ada mobil yang mengapit mobilnya sehingga ia tidak mungkin untuk bergeser. Dilihatnya ke depan, banyak kendaraan yang masih melintas. Jika ia maju ke depan ia juga akan celaka.


Tak lagi ia menggubris Mas Ryan yang masih berbicara lewat panggilan teleponnya. Dita langsung melepas seatbeltnya dan membuka pintu. Namun belum sempat ia keluar, mobil tersebut sudah menabrak mobil Dita dengan kencang.


Dita langsung terlempar keluar mobil, terguling, dan tersungkur ke aspal. Mas Ryan yang mendengar suara seperti gemuruh besar pun langsung memanggil istrinya berkali-kali. Namun tak ada jawaban.


Mas Ryan panik luar biasa. Ia langsung menyambar keluar ruang meeting dan pergi untuk mencari Dita.

__ADS_1


Dengan mata setengah terbuka, Dita melihat orang ramai mengerumuninya. Seluruh badannya terasa sakit yang teramat sangat. Sayup-sayup terdengar suara orang yang semakin ramai dan mengelilinginya. Dita semakin merasa lemah, suara itu makin terdengar samar, makin samar, kemudian gelap.


__ADS_2