Mencintai Suami Wanita Lain

Mencintai Suami Wanita Lain
BAB 31


__ADS_3

Setelah tiga hari izin dari kantor, hari ini Dita kembali bekerja. Karena sudah banyak pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan dengan segera. Padahal Dita jarang sekali sakit, ia selalu menjaga pola makan dan rutin berolahraga. Tapi entah kenapa tubuhnya tidak bisa diajak berkompromi kali ini.


Sesampainya di kantor, Dita celingak-celinguk di depan ruangan Dimas. Ia membawakan banana bread yang dibuatnya malam tadi untuk Dimas. Tiba-tiba pundaknya dipukul oleh seseorang, "Eh Dit, udah sehat?", tanya Dimas yang sambil memukul pundaknya.


"Ya ampun, elu ya Dim, kaget gue!", ucap Dita terkejut.


Dimas hanya cengengesan melihat Dita yang kaget.


"Udah Dim, gue udah ga apa-apa. Eh, ini Dim gue bawain banana bread buat lu. Makasih ya Dim elu udah bantuin gue pas gue sakit kemarin", lanjut Dita.


"Syukurlah kalau lu udah baikan. Eh Lu kok repot repot segala sih Dit? Tapi keliatannya enak nih", ucap Dimas sambil memperhatikan kue yang dibawa Dita.

__ADS_1


"Ga apa-apa, udah ini bawa. Gue ke ruangan dulu ya", ujar Dita sambil menyerahkan bungkusan kuenya ke Dimas.


"Dit, gue makannya bareng anak-anak ya", sambil menunjuk ke arah ruangannya.


Dita pun mengacungkan jempolnya tanda setuju kemudian berlalu.


Ditapun segera mengerjakan pekerjaannya yang berhari-hari ia tinggalkan. Ia mulai fokus di depan layar komputernya sampai jam istirahat tiba.


Sehabis makan siang di kantin kantor, Dita yang sedang menuju ke ruangannya pun mampir ke toilet untuk buang air dan memperbaiki make up nya yang mulai hilang. Tiba-tiba ia merasa pusing seakan semua yang dihadapannya berputar-putar. Dengan sigap ia meraih westafel untuk berpegangan. Dengan berhati-hati ia duduk di closet sambil memegang kepalanya. Di pijatnya kepalanya dengan pelan sambil berpikir kira-kira penyakit apakah yang sedang dideritanya, kenapa ia masih saja merasa pusing seperti ini.


Sebelum menatap layar komputer kembali, ia mengecek ponselnya ternyata ada pesan dari Mas Ryan. Mas Ryan bilang bahwa ia tidak pulang tepat waktu, ia akan meeting hingga pukul 21.00.

__ADS_1


***


Sepulang dari kantor, Dita mampir dulu di sebuah supermarket untuk berbelanja. Melihat isi supermarket saja bisa membuatnya merasa lebih fresh. Ia memilih beberapa ikan segar, daging, sayuran, dan beberapa macam buah kemudian memasukkannya ke dalam keranjang.


Sesampainya di rumah, seperti biasa Dita langsung memasak untuk makan malam kemudian makan dan mandi. Ia merasa lelah dan mengantuk, membuatnya ingin segera mandi dan tidur. Mandi dan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air hangat membuatnya merasa lebih nyaman. Ia berharap rasa pusingnya tidak akan kembali lagi setelah ini.


Ketika keluar dari pintu kamar mandi yang berada dikamarnya, tak sengaja ia menjatuhkan sebuah album foto yang tersandar di rak buku. Ia pun memungut album foto tersebut, ia buka halaman pertama, bibirnya langsung menyunggingkan senyum. Ternyata itu adalah album foto yang berisikan foto ia dan saudara tirinya saat masih tinggal bersama. Saudara tirinya bernama Winda. Dita memanggilnya dengan panggilan Kak Winda. Mereka seperti sahabat, tempat curhat, dan partner yang saling menguatkan ketika orang tua mereka tiada. Namun kini mereka harus berpisah karena Kak winda harus ikut dengan suaminya yang berkewarganegaraan Australia.


Ditapun membolak balikkan album foto tersebut sambil berbaring di tempat tidur. Mengenang indahnya kebersamaan mereka dulu, sambil sesekali terlihat tersenyum. Ternyata Dita pun tertidur dengan album foto yang masih terbuka lebar. Tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang hangat memegang pipinya. Kemudian turun meremas payudaranya. Masih dalam kondisi terpejam Dita merasa antara sadar dan tidak mencoba mencerna apa yang ia rasakan. Tak lama kemudian menjalar turun ke perutnya dan mulai ke arah area sensitifnya. Dita pun tersentak kaget dan benar-benar sadar saat ini, dilihatnya wajah Mas Ryan sudah berada tepat di kakinya. Ia pun baru ingat kalau ia tertidur, dan masih dalam kondisi memakai handuk sehabis mandi tadi.


"Mas", ucapnya.

__ADS_1


Mas Ryan tidak menjawab namun menggenggam sebelah tangan Dita sambil dibiarkannya Dita menikmati sesuatu yang ia berikan. Setelah Dita berada di puncak nafsunya, ia pun segera bangkit dan berada di atas tubuh Mas Ryan. Melihat Dita yang sedang berapi-api, Mas Ryan pun tersenyum. Dibiarkannya Dita melakukan apa yang ia mau. Tak lama kemudian terdengar desahan Mas Ryan memenuhi sudut ruangan.


Dua sejoli itu sedang merangkai cinta mereka yang di bumbui dengan percikan-percikan nafsu. Berharap membuat mereka semakin erat, semakin tak terpisahkan. Namun entahlah.. Hanya takdir yang akan menjawab.


__ADS_2