
Terlihat dokter yang tadi memeriksanya keluar dari mobilnya dan menghampiri Dita.
"Masih di sini? Apa kamu menunggu jemputan?" tanyanya.
"Tidak Dok, saya sedang memesan taksi" jawab Dita sopan.
"Ini sudah larut, tidak banyak taksi yang mau di order. Apa saya antar kamu pulang?" tanya dokter itu.
"Tidak usah Dok, tidak apa-apa. Rumah saya tidak jauh dari sini kok" jawab Dita dengan tidak enak.
"Sudah tidak apa-apa. Biar saya antar saja. Ini sudah larut malam. Kamu juga sedang tidak fit. Ayo naik, tidak apa-apa" ujar dokter tersebut sambil mempersilahkan Dita naik ke mobilnya.
Dita terpaku. Ia sungguh tidak enak jika merepotkan dokter itu.
"Ayo, silahkan", ucap dokter lagi.
Dita pun beranjak dari posisinya dan masuk ke dalam mobil.
Kemudian dokter tersebut menanyakan alamat Dita. Dita pun menjelaskan dimana ia tinggal. Ternyata rumah mereka searah.
Setelah itu keduanya diam seribu bahasa.
__ADS_1
Hingga akhirnya sampai di depan rumah kontrakan Dita. Dokter tersebut turun dan mengantarkan hingga ke depan pintu pagar. Terlihat Dita yang sedang membuka gembok pagar dan dokter itu bertanya, "Kamu tinggal sendirian?".
Dita pun mengangguk sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak Dok, maaf saya merepotkan", ujarnya sambil masuk ke dalam pagar.
Dokter tersebut tersenyum kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Dita pun segera masuk dan beristirahat.
Sambil terbaring, dielusnya perutnya dengan lembut. "Nak, maafkan mama yang sudah egois hanya memikirkan perasaan mama sendiri tanpa memikirkan kondisi kamu di dalam" ujarnya lirih.
"Mulai sekarang kita bangkit sama-sama ya nak. Kita mulai hidup baru kita. Kita lupakan semua yang telah terjadi" lanjutnya sambil terus mengelus perutnya.
***
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Perut Dita kelihatan sudah mulai membuncit. Kehamilannya kini sudah memasuki usia empat bulan. Ia telah bahagia sekarang dengan kesibukan barunya, yaitu memasak dan membuat kue.
Hasil masakan dan kuenya ia bagikan ke tetangga sekitar kontrakannya. Alhasil para tetangga pun senang dengan Dita dan kerap kali datang untuk belajar memasak dan membuat kue. Ia di senangi oleh para ibu-ibu dilingkungannya, karena keramahannya dan kebaikannya.
Dita pun sedikit sedikit mulai menjajaki bisnis di bidang kuliner melalui penjualan secara online. Ia belajar membuat kue 'cinnamon rolls' hingga mahir dan mendapatkan rasa yang sangat enak. Kemudian ia mengendors beberapa orang yang cukup terkenal di Jogja untuk memperkenalkan kue 'cinnamon rolls' nya di media sosial. Hasilnya ia jadi mulai kebanjiran pesanan. Ia sangat bahagia dan enjoy menjalani hobby yang kini menjadi pekerjaannya.
__ADS_1
Hampir tiga bulan ia meninggalkan Jakarta dengan segenap masa lalunya. Kini ia hanya fokus pada kandungannya agar selalu sehat dan usaha yang mulai ia rintis.
Hari itu Dita akan berbelanja keperluan kuenya yang mulai menipis. Ia pergi ke supermarket terdekat dan berbelanja.
Sekitar setengah jam berbelanja, troli belanjanya terlihat mulai penuh. Ketika sedang asyik memilih beberapa tepung yang harus dibelinya, tiba ujung trolinya di tabrak oleh seseorang. Dita pun kaget dan melihat siapakah yang baru saja menabrak trolinya. Seorang lelaki yang berperawakan tinggi serta mempunyai wajah campuran Indonesia-Tiimur Tengah sedang berdiri dihadapannya sambil meminta maaf.
Ia cukup terkejut, karena lelaki yang menabrak trolinya itu ternyata dokter kandungan yang hari itu pernah menanganinya.
Dokter itu terlihat masih mengenali Dita.
"Wah kita bertemu lagi" ujar dokter tersebut.
Dita pun tersenyum dan segera berdiri.
"Bagaimana keadaannya sekarang? Saya tebak sudah lebih baik" ucap dokter itu.
"Iya Dok, saya merasa jauh lebih baik sekarang dan tidak pernah merasa kram lagi" jawab Dita.
Tiba-tiba dokter itu mengulurkan tangannya, "Nama saya Aldy".
Dita tersenyum dan membalas menyebutkan namanya, "Dita".
__ADS_1
Dokter Aldy, 35th