
Setelah menemani Mas Ryan makan malam, Dita segera membereskan bekas piring suaminya itu. Ia masih diam sejak tadi, Mas Ryanpun sepertinya tidak berani banyak omong. Mungkin karena ia sadar kali ini ia yang salah.
Ditungguinya Dita yang masih mencuci piring sambil menonton TV. Ia tidak ingin istrinya lama-lama merajuk, ia ingin meminta maaf.
Setelah Dita selesai, Mas Ryan menarik tangan Dita dan mengajaknya ke kamar. Lagi-lagi ia mengutarakan permintaan maafnya pada Dita.
"Mas, kamu mengerti tidak kalau aku itu khawatir? Kamu naik pesawat, bilangnya berangkat 17.30 WITA. Seharusnya jam 18.30 WIB sudah tiba di Jakarta. Sampai jam 21.00 kamu tidak ada kabar, kira-kira wajar tidak kalau aku khawatir Mas?" jelas Dita panjang lebar.
"Iya sayang Maaf, aku salah. Tadi di ruang tunggu aku bertemu dengan mantan klienku dulu. Kami mengobrol sampai aku lupa kasih kabar ke kamu" ucapnya lagi dengan nada begitu menyesal.
__ADS_1
Tanpa menjawab permintaan maaf Mas Ryan, Dita menyodorkan ponselnya kemudian menunjukkan foto dan chat yang dikirim Wina padanya semalam.
"Ini apa Mas? Bisa jelaskan?" tanya Dita tanpa bertele-tele.
Mas Ryan mengambil ponsel yang disodorkan Dita kemudian melihatnya. Ia terkejut melihat isi foto dan chat tersebut.
"Bisa jelaskan Mas?" Dita mengulang pertanyaannya dengan penekanan lebih.
"Aku tenang kok Mas, kamu tidak lihat aku bertanya sambil mencak-mencak kan?" jawab Dita dingin.
__ADS_1
"Oke, kamu dengarkan aku ya, yang pertama, yang berada di dalam foto itu memang benar aku. Tapi aku berani bersumpah bahwa aku tidak bertemu Wina. Dalam rapat itu juga tidak ada Wina." jelasnya sedetail mungkin.
"Yang kedua, kalau dilihat dari posisi pengambilan foto itu, aku tahu siapa yang mengambilnya. Yaitu orang yang tepat berada di depanku, yaitu ibunya Wina. Dia hadir malam itu" lanjutnya.
"Aku minta maaf jika selama ini tidak memberitahumu bahwa orang tua Wina termasuk pemilik saham di perusahaan Balikpapan dan juga di Jakarta, dan itu sudah lama, sudah sejak dulu sekali, tapi lebih dari itu aku tidak pernah berhubungan apapun. Aku juga tidak pernah lagi bertemu Wina sejak bercerai" ucapnya penuh hati-hati.
Dita tertunduk lesu. Ia lega karena ternyata Wina hanya sedang mencoba menjatuhkan mentalnya dan berusaha merusak kebahagiaannya kini. Namun masih ada rasa khawatir mendengar orang tua Wina merupakan salah satu pemilik saham. Karena itu pasti akan menjadi celah bagi Wina untuk menghantui rumah tangganya dengan Mas Ryan kini.
Mas Ryan menarik kedua pundak Dita untuk menghadapnya. "Sayang, dengar ya. Kita sudah resmi menikah, sudah punya anak, dan sekarang kamu sedang hamil, dan aku sudah tidak perlu mencari apapun lagi dalam kehidupanku saat ini. Sama seperti yang kamu bilang padaku saat itu, hidup kita sudah sempurna. Kamu harus percaya kita bisa kuat melewati apapun cobaan yang datang dalam rumah tangga kita asalkan kita selalu menyelesaikannya bersama-sama dan saling percaya. Mari kita fokus pada masa depan kita dan anak-anak. Mungkin perjalanan rumah tangga ini akan menjadi lebih sulit karena masalalu kita. Kamu siap kan menghadapi perjalanan sulit ini bersamaku?" ujar Mas Ryan sambil menatap istrinya lekat.
__ADS_1
Dita menarik nafas panjang. Semangatnya kini mulai timbul. Benar kata Mas Ryan, perjalanan rumah tangga ini memang lebih sulit karena masalalu mereka. Namun satu yang bisa mereka lakukan kini adalah saling menguatkan dan saling percaya. Mereka tidak boleh lengah dan jatuh, karena proses yang mereka hadapi sampai akhirnya menikah telah membuat mereka menjadi lebih kuat dan bijaksana.
Dita memeluk suaminya itu dengan erat tanpa sepatah katapun. Suami yang memperjuangkan dirinya bertahun-tahun lamanya. Suami yang pantas ia percaya dengan sepenuh hatinya.