
Dibukakannya pintu apartemen. Kemudian wanita itu tersenyum, "Maaf Pak, saya dari yayasan", ucapnya sambil menyerahkan sebuah surat pada Mas Ryan. Dibacanya surat itu kemudian mempersilahkan wanita itu masuk.
Kemudian Dita pun terlihat menghampiri mereka. Wanita itu pun tersenyum pada Dita. "Perkenalkan, nama saya Purwanti, panggil saja Bi Pur", ucapnya sambil menyalami Dita dan Mas Ryan.
Mas Ryan pun segera menjelaskan jam kerja Bi Pur yang hanya pukul 08.00 pagi hingga pukul 16.00 sore. Tiba-tiba ponsel Mas Ryan berdering kemudian ia segera menjawab panggilan tersebut dan pergi ke arah balkon. Dita pun segera mengambil alih posisi Mas Ryan yang sedang memberi penjelasan pada Bi Pur.
"Bi Pur, kerjanya sama seperti pada umumnya, yaitu mencuci, menyetrika, bersih-bersih, dan memasak. Tapi tiap hari menunya saya yang tentukan ya Bi. Nanti kalau saya sudah pulih, saya yang akan menghandle memasak.", jelas Dita dengan sopan.
"Baik Bu", jawab Bi Pur.
Dita pun menjelaskan letak semua ruangan di apartemennya. Kemudian memberitahu letak-letak perkakas yang diperlukan Bi Pur untuk bekerja.
"Oh iya Bi, di samping dapur ada ruangan kecil yang sudah kami bereskan, di situ ada kasur kecil yang bisa Bi Pur pergunakan untuk istirahat", ujar Dita sambil menunjuk ke arah samping dapurnya.
"Baik, terima kasih ya Bu", jawab Bi Pur.
"Ya sudah Bi Pur sudah bisa bekerja mulai hari ini, semoga Bi Pur betah di sini", ucapnya sambil tersenyum.
"Iya Bu, semoga ibu dan bapak puas dengan hasil kerja saya. Sekali lagi terima kasih ya Bu", ujar Bi Pur yang kemudian terlihat langsung menuju dapur untuk segera mulai bekerja.
Terlihat Mas Ryan yang baru saja selesai menerima telepon.
"Dari siapa Mas?", tanya Dita.
"Dari Novia, adikku. Ia bilang Hari Sabtu ini mereka akan tiba", jawab Mas Ryan.
"Wah lima hari lagi mereka akan berangkat ke sini ya Mas", ucap Dita.
__ADS_1
Mas Ryan mengiyakan dan tersenyum.
"Mas, jujur aku semakin hari semakin deg-degan menunggu orang tua kamu tiba", ujar Dita.
"Aku juga", jawab Mas Ryan.
"Semoga semuanya berjalan lancar, aku akan melakukan yang terbaik, demi anak kita", lanjut Mas Ryan sambil merangkul Dita dan mengelus perutnya.
"Mas, kita tidak bisa sembarangan mesra-mesraan sekarang. Ada Bi Pur lho", ucap Dita sambil mencubit perut Mas Ryan.
Mas Ryan pun menepuk jidatnya seraya berkata, "Wah iya aku lupa".
Merekapun cekikikan berdua.
***
Dipanggilnya dari dalam kamar, "Maas".
"Iyaaa", jawab Mas Ryan.
"Masih lama yaaa?", tanyanya lagi.
"Sebentar lagi, kamu tidur duluan saja yaa", jawab Mas Ryan lagi.
"Tidak mauuu", ucap Dita.
Mas Ryan pun tersenyum mendengar jawaban Dita. Ia memang sangat manja akhir-akhir ini.
__ADS_1
Dita pun dengan sabar menunggu Mas Ryan yang masih saja tidak kunjung masuk kamar padahal sudah pukul 23.00. Ia pun berinisiatif keluar menemui Mas Ryan yang sedang bekerja.
Tanpa ba bi bu, ia langsung mengangkat kedua tangan Mas Ryan dari keyboard laptopnya kemudian duduk di pangkuan Mas Ryan sambil mengalungkan tangannya ke leher Mas Ryan. "Lama sekali sih Mas?", ucapnya sambil cemberut.
"Sebentar sayang, sedikiiiit lagi, sabar yaa", ucap Mas Ryan sambil mengecup kening Dita dan kembali memainkan keyboard laptopnya.
Dita yang masih berada di pangkuan Mas Ryan pun dengan tatapan nakal menggerak-gerakkan telunjuknya di dada Mas Ryan, "Anak kamu kepingin di jenguk sama papanya nih", ucapnya.
Mas Ryan pun terbahak melihat Dita yang tidak biasanya berusaha menggodanya.
"Hei, dari mana kamu belajar cara menggoda lelaki hah?", tanya Mas Ryan sambil menoyor kening Dita dengan telunjuknya.
"Hmmm, dari kamu", jawab Dita tersenyum.
"Lha, kok dari aku?", tanya Mas Ryan pura-pura.
"Jangan sok lupa kamu Mas, biasanya kamu terus yang menggoda aku dan tidak tahu waktu. Mulai dari aku sedang tidur, sedang masak, sedang mandi sampai sedang bersih-bersih rumahpun tidak bisa mengelak dari keinginanmu itu", jawab Dita sambil menjawil Mas Ryan yang sedang tersenyum.
Melihat Mas Ryan yang terus saja bekerja, tiba-tiba muncul ide nakalnya. Di ciumnya bibir Mas Ryan hingga Mas Ryan tidak bisa melihat layar laptopnya. Di cumbuinya dengan begitu bernafsu. Kemudian diarahkannya tangannya perlahan ke arah bawah dan membuat Mas Ryan seketika bergidik dan memejamkan mata. Tanpa buang-buang waktu, Mas Ryan pun segera berdiri menggendong Dita menuju kamar. Dita pun tersenyum puas. Akhirnya pertahanan Mas Ryan runtuh juga, bathinnya.
Ia juga tidak tahu kenapa akhir-akhir ini ia sulit sekali mengontrol libidonya. Ia sampai mencari jawaban dengan browsing beberapa artikel di internet. Ternyata memang benar wanita yang sedang hamil muda itu hormon libidonya sedang meningkat, dan akan turun dengan sendirinya di trimester kedua.
Sebenarnya Mas Ryan juga heran dengan perubahan sikap Dita ini. Namun ia menikmatinya.
Diciumnya bibir Mas Ryan, Mas Ryan pun menyambutnya dengan lembut. Kemudian Mas Ryan terpejam merasakan hangatnya nafas Dita di lehernya. Ia pun sudah tidak bisa lagi mengontrol dirinya, kemudian memposisikan Dita tepat di bawahnya. Suara desahanpun kian memenuhi kamar mereka.
Jam menunjukkan pukul 01.00 ketika kedua sejoli itu sudah terbaring lemas di atas tempat tidur. Kemudian Mas Ryan mendekati perut Dita yang masih terbaring lemas dan mengusapnya, "Nak, sudah papa jenguk ya", ucapnya sambil tersenyum. Tak ayal Dita pun terbahak-bahak mendengar ucapan Mas Ryan.
__ADS_1
Tak lama kemudian keduanya terlihat memejamkan mata dan terlelap.