
Mas Ryan berusaha menenangkan dirinya. Dita membawanya untuk duduk sejenak agar tangisnya reda. Ia tersadar bahwa Mas Ryan menanggung beban yang amat besar atas kepergian dirinya.
Ia tak menyangka duka Mas Ryan sedalam itu. Baru kali ini ia merasa amat bersalah karena telah menghilang selama ini. Ia mengira 4 tahun telah mampu membuat Mas Ryan melupakan dirinya dan Xander. Namun ia salah, pemandangan di sampingnya kini menjawab kontan atas prasangkanya.
Setelah dilihatnya Mas Ryan sudah lebih tenang, di panggilnya Xander yang kini sedang asyik dengan excavator mainannya, tak lama Xander pun menghampiri Dita.
Di angkatnya anaknya itu ke pangkuannya. Mas Ryan melihat wajah Xander dengan lebih dekat, seketika terasa kesejukan menjalar di hatinya. Ia baru tahu bahwa ternyata begini rasanya hanya dengan melihat wajah anak saja hati seorang ayah bisa merasa damai. Kini anak yang selama ini ia rindukan itu benar-benar ada di hadapannya. Tumbuh sehat dan sangat tampan, ia yakin Dita telah mengurusinya dengan baik.
Dita mencoba menatap wajah anaknya, "Xander, dengar mama nak. Sayang, ini papa" ujarnya sambil menunjuk Mas Ryan.
Wajah Xander langsung berubah menjadi sumringah dan berbinar-binar. Kemudian ia langsung berbisik pada Dita, "Ma, ini papa keren?".
Dita tersenyum kemudian mengangguk.
__ADS_1
Namun Mas Ryan mengeryitkan dahinya heran.
"Sejak beberapa bulan lalu dia selalu bertanya tentang papanya. Teman-temannya di daycare selalu dijemput oleh papanya, tapi dia tidak" jelas Dita.
"Untuk membesarkan hatinya, aku bilang bahwa ia juga punya papa, yang tidak kalah keren dari papa teman-temannya. Sejak itu dia bilang bahwa ia ingin bertemu dengan papanya yang keren" lanjut Dita agar Mas Ryan tidak kebingungan.
Mas Ryan tersenyum bahagia karena ternyata kehadirannya di sambut baik oleh anaknya. Ia berjanji untuk tidak membuat Xander bertanya-tanya lagi tentang dirinya. Kini sebisa mungkin ia ingin selalu ada untuk anaknya itu.
Mas Ryan membuka kedua tangannya untuk memeluk Xander, Dita pun mendekatkan Xander agar bisa dipeluk Mas Ryan. Kini Xander merasa bahagia, akhirnya ia benar-benar memiliki papa, bukan hanya dari omongan mamanya saja. Ia tidak sabar untuk memamerkan
"Ma, kita tidak jadi makan yakiniku?" tanyanya polos memecah keheningan.
Mas Ryan dan Dita berpandangan kemudian tersenyum mendengar pertanyaan polos anaknya.
__ADS_1
***
Restoran terlihat tidak begitu ramai pengunjung. Mas Ryan dan Dita terlihat masih kaku. Tak ada obrolan serius antara keduanya.
Xander yang makan dengan lahapnya, tanpa tahu bahwa hati kedua orang tuanya sedang berkecamuk beribu pertanyaan namun belum tersampaikan. Sebagai anak kecil ia tidak dapat merasakan situasi dingin bagai es yang membeku kini sedang menemani adegan makan malamnya.
"Kamu sering ke sini dengan Xander?" tanya Mas Ryan yang berusaha memecah kebekuan malam itu.
"Lumayan sering, karena Xander suka sekali makanan di sini" jawab Dita seadanya.
Kemudian hening kembali.
Seusai makan, Mas Ryan mengajak Xander bermain di sekitar restoran. Dita yang belum selesai makan pun melanjutkan makan malamnya sendirian.
__ADS_1
Tak lama kemudian Mas Ryan datang sambil menggendong Xander yang ternyata telah tertidur. Dita baru ingat bahwa tadi Xander tidak tidur siang, pantas saja ia sudah teler jam segini. Ia pun segera berdiri dan memberi kode pada Mas Ryan untuk segera pulang.