
Dibiarkannya Dita berceloteh sepanjang perjalanan pulang. Dinikmatinya suara yang sebentar lagi menghilang pergi ke negara lain. Ia tak mau merusak suasana malam ini.
Hingga akhirnya mereka sampai di depan rumah kontrakan Dita. Mobil Dokter Aldy pun berhenti. Ia tak akan berharap mampir lagi kali ini. Ia sadar sudah larut malam. Walaupun belum puas rasanya mengobrol dengan Dita.
Dita pun segera turun dan melambaikan tanganya ke arah jendela mobil. Dokter Aldy setengah berteriak dari dalam mobilnya, "Dit, terima kasih ya traktirannya. Kalau kamu butuh apa-apa untuk persiapan berangkat, jangan segan-segan menghubungiku".
Dita pun memberi kode 'thumbs' up' pertanda oke.
Dokter Aldy pun segera mengemudikan mobilnya pulang.
Ia rasa Dita butuh semangatnya kini. Oleh karena itu sejak tadi ia selalu membuat Dita menjadi semakin percaya diri untuk melanjutkan studynya. Padahal sebenarnya ia sedih Dita akan pergi disaat usaha mendekatinya belum sedikitpun ia lancarkan. Ia kini harus mengubur harapan itu dalam-dalam, tiga tahun Dita pergi tidak mungkin ia tidak bertemu pria lain disana. Siapalah dirinya yang hanya seorang teman yang baru di kenal Dita.
Namun ia harus ikhlas. Ini yang terbaik untuk Dita, mengejar impiannya dan membuktikan pada dunia bahwa ia bisa. Mungkin jalan lain akan mempertemukan ia dengan jodohnya, bisa jadi Dita ataupun wanita lain.
***
'tin tin tin'
Terdengar suara klakson mobil yang membisingkan telinga.
__ADS_1
Tak lama kemudian terlihat Dita yang tergopoh-gopoh keluar sambil mengalungkan sling bagnya. Semua barangnya sudah sejak tadi tersusun rapi di mobil Dokter Aldy. Sudah sejak pagi sekali Dokter Aldy datang karena takut Dita terlambat sampai di bandara.
Dita pun buru-buru masuk ke dalam mobil dan memakai seatbelt yang kini sudah semakin susah untuk dipasangnya.
Merekapun segera meluncur ke bandara.
Dita akan berangkat dengan pesawat pukul 10.00 pagi ini, kini jam 07.30 dan mereka akan menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit untuk sampai di bandara.
Sepanjang perjalanan Dokter Aldy tidak habis-habisnya mengabsen seluruh bawaan Dita. Ia takut Dita ketinggalan sesuatu yang penting. Seperti sekarang ini, masih saja otaknya berpikir apa semua sudah lengkap, "Paspormu sudah?".
"Sudah, ini," jawab Dita sambil menunjukkannya.
"Sudah, di dalam tas" jawab Dita sambil mengecek sebuah amplop putih yang di berikan Dokter Aldy beberapa hari lalu padanya.
"Dompet? KTP?" lanjutnya.
"Sudah, semua ada di sini" sambil menepuk slingbag berwarna khaki andalannya.
"Bagus, jangan ada yang ketinggalan. Ini perjalanan penting. Ingat itu" ucap Dokter Aldy serius.
__ADS_1
Dita mengangguk dan tersenyum melihat kekhawatiran lelaki di sebelahnya tersebut. Ia memang agak cerewet menjelang keberangkatan Dita, hampir setiap hari menelepon menanyakan persiapan Dita. Baru terlihat sifat Dokter Aldy yang tegas dan disiplin, padahal selama ini ia telihat lebih santai. Tapi semua itu demi kebaikan Dita.
"Oh iya, ini" ucap Dita sambil menyerahkan kunci rumahnya pada Dokter Aldy.
Dokter Aldy pun menerima dan menyimpannya.
Dita telah membayar uang sewa rumah tersebut untuk satu tahun. Kini masih ada kurang lebih delapan bulan lagi sewanya. Dita meminta bantuan Dokter Aldy untuk mencarikan orang yang sedang butuh tempat tinggal untuk sementara. Ia juga sudah menghubungi pemilik rumah tentang hal tersebut, dan nanti Dokter Aldy lah yang akan mengurusnya. Dita sangat berterima kasih karena Dokter Aldy banyak membantunya.
Sedangkan peralatan baking yang ia punya, sudah ia sumbangkan untuk arisan PKK di lingkungan tempat tinggalnya. Ia sudah menuntaskan semuanya sebelum berangkat.
Tepat pukul 07.50 mereka tiba di bandara. Dokter Aldy ikut mengantar Dita sampai berjumpa dengan panitia dan awardee lainnya. Panitia mengingatkan pukul 08.10 semua peserta harus masuk untuk check in dan segera menunggu waktu boarding di lantai tiga bandara.
Terlihat awardee lainnya berpamitan dan berpelukan dengan keluarga masing-masing.
"Dok, Terima kasih ya untuk semuanya, maaf ya kalau aku banyak kesalahan selama kita berteman" ucap Dita sedih.
"Iya, salah satu kesalahannya yaitu dengan masih memanggil 'Dok' padaku. Padahal sudah kukatakan panggil saja Aldy, atau jika kurang sopan silahkan tambah mas atau abang, aa, uda, atau apa kek terserah apa yang kamu mau" jawab Dokter Aldy pura-pura merajuk.
Dita yang awalnya sendu kini malah tertawa melihat protes lelaki didepannya itu.
__ADS_1