Mencintai Suami Wanita Lain

Mencintai Suami Wanita Lain
BAB 50


__ADS_3

Di dalam pesawat tujuan Jakarta - Yogyakarta terlihat seorang wanita muda yang duduk bersandar sambil menerawang ke jendela pesawat. Matanya terlihat memandangi awan putih yang saling bergandengan dan bergantung di udara, namun pikirannya sama sekali tidak berada disana.


Ia kini hanya ingin berkunjung ke makam ayah dan ibunya. Melepaskan kerinduannya walaupun hanya dengan melihat pusara mereka. Ada beban yang menyesakkan dadanya yang tidak tahu ingin ia tumpahkan kemana.


"Ma, Pa, anakmu ini telah berbuat kesalahan," bisiknya dalam hati. "Ia telah menjadi perempuan bodoh yang dibutakan oleh cintanya. Kalian telah mengajarkanku arti tanggung jawab, kini aku pergi bukan untuk lari dari kesalahanku, namun biarlah kepergianku membuat segalanya menjadi lebih baik. Biar aku yang menanggung apa yang telah kuperbuat. Walau sebenarnya ada seseorang lain yang seharusnya juga bertanggung jawab dengan keadaan ini, namun biarlah dia bahagia dengan kehidupan yang semestinya."


"Kini aku benar-benar sendiri Ma, Pa", bisiknya lirih dan mulai terisak.


Air mata yang sejak tadi ia tahan kini jatuh tak terbendung. Hanya air mata yang kini setia padanya.


Seketika ia tertegun, seperti teringat akan sesuatu. Di lihatnya ke bawah, tangannya dengan spontan mengelus perutnya yang masih rata. Ia salah, ia tidak sendiri sekarang. Ada sumber kekuatan yang sedang membersamainya. Sesuatu yang harus ia pertahankan, dan ia ajarkan untuk menjadi seseorang yang lebih baik dari dirinya.


Dadanya terasa semakin nyeri, air matanya kian tumpah membasahi pipinya. Ia mendekap erat perutnya, ini kali pertama ia merasakan begitu sayang dengan seseroang yang belum pernah ia temui.


***

__ADS_1


Terlihat Mas Ryan yang mondar-mandir di depan sebuah gedung, tak lama kemudian datang lah Dimas dengan setengah berlari.


"Bagaimana Dim, sudah dapat info?" tanyanya penuh harap.


"Sudah Mas, kata temanku yang bekerja di Maskapai G*****, pagi ini ada data penumpang dengan nama Hanindita Amilia yang terbang menuju Yogyakarta. Aku rasa itu Dita Mas, karena data tanggal lahirnya sama," ujar Dimas.


"Tapi temanku tidak bisa memberi lebih banyak informasi Mas terkait data penumpang, karena menyangkut SOP maskapai yang bersangkutan" lanjut Dimas.


Wajah Mas Ryan seketika berubah, seakan ia menemukan harapan.


"Jangan gegabah Mas. Tenangkan dirimu dulu," ucap Dimas.


"Tapi aku harus segera menemukan Dita," jawab Mas Ryan.


"Mas, Dita sudah dewasa, ia tahu caranya menenangkan diri" ucap Dimas meyakinkan Mas Ryan.

__ADS_1


"Tapi Dita mengandung anakku Dim, kalau terjadi apa-apa pada dirinya aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri" jawab Mas Ryan yang mulai memanas.


"Mas, kamu lupa Dita itu perempuan yang sangat mandiri. Ia cerdas dalam banyak hal Mas, termasuk untuk keselamatan dirinya" ucap Dimas lagi.


"Mas, sekarang kamu fokus selesaikan urusan rumah tanggamu Mas. Ini waktunya kamu memutuskan perihal rumah tangga mu. Belum lagi urusan dengan orang tua mu, seperti yang kamu bilang orang tua mu menunggu penjelasanmu di sana" lanjut Dimas menenangkan Mas Ryan.


"Ayolah Mas, kamu harus menata hidupmu kembali, bila tiba saatnya nanti kamu bisa pergi mencari Dita bahkan aku akan membantumu", ujar Dimas sambil menepuk pundak Mas Ryan.


"Kini biarkan ia menenangkan dirinya, aku tahu siapa Dita Mas, ia tidak mungkin menyianyiakan hidupnya. Ia adalah orang yang paling bersemangat yang pernah aku kenal, tidak mungkin ia berpikiran bodoh untuk keselamatan dirinya", ucap Dimas yang masih meyakinkan Mas Ryan.


Mas Ryan tertunduk lesu, ia membenarkan apa yang dikatakan Dimas. Memang saat ini ia belum bisa berpikir jernih. Tak ada sepatah katapun yang ia ucapkan pada Dimas, hanya menepuk pundak Dimas seolah berkata terima kasih, kemudian masuk ke dalam mobilnya dan berlalu.


Mas Ryan benar-benar perlu menenangkan diri saat ini. Ia harus bisa berpikir jernih menghadapi semua ini. Saat ia sedang fokus dengan jalanan yang dilalui, tangannya menyentuh sesuatu di dekat persneling mobilnya. Di raihnya benda itu, kemudian di lihatnya, ternyata itu adalah obat kram yang diberikan dokter untuk Dita kemarin. Seketika hatinya kembali bergejolak, pelupuk matanya terasa memanas. Ia pinggirkan mobilnya, kemudian menangis sejadi-jadinya. Di dekapnya obat itu di dadanya seakan untuk menguatkan dirinya.


Kini semua telah terjadi, ia mengutuk dirinya atas semua ini. Ia telah melakukan kesalahan besar dalam hidupnya. Melalaikan ketegasannya dalam rumah tangga, menikmati dan mengulur waktu hingga semua orang yang ia cintai kini telah membencinya. Tinggallah ia yang kini meneguk buah dari segala ketidaktegasannya selama ini.

__ADS_1


__ADS_2