Mencintai Suami Wanita Lain

Mencintai Suami Wanita Lain
BAB 37


__ADS_3

"Aku sadar akan posisiku Mas", ucap Dita pelan.


"Aku mohon kamu jangan salah paham dulu", ucap Mas Ryan.


"Aku tidak mau", lanjut Mas Ryan sambil menggelengkan kepalanya.


"Ia putus dengan lelaki itu, kemudian ingin memperbaiki hubungan rumah tangga kami", lanjutnya lagi.


"Kalau kamu tidak mau, terus kenapa? Dia juga tidak bisa memaksa kamu kan", tanya Dita.


"Semua akan semakin berat sayang, dulu kami sama-sama sudah saling masa bodoh satu sama lain. Aku bisa bekerja sama dengannya untuk bilang pada orang tua kami. Namun sekarang, ia tidak mau bercerai", ucap Mas Ryan.

__ADS_1


"Maafkan aku Mas, karena aku semua jadi begini", ujar Dita.


"Tidak, memang sudah waktunya ini diselesaikan, ada kamu ataupun tidak aku akan tetap melakukan hal yang sama", ucap Mas Ryan.


Mereka pun berpelukan dan saling menguatkan.


***


Mas Ryan pun histeris dan segera mengangkat Dita ke luar. Di letakkannya tubuh Dita di atas tempat tidur, kemudian di lapnya tubuh Dita yang masih basah, dan diselimutinya. Di panggil-panggilnya Dita, ditepuk-tepuknya pipi Dita namun tak ada reaksi. Mas Ryan pun beranjak menuju kotak P3K, di ambilnya minyak kayu putih, di usapkannya di hidung Dita berharap ada reaksi dari Dita. Namun tetap nihil.


Mas Ryan panik bukan main. Segera diambilnya pakaian Dita, di pakaikannya pada Dita. Ia berniat ingin membawa Dita ke rumah sakit. Di ambilnya kunci mobil, kemudian bersiap mengangkat tubuh Dita. Namun tiba-tiba Dita terbangun dan memanggilnya, "Mas", ucap Dita pelan.

__ADS_1


Mas Ryan kaget dan melihat ke arah Dita, terlihat Dita sudah sadar dari pingsannya. Ia pun sedikit lega karena Dita telah sadar. Diberinya Dita minum, dipijitnya kepala Dita. "Ayo kita ke rumah sakit, aku bantu kamu duduk ya", ucap Mas Ryan.


"Tidak Mas, aku tidak apa-apa", jawab Dita.


"Tidak, kita harus tetap ke rumah sakit. Kamu sampai pingsan begitu. Pokoknya kita ke rumah sakit sekarang", ucap Mas Ryan


Dita pun hanya mengangguk. Namun dalam hatinya ia benar-benar takut. Ia takut menghadapi kenyataan tentang diagnosa dokter nanti. Ia takut kalau ternyata ia mengidap suatu penyakit. Namun Mas Ryan terlihat kekeuh sekali, ia tidak berani membantah jika Mas Ryan telah berkeputusan.


Mas Ryan ingin mengangkat tubuhnya untuk menuju mobil. Ditapun menolak, ia ingin berjalan saja. Mas Ryan pun memapahnya perlahan. Sambil di rangkulnya pundak Dita agar lebih kuat.


Sebenarnya Dita masih merasa pusing, namun ia tak mau menjadi pusat perhatian orang jika melihat Mas Ryang menggendongnya menuju mobil.

__ADS_1


Mas Ryan pun segera mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit yang terletak tidak jauh dari apartemen.


__ADS_2