
Kaki Mira terasa gemetaran, tubuhnya lemas melihat amarah Mas Ryan. "Ma ma maaf Pak, saya cuma di suruh," jawabnya terbata-bata.
"Kamu belum tahu siapa saya? Untuk membuat kamu dipecat dari sini detik ini juga pun sangat mudah bagi saya," ujar Mas Ryan sambil menahan geram.
"Jangan Pak, saya masih mau bekerja di sini, saya mohon Pak," jawab Mira setengah menangis.
"Ikut saya!" ujar Mas Ryan sambil menarik lengan Mira.
Mas Ryan membuka pintu mobilnya, dan memberi kode pada Erick dan supirnya untuk keluar. Ia pun masuk dan menarik Mira untuk masuk ke dalam mobilnya serta segera mengunci pintu mobil agar Mira tidak bisa kabur.
"Saat ini, saya hanya ingin penjelasan bagaimana kamu mengenal Wina? dan apa yang telah kamu lakukan?!" tanya Mas Ryan dengan nada membentak.
Mira terdiam tertunduk, ia ketakutan.
"Jawab!!" bentaknya sekali lagi.
Mira terkaget hingga tersentak, "I i iya Pak, iya".
"Cepat kamu jawab atau besok bisa dipastikan kamu akan kehilangan pekerjaanmu" ucap Mas Ryan.
__ADS_1
"Se sebenarnya, saya bertemu Bu Wina ketika mengantar Bi Pur bekerja hari pertama" Mira mulai menjelaskan.
"Waktu kami sampai di dekat pintu apartemen, Bu Wina sedang berdiri di depan pintu, sepertinya sedang memencet bell. Karena melihat kedatangan kami dia langsung pergi" lanjut Mira.
"Setelah Bi Pur masuk ke dalam apartemen bapak, saya mau turun ke bawah, tapi ketika mau masuk lift Bu Wina memanggil saya", ujar Mira.
"Lanjutkan, awas kamu kalau berbohong!" ucap Mas Ryan yang sedang geram.
"Dia bertanya tentang kami, ketika Bu Wina tahu bahwa Bi Pur bekerja di apartemen Pak Ryan, Bu Wina menawarkan saya pekerjaan, katanya akan dibayar sepuluh juta kalau saya bisa", tutur Mira.
"Apa yang Wina minta?" tanya Ryan.
"Bu Wina minta saya memata-matai Pak Ryan dan Bu Dita. Kemudian dia juga meminta saya mencari identitas Bu Dita" jawabnya.
Mira lagi-lagi terdiam.
"Oooh oke saya akan telepon atasan kamu" ucap Mas Ryan sambil mengeluarkan ponselnya.
"Jangan Pak, jangan." ucap Mira panik.
__ADS_1
Mas Ryan kembali memasukkan ponselnya ke kantong celananya.
"Saya beritahu Bu Wina bahwa Bu Dita hamil" jawab Mira pelan dan tertunduk.
Mas Ryan seketika makin geram dan penuh emosi.
"Terus apalagi?!" tanya Mas Ryan.
"Saya masuk ke dalam kamar Bu Dita dan mencari identitasnya. Saya dapat map yang berisi berkas penting, saya foto dan mengirimnya pada Bu Wina" lanjut Mira.
"Hanya itu Pak, saya bersumpah hanya itu yang saya lakukan" ucap Mira.
"Terus apa lagi yang kamu lakukan? Tolong jelaskan pada saya sejujur-jujurnya. Kalau kamu coba menutup-nutupi saya tidak segan-segan memberikan bukti cctv atas apa yang telah kamu lakukan pada polisi" ancam Mas Ryan.
"Jangan Pak, saya mohon, saya akan jelaskan semuanya, saya janji" ucapnya ketakutan.
Mas Ryan terlihat menunggu penjelasan Mira.
"Data identitas Bu Dita di kirim Bu Wina pada keluarga Pak Ryan, dan tentang kehamilan Bu Dita juga. Saat itu Bu Wina menelepon ibu Pak Ryan di depan saya" jelasnya.
__ADS_1
"Bu Wina juga meminta saya untuk mencari tahu keberadaan Pak Ryan dan Bu Dita ketika Ibu Pak Ryan datang hari itu. Saya menelepon Bi Pur dan bertanya, katanya bapak dan ibu sedang ke rumah sakit karena Bu Dita sakit perutnya. Kemudian saya sampaikan pada Bu Wina dan saya langsung disuruh ke beberapa rumah sakit sekitar apartemen bapak untuk mencari mobil bapak di parkiran. Setelah ketemu, saya menunggu sampai Pak Ryan dan Bu Dita keluar dan mengikuti kemana bapak pergi. Terus Bu Wina datang dengan ibu dan adik Pak Ryan ke kantor bapak, tapi Bu Wina menunggu di parkiran bersama saya. Saat itu hanya ibu dan adik bapak saja yang masuk. Tidak lama kemudian Bu Wina ikut masuk dan saya pun pergi." jelas Mira panjang lebar.
Mas Ryan mengepalkan tangannya karena menahan amarah. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan Wina yang menjebaknya. Bisa-bisanya ia berpura-pura tidak tahu dengan kedatangan ibunya, padahal dialah yang mengatur semuanya.