
Sepanjang jalan Dita hanya bisa menangis. Kata-kata wanita itu terngiang-ngiang di telinganya. Haruskah ia melepaskan Mas Ryan yang sudah terlanjur ia cintai. Tidak ada sedikitpun niat jahat darinya untuk Mas Ryan, rasa cinta dan sayangnya benar-benar tulus dari dalam hatinya.
Dita sudah berada di depan rumah Dimas. Ia pun segera menelepon Dimas. "Halo, Dim, gue di depan rumah lu", ucapnya sambil terisak.
"Dit, lu kenapa? Kok lu nangis?", tanya Dimas.
Dita yang tak sanggup bersuara pun hanya diam sambil menangis.
"Oke oke, lu tunggu di situ ya, gue keluar sekarang", ujar Dimas.
Tak lama kemudian terlihat Dimas keluar dari rumahnya, dan kemudian memberi kode pada Dita untuk berpindah posisi ke kursi penumpang, karena ia yang akan menyetir.
Tanpa menunggu lama, Dimas pun langsung duduk di bangku kemudi dan membawa Dita ke tempat yang lebih enak untuk ia bercerita. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka, Dimas hanya diam sambil menyetir, sedangkan Dita hanya terdiam sambil menutup wajahnya.
Dimas pun memarkirkan mobil Dita di tepi sebuah taman dekat rumahnya. Kemudian segera menghadap ke arah Dita. "Sekarang lu cerita, kenapa lu nangis?", tanya Dimas.
"Tadi istrinya Mas Ryan nemuin gue", ucap Dita lirih.
__ADS_1
"Hah?! Kok bisa? terus?", tanya Dimas makin penasaran.
"Awalnya gue makan malam dengan Mas Ryan, terus Mas Ryan harus balik ke kantor karena lembur. Terus pas itu gue kelupaan kunci mobil gue ketinggalan di atas meja restaurant, gue ambil ke dalam. Pas gue keluar udah ada istrinya Mas Ryan di dekat mobil gue. Gue juga ga ngerti kenapa dia bisa tahu gue ada di sana, terus mobil gue yang mana, mungkin dia ngikutin Mas Ryan atau whatever gue ga tahu", jelas Dita menggebu-gebu.
"Dit, tenang. Lu tenangin dulu diri lu. Lu jelasin pelan-pelan ke gue. Oke?", ucap Dimas sambil menenangkan Dita. Dita pun mengangguk.
"Oke, terus dia bilang apa?", tanya Dimas lagi.
"Sebenarnya gue terima Dim dia bilang apa. Gue cuma sedih apa gue semenyedihkan itu", jelas Dita sambil matanya menerawang.
Dimas pun merasa kasihan dengan sahabatnya itu. "Terus lu ngomong apa?", tanya Dimas.
"Gue diem aja, gue ga ngomong apa-apa. Gue ga mau makin memperkeruh", jawab Dita.
Ponsel Dita berdering, terlihat nama Mas Ryan sedang meneleponnya. Dita pun mengatur nafas agar tidak terdengar sedang menangis. "Hallo", ucapnya.
"Sayang, kamu udah sampai di kost?", tanya Mas Ryan.
__ADS_1
"Belum Mas, aku bertemu dengan Dimas dulu sebentar", jawabnya.
"Ooh gitu, ya sudah, tapi jangan sampai terlalu malam ya", ucap Mas Ryan
Dita pun mengiyakan dan segera mematikan panggilan.
"Terus sekarang apa yang akan lu lakuin Dit?", tanya Dimas.
"Gue ga tau Dim, gue bingung", jawab Dita pasrah.
"Dit, sekarang elu tanya hati lu", ucap Dimas
"Cuma elu yang tahu. Lu yang bisa mengukur hubungan lu sama Mas Ryan sudah sepantas apa untuk dipertahankan mati-matian. Kalau lu memilih mundur, berarti lu harus siap untuk kehilangan, lu harus mempersiapkan diri lu buat move on. Tapi kalau lu memilih untuk bertahan, lu harus siap juga dengan segala resikonya. Salah satu contohnya ya yang baru aja elu alami ini. Dan kalau memang pada akhirnya lu memilih bertahan, jangan coba-coba lu jalan sendiri Dit. Mas Ryan juga harus mengambil perannya sama elu, kalau lu sendiri yang mati-matian pertahanin hubungan tapi Mas Ryannya lempeng aja ga ada tindakan, ya sama aja boong Dit", jelas Dimas.
"Sekarang lu tenangin diri dulu, terus lu pikirin matang-matang tentang baik buruknya hubungan lu saat ini. Lu jangan takut untuk cerita masalah ini ke Mas Ryan. Dia juga berhak tahu, karena solusinya juga ada di Mas Ryan sendiri", lanjut Dimas.
"Sekarang lu anter gue terus lu pulang ya, udah malem. Gue yakin elu bakal bisa milih yang terbaik", ujar Dimas sambil menepuk pundak sahabatnya itu.
__ADS_1