
Hari itu Dita sangat lelah karena seharian harus bolak balik menemui supervisor alias dosen pembimbing thesisnya. Sebentar lagi ia akan mengajukan diri untuk ikut sidang akhir. Hampir tiga tahun ia melewati masa kuliahnya di sini, walaupun beberapa temannya sudah lulus di akhir tahun kedua, ia cukup puas untuk molor satu tahun dari perkiraan. Karena ternyata kuliah sambil mengurus anak benar-benar cukup menguras energinya.
Ia sampai harus pindah ke flat yang lebih besar karena kini Xander semakin aktif dan butuh tempat mengeksplor diri dan lingkungannya.
Diliriknya jam tangannya, ternyata sudah hampir jam 17.00. Ia takut Xander terlalu lama menunggunya, cepat-cepat ia berlari dari kampusnya menuju daycare yang terletak sekitar tiga blok dari flatnya.
Benar saja, sudah terlihat sepi. Sepertinya sebagian anak-anak lain sudah dijemput orang tuanya.
Baru saja membuka pintu pagar halaman daycare, Xander yang sedang digendong oleh seorang nanny langsung berlari menghambur ke arahnya. Seketika rasa penatnya hilang, diciumnya pipi anaknya yang terasa cukup berbau asem dihidungnya namun selalu menenangkannya, "Say bye to Miss Meimei" ucap Dita sambil melirik kearah anaknya.
Kemudian terlihat Xander melambaikan tangan ke arah seorang wanita yang tadi menggendongnya. Ditapun ikut melambaikan tangan dan tersenyum.
__ADS_1
"Xander kenapa belum mandi?" tanya Dita pada anaknya sambil terus berjalan pulang.
"No, Xander mau mandi sama mama. No sama Miss" ucapnya dengan aksen bicara khas Singapura yang kian kental karena setiap hari bertemu dengan nanny dan teman-temannya yang menggunakan aksen lokal jika berbicara.
Xander pun kerap kali mengucapkan kata dalam bahasa Mandarin yang membuat Dita cukup kebingungan, mungkin sebagian teman-temannya terkadang masih menggunakan bahasa Mandarin atau Hokkien selain bahasa Inggris di daycare. Namun jika dengan dirinya, Dita tetap menggunakan bahasa Indonesia pada anaknya. Karena bagaimanapun ia tetap harus tahu berbahasa Indonesia yang baik.
Sebelum sampai di flat mereka mampir untuk membeli beberapa burger dan ayam goreng untuk makan malam. Kemudian kembali berjalan menyusuri blok demi blok hingga akhirnya sampai di flat.
***
Dipeluknya anak semata wayangnya itu. Suhu panas langsung terasa dari permukaan kulit Xander. Xander demam ternyata. Dirabanya kening anaknya dan semakin terasa panas, Xander pun semakin menangis kencang.
__ADS_1
"Sayang, sayang, sebentar ya nak, kita ke dokter ya sayang" ucapnya sambil meraih ponsel dan memesan taksi.
Di sambarnya sebuah jaket dan celana jeans panjang, kemudian tak lupa dompet dan ponsel ia masukkan ke dalam tasnya. Segera ia angkat Xander ke dalam gendongannya, dan berlari menuju lantai bawah.
Tak lama taksi yang di pesannya datang, dan Dita meminta untuk di antarkan ke rumah sakit ataupun klinik dokter yang masih buka. Karena saat itu sudah pukul 01.00 waktu Singapura.
Namun tak ada klinik dokter yang masih buka, Dita menginstruksikan untuk ke rumah sakit saja. Dan dikarenakan rumah sakit NUS sudah terlewat terlalu jauh supir taksi segera mengarahkan taksinya ke rumah sakit terdekat lainnya.
Di emergency room Xander langsung di tangani oleh seorang dokter. Xander terlihat sudah lebih tenang kini. Tiba-tiba masuklah seorang dokter yang lain. Berperawakan tidak terlalu tinggi, dengan rambut sebahu yang di jepit ke belakang, ia terlihat masih menggunakan masker operasi. Ia terlihat berbincang dengan perawat jaga dan menunjuk-nunjuk layar komputer.
Dita yang sejak tadi fokus pada Xander tidak menyadari kedatangan dokter tersebut. Sampai pada akhirnya suara perbincangan mereka membuat Dita menoleh.
__ADS_1
Dita segera memalingkan wajahnya kembali untuk memperhatikan Xander yang sedang di periksa. Tak disangka dokter itu mendekati dan memandang wajah Dita. Dita melihatnya dengan tatapan heran sampai akhirnya ia membuka maskernya.
Dita terkejut bahwa yang di depannya saat ini adalah istri Mr. Lee, klien Mas Ryan yang dulu pernah berjumpa dengannya di Fullerton Hotel ketika ke Singapura bersama Mas Ryan.