
Keduanya segera tersadar dari suasana yang tercipta berdasarkan romansa masa lalu mereka. Dita membalikkan badannya kemudian berhadapaan dengan Mas Ryan. Di tepuknya pipi Mas Ryan dengan lembut kemudian berlalu. Kini ia kembali ke ruang TV dimana semua sedang bercengkrama.
Tinggallah Mas Ryan yang masih mematung. Ia senang kini Dita sudah tak sedingin kemarin-kemarin. Namun semakin hari semakin sulit baginya untuk mengontrol perasaannya.
Mas Ryan kembali ke ruang TV dengan ekspresi seolah tidak terjadi apa-apa. Novia melirik abangnya itu, padahal ia tahu bahwa baru saja ada yang sedang bernostalgia.
Mas Ryan mengajak Dita dan Xander untuk pulang. Karena mereka baru saja tiba dan perlu beristirahat.
Mereka pun segera berpamitan pada tuan rumah yang telah menjamu mereka siang itu. Novia tak lupa memasukkan banyak sekali es krim ke dalam sebuah container kecil, ia membawakannya untuk Xander. Xander pun terlihat meloncat kegirangan seperti mendapatkan harta karun.
Mas Ryan menyetir mobilnya yang ia titipkan pada Dimas saat berangkat ke Singapura beberapa waktu lalu. Sepanjang jalan Xander tak henti-hentinya mengajak papa dan mamanya untuk bercerita. Anak itu memang sedang cerewet-cerewetnya dan penasaran akan banyak hal sehingga pertanyaan pun silih bergantin keluar dari mulutnya.
Kemudian mobil pun memasuki sebuah kawasan perumahan berjenis cluster. Rumah-rumah terlihat sama dan seragam. Tak lama kemudian mereka sampailah pada sebuah rumah yang berbeda sendiri. Sebuah rumah satu lantai yang lumayan besar, berdesign minimalis masa kini, dengan cat kombinasi coklat muda dan putih membuat kesan elegan kental terpancar dari rumah tersebut, dan dilengkapi dengan pagar besi berwarna hitam menambah kesan minimalis pada rumah tersebut. Mas Ryan mengajak keduanya untuk turun dan masuk.
"Ini Mas rumahnya?" tanya Dita sambil menutup pintu mobil.
__ADS_1
"Iya, kamu suka tidak?" tanya Mas Ryan balik.
"Suasananya enak Mas, asri, ada fasilitas taman bermainnya dan ramai tetangga" jawab Dita.
"Ngomong-ngomong kenapa rumah ini berbeda sendiri dari rumah yang lain Mas?" tanya Dita penasaran.
Mas Ryan terlihat tersenyum sambil menggendong Xander, "Aku meng-customnya" jawabnya.
Dita mengeryitkan dahi, "Maksudnya kamu sudah berniat membeli sebelum bangunan rumah ini jadi?".
Dita memanyunkan mulutnya karena Mas Ryan yang terus menggodanya padahal ia bertanya serius.
Mas Ryan yang melihat Dita manyun kemudian mendekat dan berbisik, "Aku developernya".
Kemudian Dita pun ber ooo ria. Pantas saja rumah ini bisa berberbeda bentuk dan ukurannya dengan rumah yang lain. Ternyata Mas Ryan pengembang perumahan ini. Ia baru tahu kalau kini Mas Ryan sudah merambah ke bisnis property, karena setahu dirinya bisnis Mas Ryan bergerak dalam bidang teknologi.
__ADS_1
Bi Pur menyambut kedatangan mereka dengan bahagia. "Ya ampun Bu, sudah lama sekali kita tidak bertemu" ucapnya saat melihat Dita..
Dita tersenyum kemudian memeluk Bi Pur, salah satu saksi ketika ia kabur dulu.
Bi Pur pun menyapa Xander yang masih dalam gendongan Mas Ryan.
Mas Ryan segera mengantar mereka ke kamar dan meminta keduanya untuk beristirahat. Kemudian Mas Ryan pamit untuk pergi ke apartementnya.
Namun Xander menangis karena tidak mau papanya pergi. Sudah lelah mereka membujuknya namun Xander tetap ingin bersama Mas Ryan.
Mas Ryan yang tidak tega melihat anaknya merengek dan menangis pun luluh. Segera dimandikannya Xander, kemudian di ajaknya tidur.
Benar saja, hanya dalam sekejap Xanderpun terlelap di pelukan Mas Ryan. Mas Ryan yang sangat lelahpun ikut tertidur.
Ketika Dita masuk ke kamar didapatinya dua lelaki itu sudah tertidur. Diselimutinya keduanya agar tidak kedinginan. Dipandanginya satu-satu, dilihatnya wajah anaknya dan wajah Mas Ryan yang begitu mirip. Kini Xander semakin tidak ingin berpisah dari Mas Ryan, akankah ia harus segera menikah agar Xander bisa terus bersama Mas Ryan. Dita makin merasa bersalah, sepertinya ia harus menepikan segala perasaan demi anaknya.
__ADS_1