
Jam menunjukkan pukul 17.30, Dita terlihat masih mematut dirinya di depan cermin. Ia sedang merapikan rambut sebahunya yang ia biarkan tergerai. Ia tampak manis dengan balutan dress selutut berwarna mint yang ia kenakan, sepasang flat shoes berwarna beige yang dihiasi pita di bagian depannya kini terlihat sudah bertengger manis di kakinya. Make up nude membuat kesan cantik naturalnya terpancar, untuk sentuhan terakhir ia memoles lipstick berwarna coral yang membuat wajahnya terlihar segar dan tidak pucat.
Sepertinya ia sudah siap untuk segera berangkat. Diliriknya jam di dinding menunjukkan pukul 17.10. Disambarnya sling bag andalannya dan kunci mobil yang terletak di atas tempat tidur. Tak lupa ia mengunci kamar kostnya dan segera mengemudi ke tempat ia dan Mas Ryan akan bertemu untuk makan malam.
Mas Ryan dan Dita sudah janjian akan langsung bertemu di restaurant yang sudah dipesan Mas Ryan, karena setelah makan malam nanti Mas Ryan akan segera ke kantornya. Jadwal Mas Ryan memang sedang padat menjelang projectnya dimulai minggu depan. Sehingga ia dan Dita harus bertemu singkat seperti ini. Untungnya Dita mengerti posisi Mas Ryan sebagai pimpinan yang harus turut menghandle pekerjaan bersama tim kerjanya. Dita juga tidak menuntut Mas Ryan untuk selalu berkomunikasi dengannya, karena ia juga tidak menyukai komunikasi intens seperti pasangan abege. Namun Mas Ryan tidak pernah lupa memberi kabar padanya walaupun sedang sibuk. Setidaknya pagi dan malam hari adalah waktu yang biasa mereka gunakan untuk berkomunikasi via telepon untuk sekedar mengobrol dan melepas rindu.
Setelah berkendara kurang lebih 20 menit, Dita sampai di tempat tujuannya. Dilihatnya mobil Mas Ryan sudah terparkir disana, ia langsung mengambil posisi parkir tepat di sebelah mobil Mas Ryan.
Melihat Dita yang sudah tiba, Mas Ryan pun keluar dari mobilnya. Kemudian Dita pun segera keluar, Mas Ryan terperangah melihat tampilan Dita yang cantik dan selalu meluluhkan hatinya. Ditapun menghambur ke pelukan Mas Ryan.
Merekapun berjalan bergandengan masuk ke dalam restaurant. Terlihat seorang waiter menunjukkan di mana meja yang telah dipesan.
Restaurant bertema outdoor yang didekorasi dengan bunga-bunga dan untaian-untaian kain berwarna peach menambah kesan romantis pada malam itu.
Mas Ryan mengungkapkan kerinduannya pada Dita. "Sayang, maaf ya kita harus bertemu dengan waktu singkat seperti ini. Bukannya aku tidak ingin berlama-lama, tapi aku harus terlibat dalam persiapan pekerjaan yang akan dimulai minggu depan. Sejujurnya aku rindu sekali sama kamu. Ingin lama-lama berada di dekatmu", ujar Mas Ryan sambil menggenggam tangan Dita.
__ADS_1
"Mas, mungkin ada waktunya kita akan sering bertemu, dan ada waktunya kita harus saling memahami seperti ini. Semoga pekerjaan kamu lancar ya Mas, biar cepat selesai dan punya waktu luang untuk bertemu", jawab Dita.
Mas Ryan senang Dita bisa mengerti kesibukannya. Dalam hatinya sungguh ingin segera bisa mempunyai waktu untuk Dita. Setiap kali ia melihat Dita, hasratnya kian memuncak ingin memiliki wanita itu sepenuhnya. Namun lagi-lagi ia harus bersabar.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, waktunya Mas Ryan segera ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan bersama tim kerjanya. Dita dan Mas Ryan pun keluar restaurant. Mas Ryan berpamitan pada Dita untuk kembali ke kantor, dipeluknya wanita di hadapannya itu di dadanya dan dikecupnya bibirnya dengan mesra. Darahpun berdesir di dada keduanya, mereka pun menyesali dalam hati kenapa pertemuan kali ini harus secepat itu.
Setelah itu Mas Ryan segera masuk ke mobilnya dan melaju menuju kantornya. Dita pun segera membuka tasnya untuk mengambil kunci mobil. Namun ia tak menemukannya. Ia bongkar isi tasnya dengan panik namun tak juga terlihat benda yang bernama kunci mobil itu. Ia ingat-ingat dimanakah ia meletakkannya. Ah ia akhirnya ingat kunci mobilnya ia letakkan di atas meja di restaurant.
Segera ia berlari menuju meja yang ia dan Mas Ryan gunakan tadi, beruntung meja tersebut belum dibereskan. Langsung terlihat kunci mobilnya masih terletak di sana. Hatinya langsung lega dan mengambil kunci tersebut dan berjalan menuju mobilnya.
"Dita", ucap wanita itu pelan.
Dita terkejut karena wanita itu mengenalnya. "Siapa ya?", tanya Dita sopan.
Tak sedikitpun wanita itu memalingkan wajahnya untuk menatap Dita. Ia tetap bersandar pada bagian depan mobil Dita sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. "Mungkin kamu tidak mengenalku. Namun kamu mengenal suamiku", ucapnya.
__ADS_1
Dita terdiam memaku mendengar ucapan wanita itu. Dalam hatinya bertanya apakah wanita ini adalah istri Mas Ryan.
"Ya, aku adalah istri sah dari Ryandi Bastian Nugraha, lelaki yang baru saja bermesraan denganmu", ucapnya seolah mengetahui isi hati Dita.
Dita lagi-lagi hanya bisa terdiam dan tidak tahu ingin berkata apa.
"Mungkin kamu sudah tahu kondisi rumah tangga kami, tapi Mas Ryan tidak pernah menceraikan aku. Kami masih sah sebagai suami istri", ucapnya.
"Kamu bisa saja menjadi simpanannya. Namun satu hal yang perlu kamu ingat, sampai kapankah hubungan kalian akan bertahan? Apakah kamu rela terus-terusan dalam status yang tidak jelas? Jika sudah bosan bisa saja Mas Ryan mencampakkanmu seperti mantan-mantan pacarnya yang lain. Lihatlah dirimu, sungguh kasihan. Bermesraan dengan suami orang seolah-olah ia adalah milikmu, namun ia tetap pulang ke rumahku, istri sahnya", ucap wanita itu sinis.
Dita menggigil menahan amarahnya, ia tidak terima disebut sebagai simpanan. Bisa saja saat itu ia membuka kedok istri Mas Ryan yang berselingkuh. Namun ia memilih diam.
"Terserah, pilihan ada di tanganmu", ucap wanita itu sambil berlalu pergi meninggalkan Dita.
Dita yang sedari tadi hanya bisa terdiam kini meneteskan air mata. Dadanya terasa nyeri dan sesak. Ia merasa terhina. Ia benar-benar merasa terpojokkan seolah dirinyalah yang merebut Mas Ryan, padahal wanita itu yang telah menghancurkan rumah tangganya sendiri. Mengapa sekarang ia seperti ingin memisahkan Mas Ryan dan dirinya, padahal ia sudah tak memedulikan Mas Ryan sebagai suaminya.
__ADS_1
Dita segera masuk dalam mobilnya dan mengemudikannya menuju ke rumah Dimas. Ia mengemudi sambil tersedu-sedu. Apa yang selama ini ia takutkan akhirnya terjadi.