
Pagi itu Dita yang mulai suntuk di rumah pun meminta ijin pada Mas Ryan untuk belanja keperluan dapur ke supermarket. Ia akan di temani Louise, teman kostnya dulu. Setelah itu mereka akan hangout untuk melepas rasa suntuk Dita.
Mas Ryan mengijinkan, tapi ia memberi syarat bahwa Dita harus sudah di rumah sebelum malam tiba. Dita pun senang Mas Ryan mengijinkannya.
Sebelum mandi dan berangkat Dita sarapan terlebih dahulu. Perutnya sudah meronta-ronta minta di isi. Dita mengambil dua lembar roti dan mengolesnya dengan mentega dan selai coklat kesukaannya. Bi Pur yang melihat Dita sarapan pun segera membuatkan susu hamil untuk Dita.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel, ternyata ponsel Bi Pur sedang berdering. Bi Pur meminta ijin untuk mengangkat, Dita pun tersenyum pertanda mempersilahkan.
Terdengar Bi Pur sedang berbicara dengan seseorang dan berkata bahwa saat ini ia sedang bekerja dan sibuk, ia meminta untuk lain kali saja. Namun sepertinya suara diseberang sana memaksa Bi Pur hingga akhirnya terdengar Bi Pur seperti menyetujui.
__ADS_1
Setelah memutus panggilan telepon yang di terimanya, Bi Pur pun menatap Dita dengan tatapan penuh rasa tidak enak hati.
"Bu, saya mau ijin bertemu dengan adik saya di sini Bu. Katanya ada sesuatu yang mau ia bicarakan, penting. Apa boleh Bu?", tanya Bi Pur dengan hati-hati.
"Oooh iya Bi, silahkan saja", jawab Dita sambil tersenyum.
"Terima kasih ya Bu", ujar Bi Pur.
Dita yang telah menyelesaikan sarapannya pun beranjak dari dapur kemudian mandi dan bersiap. Ia memilih sebuah dress selutut berwarna dusty agar terlihat cerah. Kemudian di polesnya day cream dan cushion andalannya secara bergantian. Sebenarnya ia malas sekali berdandan. Sejak hamil ia lebih suka dengan bare face saja tanpa polesan make up. Tapi karena hari ini ia akan pergi keluar dengan penuh rasa malas ia memoles make up di wajahnya.
__ADS_1
Setelah selesai bersiap, ia pun segera berangkat. Ketika membuka pintu, ia terkejut karena ada seorang wanita yang sedang hendak memencet bell. Wanita itu pun tersenyum pada Dita. "Maaf Bu, Bi Pur nya ada?", tanya wanita itu.
Dita membathin mungkin ini adiknya yang dimaksud Bi Pur tadi. Terlihat jauh lebih muda dari usia Bi Pur yang sudah lima puluh tahunan. "Eh, iya, ada di dalam, silahkan masuk", ujarnya sambil masuk dan memanggil Bi Pur. Kemudian segera berangkat.
Dita langsung bertemu dengan Louise di supermarket yang terdapat di sebuah Mall, Louise sedikit memperhatikan tubuh Dita yang sedikit berisi namun ia takut menyinggung Dita dan memilih tidak membahasnya.
Sehabis berbelanja, mereka pergi ke coffee shop favorite mereka dan mengobrol sepuasnya. Kegiatan hari itu cukup merefresh pikiran Dita.
Tepat pukul 17.00 Dita sampai di apartemen. Apartemennya terlihat sepi, Bi Pur sepertinya sudah pulang. Segera ia masuk ke kamar dan berganti pakaian.
__ADS_1
Dimasukkannya pakaian kotornya ke dalam keranjang. Kemudian ia berniat mengambil baju di lemari. Seketika ia tertegun melihat sebuah ujung dressnya menyembul dari balik lemari. Seingatnya lemarinya terjaga rapi setiap hari. Dibukanya lemari tersebut, terlihat dressnya masih lengkap tergantung disana, namun beberapa letaknya terlihat tidak seperti biasanya, bisa dibilang agak semrawut. Seingatnya ia benar-benar menjaga kerapian lemarinya.
Tidak mungkin Mas Ryan yang melakukannya, karena baju Mas Ryan terletak di bagian yang lain. Atau mungkin ia sendiri yang lupa tidak merapikan lemarinya tadi ketika mengambil dress yang akan dipakainya.