
Wina terbangun dari tidurnya, ia mendapati Mas Ryan tidak ada di sampingnya. Ia mendengus kesal, ia kecewa Mas Ryan tidak menganggap kehadirannya malam itu. Kemudian ia pun segera berpakaian dan keluar dari kamar Mas Ryan. Dilihatnya ke halaman rumah, mobil Mas Ryan masih terparkir di sana, itu berarti Mas Ryan masih di rumah. Di bukanya setiap kamar, dan dilihatnya Mas Ryan masih tertidur di kamar tamu. Ditutupnya pintu kamar itu dengan kesal, sehingga Mas Ryan terkejut dan terbangun.
Mas Ryan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 06.00, ia pun bangkit dan kembali ke kamarnya. Mas Ryan mengambil beberapa pakaiannya dan memasukkannya kedalam koper kecil. Tak lupa beberapa berkas yang sekiranya ia perlukan beberapa waktu ke depan. Kemudian ia pun mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantor.
Di ruang makan terlihat Wina sedang menyiapkan sarapan untuk Mas Ryan. Ia menata sarapan Mas Ryan sedemikian rupa. Ternyata ia belum menyerah. Ia berharap perhatiannya ini akan meluluhkan hati Mas Ryan.
Diketuknya pintu kamar Mas Ryan. Mas Ryan sudah siap untuk berangkat, tinggal merapikan beberapa bawaannya saja. Karena tak ada jawaban dari dalam, Wina pun membuka pintu kamar Mas Ryan dengan perlahan kemudian masuk. "Mas, ayo sarapan dulu, aku sudah buat sandwich untuk kamu", ujarnya dengan lembut.
__ADS_1
"Maaf Win aku buru-buru, ada rapat pagi ini. Kamu saja ya yang sarapan", jawab Mas Ryan sambil memasukkan beberapa berkas ke dalam tas.
"Mas, kamu ini kenapa sih? Aku sudah berusaha baik sama kamu. Tapi sikap kamu tidak menghargai usahaku", ucap Wina kesal.
Mas Ryan yang sedang fokus dengan berkasnya pun langsung tertegun dengan ucapan Wina, kemudian langsung berdiri.
"Seharusnya aku yang bertanya, kamu yang kenapa? Tolong jangan cari ribut pagi-pagi ya Win, please", jawab Mas Ryan.
__ADS_1
"Memperbaiki hubungan? Selama ini kemana saja kamu? Kenapa tidak dari dulu? Kemana kamu hampir delapan tahun ini?Kenapa baru sekarang mau memperbaiki hubungan", tanya Mas Ryan yang mulai kesal.
"Kamu lupa aku pernah kasih kamu kesempatan kedua untuk memperbaiki rumah tangga kita? Tapi apa Win? Aku pergoki kamu masih berhubungan dengan laki-laki itu kan? Terus sekarang aku harus kasih kamu kesempatan ketiga, gitu?", lanjut Mas Ryan yang semakin kesal.
"Mas, aku sudah tidak berhubungan dengan dia. Kami sudah putus hubungan sejak dua bulan lalu", jawab Wina sambil melembutkan nada bicaranya.
"Oh jadi sekarang kalian sudah tidak berhubungan, terus kamu mau kita kembali seperti dulu? Ingat Win, tidak semudah itu. Satu tahun aku bangkit dari keterpurukan menghadapi kenyataan bahwa istriku lebih memilih laki-laki lain. Disaat aku terpuruk, kamu sedang bahagia merajut hubunganmu dengan laki-laki itu. Aku terima semuanya, aku bertahan tinggal bersama istri yang tidak menganggapku. Demi apa Win? Demi orang tua kita. Orang tua yang menjodohkan kita, berharap anaknya bahagia. Dan demi menjaga hubungan orang tuamu dan orang tuaku yang sudah sejak dahulu sudah seperti saudara. Aku hanya ingin mereka bahagia di akhir usianya yang sudah tua", jelas Mas Ryan dengan suara yang bergetar karena menahan geram.
__ADS_1
"Aku tahu Mas, aku bersalah. Aku benar-benar ingin kita seperti dulu. Kita mulai lagi semuanya dari awal. Kalau perlu kita pergi berlibur berdua untuk bisa memunculkan perasaan kembali. Dan kalau kamu memikirkan kebahagiaan orang tua kita, bukankah lebih baik kita memperbaiki rumah tangga kita?", lanjut Wina.
Mas Ryan yang sudah sangat geram segera meraih bawaannya dan pergi meninggalkan Wina tanpa menjawab sepatah kata pun.