
Pagi itu Mas Ryan terjaga dari tidurnya. Ia merasa kepalanya sangat sakit dan berat. Melihat silaunya cahaya lampu pun rasanya ia tak kuat. Dicengkramnya rambutnya dengan kuat untuk menahankan sakitnya. Ia melihat sekeliling, ternyata ia di ruang tamu apartemen. Dilihatnya pakaiannya sudah terganti, "Pastilah Dita yang menggantikannya", pikirnya.
Ia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi semalam. Yang ia ingat saat itu ia pergi dari kantor, kemudian menelepon Dimas dan mereka bertemu di sebuah bar.
Ketika Dimas datang ia sudah minum banyak, ia pun tidak ingat jelas apa saja yang ia katakan pada Dimas, yang jelas ia bercerita tentang perasaannya pada Dita. Dimas jugalah yang telah mengantarkannya sampai ke depan pintu apartemen.Setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi.
Namun tiba-tiba ia teringat sekilas wajah Dita yang sedang menangis. Ia pun tersentak kemudian berlari ke kamar Dita. Ia takut entah apa yang telah ia lakukan pada Dita semalam. Ia takut telah menyakiti Dita. Tapi belum sampai ke kamar Dita, Mas Ryan merasakan mual yang luar biasa, ia pun langsung menuju wastafel dan muntah sejadi jadinya. Memang sudah lama sekali ia tidak minum minuman beralkohol, terakhir kali mungkin ketika kuliah. Sehingga efek alkohol pada dirinya saat ini sangat parah. Membuatnya sakit kepala dan mual. Ia pun membasuh mukanya dan menuju kamar Dita.
Dita yang mendengar suara Mas Ryan yang muntah-muntah pun terbangun dari tidurnya. Ia masih baru bangkit dan terduduk di tepi tempat tidur ketika Mas Ryan sudah berada di pintu kamar.
Mas Ryan segera duduk sambil memegang tangan Dita. "Sayang, maafkan aku", ucapnya lirih.
Dita pun hanya diam tak bergeming.
__ADS_1
"Sayang, please katakan sesuatu, atau mungkin pukul aku", ucapnya sambil mengayunkan tangan Dita untuk memukulnya.
Dita tetap diam seribu bahasa.
Dipeluknya tubuh Dita kemudian, "Sayang, tolong maafkan aku. Aku tidak ingat apa yang terjadi semalam. Tapi aku ingat kamu menangis, tapi aku tidak tahu apa sebabnya. Apa tadi malam aku menyakitimu?", ucapnya sambil memeluk Dita.
Dita pun langsung teringat perbuatan Mas Ryan tadi malam, dadanya langsung terasa nyeri.
Melihat Dita yang masih saja terdiam, ia yakin tadi malam ia telah melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan pada Dita. Diraihnya kedua pipi Dita, "Aku menyakitimu tadi malam?", tanyanya lembut.
Mas Ryan langsung menggelengkan kepalanya kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tak habis pikir bisa-bisanya ia menyakiti Dita.
Kemudian kembali di tatapnya wajah Dita, "Apa yang aku lakukan sayang?", tanyanya.
__ADS_1
"Kamu memaksaku melakukannya", ucap Dita lirih.
Mas Ryan pun kembali meminta maaf pada Dita, "Aku menyesal, aku tidak bisa mengendalikan diriku, aku mohon maafkan aku sayang, aku berjanji ini tidak akan terjadi lagi", ucap Mas Ryan.
"Kenapa kamu mabuk?", tanya Dita singkat.
Mas Ryan terdiam. Ia harus memilih kata-kata untuk menyampaikannya pada Dita.
"Mas, apapun masalahmu tidak akan selesai dengan minum. Ada aku Mas, kamu bisa cerita, bukan seperti ini caranya", ucap Dita.
Mas Ryan pun tertunduk lesu. Terlihat guratan di dahinya, pertanda ia sedang berpikir keras.
Ditapun iba melihat Mas Ryan yang tertunduk seperti sangat berat beban yang ia rasakan. Di elusnya punggung lelaki yang ia sayangi itu. Marahnya yang tadi seolah menggebu kini seolah menguap entah kemana.
__ADS_1
"Wina ingin kami memperbaiki hubungan rumah tangga", ucap Mas Ryan tiba-tiba.
Dita seperti tersambar petir mendengar ucapan Mas Ryan. "Lalu?", tanyanya hati-hati.