Mencintai Suami Wanita Lain

Mencintai Suami Wanita Lain
BAB 103


__ADS_3

"Mas, yang ini sepertinya perlu perbaikan. Coba lihat Mas, kok kayaknya jumlahnya tidak sesuai" ucap Dimas sambil menyodorkan sebuah laporan kepada Mas Ryan.


Mas Ryan mengambilnya dan membacanya dengan teliti, di telusurinya angka demi angka dengan berhati-hati. "Wah benar juga kamu Dim, ya sudah kalau begitu nanti minta perbaiki lagi terus kamu cek ulang lagi biar tidak ada kesalahan" jawab Mas Ryan.


"Makin kesini kamu sudah makin mantap Dim, aku tidak ada keraguan sama sekali sama kamu untuk segera pegang perusahaan yang di Kalimantan. Segera diskusikan dengan Novia, kalian mau berangkat sebelum Novia melahirkan atau setelahnya. Kapanpun kamu siap, aku akan urus semuanya" lanjut Mas Ryan serius.


"Terima kasih banyak Mas, aku seperti ini juga berkat kamu Mas. Kalau tidak kamu gembleng terus mungkin aku masih belum seperti sekarang, masih lembek" jawab Dimas.


Mas Ryan tersenyum sambil menepuk pundak Dimas.


"Kalau untuk keberangkatan ke Kalimantan, sebenarnya Novia sudah sangat ingin sekali Mas, tapi aku seperti belum yakin pada diriku, di sana kan tidak seperti di sini Mas. Kalau di sini aku masih bisa bertanya sama Mas, kalau di sana nanti aku menghadapi sendirian. Aku takut aku belum mampu Mas" jawab Dimas ragu.

__ADS_1


"Kan ada karyawan Dim, para manager bisa jadi tempat kamu berdiskusi. Aku kan juga nanti menjabat sebagai komisaris di sana, kamu pastinya bisa bertanya padaku jika menemukan kesulitan. Orang direksi yang lain juga pasti dengan senang hati membantu" ucap Mas Ryan meyakinkan Dimas.


"Jangan takut salah ya Dim, salah itu wajar. Aku juga bisa seperti ini karena kesalahan-kesalahan, yang kemudian dijadikan pelajaran. Kamu harus yakin ya, jangan pesimis" lanjutnya.


Dimas terharu mendengar ucapan Mas Ryan. Kakak iparnya itu memang yang terbaik. "Terima kasih ya Mas, aku jadi semangat sekarang" ucapnya dengan percaya diri.


"Kalau begitu, aku ke bagian keuangan dulu ya Mas, biar laporannya bisa segera direvisi" ujar Dimas sambil beranjak pergi.


"Riko mantannya Dita maksudnya?" tanya Dimas yang keceplosan. Ia langsung menyadari kesalahannya dan mengutuk dirinya sendiri mengapa bisa sebodoh itu.


Wajah Mas Ryan langsung berubah drastis. Dimas semakin tak enak hati. Terlebih pada Dita. Ia takut gara-gara omongannya ini Mas Ryan dan Dita jadi bermasalah, walaupun ia tidak tahu apa sebabnya Mas Ryan tiba-tiba bertanya seperti itu.

__ADS_1


...***...


Sejak pulang kerja Mas Ryan masih saja bersikap dingin pada istrinya. Dita sejak sore tadi heran melihat perubahan sikap suaminya. Sudah berkali-kali ditanyakannya, namun hanya diam yang ia dapatkan.


Sebenarnya ia sungguh sebal harus menghadapi Mas Ryan yang diam seperti ini kalau sedang marah. Seperti bicara dengan tembok.


Rasanya ia tidak melakukan salah apapun. Tapi kenapa Mas Ryan kembali merajuk seperti kemarin sore. Banyak prasangka yang berkecamuk dalam pikiran Dita. Ia bukan dukun yang bisa tahu kesalahannya tanpa di beri tahu.


Biasanya kalau Mas Ryan sedang marah ataupun kesal padanya, Mas Ryan pasti selalu mengungkapkannya dengan dewasa. Tapi jika sudah diam kekanak-kanakan seperti ini, ia yakin pasti ada hubungannya dengan kecemburuan. Karena ia sangat paham akan suaminya yang selalu menyelesaikan masalah rumah tangga secara dewasa dan kepala dingin. Tidak seperti kali ini. Dita benar-benar penasaran.


Malam itu Mas Ryan sedang menemani Xander bermain. Dita yang berada di sebelahnya seperti tidak dianggap. Mereka hanya sibuk berdua saja. Lama kelamaan Dita yang kesal karna dicuekin pun masuk ke dalam kamar kemudian menutup dirinya dengan selimut dan tidur.

__ADS_1


__ADS_2