
Hari itu Mas Ryan telah berjanji untuk mengajak Xander jalan-jalan. Xander luar biasa kegirangan. Mereka akan ke Universal Studio hari ini. Padahal sudah tiga tahun di Singapura, namun belum sekalipun ia mengajak Xander ke sana, apalagi kalau bukan karena harus berhemat. Hidup di Singapura yang memerlukan biaya tinggi membuat Dita terus memutar otak agar uang bulanannya cukup.
"Pa, ini mobil papa?" tanya Xander ketika mereka sedang dalam perjalanan.
"Memangnya kenapa?" tanya Mas Ryan balik.
"Papa keren sekali, Xander suka naik mobil" ucapnya polos.
Dita tertegun mendengar ucapan anaknya. Memang selama ini mereka lebih sering naik MRT atau naik bus bahkan jalan kaki, jarang sekali menggunakan taksi kalau tidak mendesak. Teman-teman Dita yang dilihatnya juga jarang menggunakan mobil, maklum di Singapura angka pajak mobil memang sangat tinggi, untuk mobil sekelas avan*a saja pajaknya bisa mencapai setengah milyar rupiah pertahun. Hanya orang-orang kaya yang sanggup membayar pajak mobil di sini. Oleh karena itu, banyak orang yang lebih memilih untuk naik moda transportasi umum, lebih murah dan terjangkau. Jadi wajar jika Xander menganggap papanya keren karena punya mobil.
"Di Jakarta papa punya banyak mobil, Xander boleh pilih yang Xander suka, kita akan jalan-jalan naik mobil terus ya kalau di Jakarta. Xander mau kan ikut papa ke Jakarta?" ucapnya berusaha mendapatkan hati anaknya.
Xander mengangguk dengan mata berbinar-binar. Padahal ia tidak tahu di mana itu Jakarta, yang ia tahu hanya akan jalan-jalan naik mobil. Itu saja sudah membuatnya senang.
__ADS_1
"Mobil mama juga ada di Jakarta" ucapnya lagi.
Dita langsung melirik Mas Ryan, "Lho, bukannya aku menitipkan mobilku dengan Dimas? Kenapa ada sama kamu Mas?".
"Aku yang menyimpannya, bahkan masih sering aku pakai biar awet. Kita ganti baru ya" bujuk Mas Ryan lagi-lagi.
"Tidak usah Mas, itu kenang-kenangan dari papaku, jadi tidak akan ku jual sampai kapanpun" jawab Dita jujur.
Mas Ryan yang baru tahu langsung merasa tidak enak, ia tidak bermaksud untuk mengungkit masa lalu Dita tentang orang tuanya.
***
"Pa, aku mau itu, excavator yang besar"
__ADS_1
"Paaa, aku juga mau robot Bumble Bee yang di situ"
"Paaaa, aku juga mau avangers"
Begitulah teriakan-teriakan Xander yang terdengar saat mereka memasuki toko mainan di areal Universal Studio setelah puas bermain seharian.
"Iya, Xander boleh beli semuanya" ujar Mas Ryan yang membuat anaknya loncat-loncat kegirangan.
"Mas, jangan terlalu dimanjakan. Nanti jadi terbiasa minta mainan terus" ucap Dita.
"Sekali ini tidak apa-apa ya Dit, aku tidak mau merusak kebahagiaan Xander hari ini" jawabnya untuk membujuk Dita.
Dita langsung memasang wajah kesalnya. Ia selama ini sudah mendidik Xander untuk hidup sederhana tanpa neko neko, ia takut Xander menjadi semena-mena dengan materi.
__ADS_1
Mas Ryan tahu Dita sedang kesal padanya. Di tariknya tangan Dita ke dalam genggamannya.
Di lepaskan oleh Dita. Di tariknya lagi dengan cepat, dan lagi-lagi di lepaskan oleh Dita. Di tarik kembali oleh Mas Ryan dan kini di genggamnya dengan erat kemudian di kaitkannya ke pinggang agar tidak lepas. Dita yang kesal kini tersenyum karena ulah manis Mas Ryan. Dalam hatinya terbersit rasa bahagia.