
Mas Ryan terlihat gelisah menunggu Dita yang sejak tadi tak kunjung keluar dari ruang sidang. Sambil menggendong Xander yang tertidur ia pun mondar mandir karena khawatir. Ia takut jika sidang akhir Dita tidak berjalan lancar.
Ia tahu betapa besarnya perjuangan Dita dalam menyelesaikan kuliahnya, ditambah lagi sambil mengurus anaknya namun harus fokus belajar.
Dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, sudah tiga jam lebih Dita di dalam ruangan sidang. Ia makin tak tenang kini.
Sesekali di intipnya ke dalam ruangan melalui kaca yang sedikit terbuka di bagian pintu ruangan. Terlihat suasana yang kian serius dan mencekam.
Dita yang sedang sidang akhir, namun jantung Mas Ryan yang seperti mau copot rasanya. Sejak tadi ia berdoa agar Dita bisa menjelaskan hasil penelitiannya dengan lancar serta bisa menjawab semua pertanyaan pengujinya.
Tiba-tiba terdengar bunyi 'jeglek' dari pintu ruangan. Terlihat Dita yang keluar dengan mata sembab dan berurai air mata. Hati Mas Ryan tak karuan melihatnya, 'apa sesuatu yang buruk telah terjadi?' pikirnya.
Mas Ryan segera berlari mendekati Dita yang masih menangis, "Bagaimana hasilnya?" tanyanya penasaran.
Dita masih terus saja menangis bahkan kini mulai terisak. Mas Ryan makin khawatir, "Kamu kenapa? Bagaimana hasilnya?" tanyanya lagi.
"Aku lulus Mas" jawab Dita di sela isak tangisnya.
__ADS_1
Mas Ryan spontan memeluk Dita dengan perasaan bahagia. Ternyata Dita menangis karena terharu dan bahagia atas kelulusan sidangnya.
Dita mencium Xander yang tengah tertidur dalam gendongan Mas Ryan. Ini bukan hanya tentang perjuangannya sendiri, tapi perjuangannya bersama Xander.
Mas Ryan mencium lembut kening Dita, "Selamat ya, aku bangga padamu, kamu hebat", ucapnya.
Dita hanya mengangguk dan tersenyum, pipinya bersemu merah karena ciuman dari Mas Ryan yang mendarat di keningnya.
***
Terlihat Dita yang sedang mengemas beberapa bukunya ke dalam kotak. Sepertinya ia sedang mencicil untuk membereskan barang-barangnya sebelum minggu depan pulang ke Indonesia.
Sebenarnya ia sedang berusaha untuk bisa memperpanjang masa tinggalnya di Singapura, karena jika pulang ke Indonesia pasti Mas Ryan tidak akan membiarkan dirinya dan Xander untuk tinggal di tempat lain kecuali di rumah Mas Ryan.
Ia belum menjawab tentang permintaan Mas Ryan soal menikah. Jujur ia belum bisa benar-benar menganggap semua ini sudah baik-baik saja. Apa yang ia rasakan tidak se-simple kelihatannya. Masih ada trauma yang membekas di hati dan pikirannya.
Hari ini Mas Ryan kembali lagi ke Singapura setelah satu minggu kemarin pulang ke Indonesia karena pekerjaannya. Tiap sebentar Xander merengek untuk video call dengan papanya. Mas Ryan kembali karena Xander juga meminta papanya untuk segera ke Singapura lagi. Tapi sepertinya ada alasan tersembuyi di baliknya, apalagi kalau bukan untuk mendapatkan hati Dita kembali.
__ADS_1
'tok tok tok'
Kemudian terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu flat Dita.
Dita buru-buru membukanya, terlihat Mas Ryan yang tengah berdiri di sana, "Aku kira kamu tidak akan tiba secepat ini Mas".
"Aku ambil pesawat pagi biar bisa cepat sampai sini" ucap Mas Ryan sambil melangkah masuk.
"Lho, Xander mana?" tanyanya sambil celingak-celinguk.
"Masih di daycare Mas,tadi pagi aku ada urusan sebentar" jawab Dita.
Dita kembali berkutat pada buku-buku yang tadi sedang di kemasnya.
Mas Ryan terlihat sedang membuka sepatu sneakersnya dan duduk di samping Dita yang sedang memilah bukunya.
Dita pun otomatis salah tingkah. Hanya berdua Mas Ryan di flatnya, biasanya pasti ada Xander namun kini tidak.
__ADS_1