
"Apa yang bisa aku kerjakan nih?" tanya Dokter Aldy sambil melihat-lihat meja yang penuh dengan adonan kue.
"Serius nih kamu mau bantuin?" tanya Dita yang masih ragu.
"Ya serius lah, gini-gini aku jago lho" jawab Dokter Aldy dengan yakin.
"Jago apa?" tanya Dita serius.
"Jago makan" jawab Dokter Aldy yang iseng sambil tertawa.
Tawa mereka pun memenuhi dapur Dita.
"Gini nih" ujar Dita sambil mengambil adonan dan menjelaskan pada Dokter Aldy.
__ADS_1
"Adonannya kamu pipihkan dulu seperti ini, terus kalau udah pas ukurannya selanjutnya kamu tabur bubuk cinnamon di atasnya, lalu digulung seperti ini, nah bagus kan?" jelas Dita.
Dokter Aldy mengangguk paham dan tidak sabar ingin mencoba. "Seru juga ya Dit ternyata bikin kue. Aku suka sekali dengan kue bikinan kamu ini. Kemarin pas di ulang tahun klinik aku makan banyak kuenya. Ga rela aku kalau kehabisan" ucapnya sambil memipihkan adonan.
"Ngomong-ngomong aku kira kemarin itu kamu langsung yang mengantar pesanan aku, ternyata abang-abang ojek online" ucapnya lagi dengan nada sedikit kecewa.
Dita hanya terbahak mendengar kekecewaan pelanggannya itu.
"Eh Dit ngomong-ngomong kamu suka bikin kue dari kapan?" tanyanya lagi kali ini sambil menggulung kue pertamanya.
"Sampai sekarang kamu masih sering membantu mama kamu?" tanyanya menelisik.
"Kalau mamaku masih ada mungkin 'iya', tapi sekarang mamaku sudah tidak ada. Beliau meninggal bersamaan dengan papaku karena kecelakaan" jawab Dita yang sambil memasukkan kue ke dalam oven 70 liter miliknya.
__ADS_1
Dokter Aldy seketika langsung merasa tidak enak hati karena telah menyinggung perihal orang tua Dita yang telah tiada. "Maaf Dit, aku tidak bermaksud" ucapnya sambil memandang Dita.
"Santai saja, tidak apa-apa. Aku sudah ikhlas kok, aku telah mensyukuri hidupku dengan segala lebih dan kurangnya" jawab Dita.
Dokter Aldy semakin salut dengan Dita. Ia salut karena wanita yang sedang berada di hadapannya itu sungguh benar-benar tangguh. Tidak memiliki orang tua, kini dalam keadaaan hamil, tinggal sendirian tanpa suaminya yang tidak tahu kemana karena Dita tidak pernah mau membahasnya, dan kini ia bekerja keras demi kehidupannya.
Tiba-tiba ada noda tepung di wajah Dokter Aldy, ia sedang berusaha menghapusnya. Semakin ia berusaha menghapusnya, semakin banyak tepung yang menempel di wajahnya. Dita terkikik geli melihat adegan di depannya itu, ia malah menambahkan dengan melempar tepung kering ke arah Dokter Aldy.
Dokter Aldy memelototinya kemudian tersenyum jahil. Ia membalas melempar tepung kering ke arah Dita. Dita pun kelabakan dengan pembalasan yang di terimanya. Ia kembali melempar tepung pada sasarannya. Hingga adu tepung pun tak terelakkan dan semakin sengit.
Rona bahagia terpancar jelas dari wajah Dita. Rona yang setelah sekian lama jarang muncul.
Dokter Aldy semakin mundur karena serangan Dita yang maju melemparnya. Tiba-tiba kaki Dita terpeleset tepung yang berserakan di lantai membuatnya menjadi licin. Dengan sigap Dokter Aldy menangkapnya. Keduanya sama-sama terkejut. Dokter Aldy memandang Dita dengan begitu jelas. Sungguh manis, pikirnya.
__ADS_1
Dita tersadar kemudian bangkit dari tangan Dokter Aldy yang menangkapnya. Keduanya terlihat kikuk dan kembali mengerjakan pekerjaanya masing-masing tanpa sepatah katapun hingga semua selesai.
Dita sedari tadi diam tanpa kata. Bercampur perasaan yang kini bergejolak di hatinya. Entah kenapa ia merasa sangat kesal dengan tatapan Dokter Aldy tadi.