Mencintai Suami Wanita Lain

Mencintai Suami Wanita Lain
BAB 48


__ADS_3

Dita keluar ruangan Mas Ryan dengan berurai air mata. Di ikuti dengan tatapan-tatapan karyawan Mas Ryan yang melihatnya. Namun ia terus berlari keluar, ia ingin segera keluar dari situ.


Ketika sampai di lobby, Dita berjumpa dengan Wina yang sepertinya akan menemui mertuanya. Wina berhenti sejenak melinat Dita yang masih menangis.


Kemudian ia tersenyum mengejek. Dita hanya memandangnya dengan sinis.


"Sudah jelaskan semuanya? Akulah pemenangnya," ucap Wina sambil tersenyum puas.


"Sekarang mama sudah tahu perselingkuhan kalian, tapi Mas Ryan sudah tidak punya bukti perselingkuhanku. Jadi jangan harap kamu bisa menjatuhkan aku," lanjut Wina sambil melangkah dan berlalu namun ia mengurungkan niatnya.


"Oh iya, kamu sudah tahukan siapa keluarga Mas Ryan dan siapa keluargaku? Tolong kamu berkaca siapa diri kamu!


Dan satu lagi, jangan salahkan aku atas kejadian ini karena aku sudah pernah memperingatkanmu", ucap Wina kemudian ia benar-benar pergi dan berlalu.


Hati Dita kian sakit saat ini. Ia terpojokkan dan benar-benar hancur. Segera ia berlari menyetop taksi kemudian pergi.

__ADS_1


Wina masuk ke dalam ruangan Mas Ryan melihat semua orang sedang kacau. "Ma, ayo kita pulang ke rumah dulu," ucapnya sambil memegang lengan ibu mertuanya.


"Antarkan mama ke bandara, mama akan langsung pulang. Dan ingat Ryan, mama dan papa menunggu penjelasanmu di kalimantan segera," ucap Ibu Mas Ryan. Wina dan Novia pun memegang lengannya dan keluar ruangan Mas Ryan.


***


Sesampainya di apartemen, Dita segera mengambil kopernya. Ia memasukkan beberapa baju dan berkas-berkas pentingnya. Kemudian ia memesan taksi online.


Ditemuinya Bi Pur yang sedang berada di dapur, "Bi Pur, saya pergi dulu. Ini saya titipkan kunci mobil. Nanti teman saya yang bernama Dimas yang akan mengambil. Tolong Bi Pur berikan padanya".


Tiba-tiba taksi online yang di pesannya menelepon, "Oke, tunggu saya di depan, saya turun sekarang. Saya pakai baju warna hijau", jawab Dita yang belum sempat menjawab pertanyaan Bi Pur.


Setelah menerima telepon, ia membuka kartu sim dari ponselnya kemudian menyimpannya. Ia meninggalkan ponselnya di atas meja, kemudian memeluk Bi Pur sejenak dan berlari pergi.


Tinggallah Bi Pur yang bingung dan khawatir. Ia segera menghubungi Mas Ryan namun tidak di angkat. Ia semakin gelisah karena Dita pergi membawa koper seperti tidak akan kembali lagi. Di tambah lagi ia masih belum bisa menghubungi Mas Ryan guna memastikan keadaan Dita.

__ADS_1


Tak lama tiba-tiba pintu apartemen terbuka. Tampak Mas Ryan datang dengan tergesa-gesa. "Bi Pur, Dita ada pulang ke sini?" tanya Mas Ryan.


"Ada Pak, tapi Bu Dita buru-buru. Ia bawa koper segala Pak, saya tanya mau kemana tapi tidak di jawab" jelas Bi Pur dengan gemetaran.


"Tadi Bu Dita juga menitipkan kunci mobil Pak, katanya temannya yang bernama Dimas nanti akan mengambilnya", lanjut Bi Pur yang masih panik sambil menyerahkan kunci mobil pada Mas Ryan.


Mas Ryan langsung masuk ke dalam kamar, ia lihat baju Dita sebagian sudah kosong. Ia terduduk lemas, "Dita, kemana kamu sayang?" tanyanya sambil meneteskan air mata.


Ia pun bangkit dan merogoh kantong untuk mengambil ponselnya. Ditekannya sebentar kemudian ditempelkan di telinganya.


"Pak, ponsel bu Dita di sini," tunjuk Bi Pur pada ponsel Dita yang tergeletak di atas meja.


"Tadi kartu simnya diambil dan ponselnya di tinggal Pak", lanjut Bi Pur.


Ryan semakin lemas dan kehabisan akal. Ia pun segera pergi tanpa berpamitan pada Bi Pur. Dinyalakannya mobilnya dan di kemudikannya sambil melihat-lihat kanan dan kiri. Ia berkeliling dan terus mencari Dita.

__ADS_1


"Sayang, kamu dimana? pulanglah sayang, aku mohon", rintih Mas Ryan sambil menangis.


__ADS_2